Lomba Display: Sarana Motivasi Tutor PAUD dalam Berkreasi dan Memupuk Rasa Nasionalisme

Momen Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT-RI) memang dimanfaatkan baik oleh seluruh masyarakat Indonesia. Beberapa kegiatan unik dan menarik yang menandakan perjuangan para pahlawan tersebar di seluruh penjuru daerah. Panjat pinang, Lomba kerupuk, lomba karung serta lomba-lomba lain yang menjadi hiburan masyarakat seakan sudah menjadi tradisi tahunan. Hal tersebut tidak lain bertujuan untuk memupuk rasa nasionalisme setiap masyarakat yang berada di penjuru Indonesia.

Memang tidak ada salahnya mengadakan kegiatan seperti itu. Tetapi, apa pernah terbayangkan ketika memupuk rasa nasionalisme hanya dirayakan ketika pada tanggal 17 Agustus saja. Perayaan yang cukup besar dan ramai, tetapi hilang secara cepat juga. Karena rasa nasionalisme itu harus terus dipupuk setiap harinya.

Itulah yang terpikir dari relawan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI-DD). Meskipun perayaan Hari Kemerdekaan sudah meredup, mereka tetap berusaha mengadakan kegiatan-kegiatan positif yang bertujuan untuk memupuk rasa nasionalisme di perbatasan. Setelah beberapa Minggu yang lalu (12/8) mereka mengadakan pelatihan display sebagai salah satu cara dalam meningkatkan kreativitas yang ditutup dengan perlombaan display, guru-guru cukup disibukan selama 3 Minggu dalam membuat display yang akan mereka perlombakan.

“Perlombaan Display ini merupakan hasil evaluasi setelah sebelumnya kami mengadakan pelatihan untuk Tutor-tutor dan pengelola PAUD.” Tutur Dena selaku ketua tim SGI Nunukan. Dena juga menyebutkan, perlombaan display ini selain melihat kreativitas guru-guru, bertujuan juga untuk memupuk rasa Nasionalisme Tutor-tutor serta siswa-siswa di Paud nya masing-masing. Pasalnya lomba display ini bertema tentang Nasionalisme di Perbatasan.

Kegiatan yang dilaksanakan di PAUD Al-Furqan Kallas yang berada di Kilo empat Kecamatan Sebuku ini berlangsung meriah. 10 lembaga Paud dan TK se- Kecamatan Sebuku dan Tulin Onsoi ini bersaing secara sehat dalam memperubutkan 3 gelar juara. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 1 September ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan UPTD Kecamatan Sebuku.

“Kita sangat berterimakasih kepada sekolah guru Indonesia yang telah memberikan banyak ilmunya, terutama ilmu-ilmu modern yang belum pernah guru-guru dapatkan sebelumnya.” Tutur Bapak Stevanus selaku Kepala Tata Usaha UPTD Kecamatan Sebuku. Bapak Stevanus juga menyebutkan bahwa tutor PAUD di daerahnya sama sekali belum pernah mendapatkan pelatihan, mereka bisa mengajar PAUD hanya dari pengalaman saja dan melihat kepada tutor yang lain. Oleh karena itu, dengan adanya Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa ini, kami merasa terbantu dalam peningkatan mutu pendidikan yang berada di sebuku dan tulin onsoi. Harapan beliau juga, Guru-guru SGI ini bisa terus memberikan banyak ilmunya kepada para pendidik yang ada di sebuku dan tulin onsoi, terutama dalam pelaksanaan kelembagaan PAUD.

Di akhir kegiatan, diumukan tiga juara display se Kecamatan Sebuku dan Tulin Onsoi. Alisius (Pengawas TK-SD), Asyari (Team Monitoring SGI) dan Dena (Pemateri Display) merupakan 3 orang yang diamanatkan menjadi juri dalam pelaksanaan perlombaan yang cukup ketat ini. Mereka cukup bijak dalam menentukan pemenang.

“Sebenarnya kami sulit menentukan mana yang terbaik, tetapi karena kriteria penilaiannnya cukup jelas, maka didapatkan beberapa nama Terbaik dari yang baik.” Tutur Asyari yang menjadi salah satu juri Display. Ketiga juri tersebut memutuskan juara juara display tersebut. Untuk juara ketiga diraih oleh PAUD Al-Ikhlas, juara kedua oleh TK-Makarti dan juara pertamanya diraih oleh tuan rumah penyelenggara lomba display yaitu PAUD Al-Furqan Kallas.

Mereka sangat termotivasi dengan adanya kegiatan ini. “Lebih dari satu minggu kami membuat display ini, kami membuat dengan melibatkan anak-anak didalam pelaksanaan pembelajaran”, Tutur Amrino selaku pengelola PAUD Al-Furqan.

Memang sekarang ini sudah seharusnya kita merubah cara berpikir dalam mengadakan kegiatan-kegiatan memperingati HUT-RI. Jangan sampai perayaan-perayaan yang menegeluarkan biaya yang sangat besar hanya menyisakan kesenangan-kesenangan yang hanya sesaat tanpa ada hasil dan manfaat yang diperoleh. Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, bisa menjadi cerminan dan gambaran dalam memperingati HUT-RI yang bermanfaat terutama dalam perkembangan pendidikan, khususnya di wilayah Kabupaten Nunukan. Sebuah kegiatan sederhana yang tidak memerlukan banyak biaya, tetapi jelas perubahan yang dapat dirasakan. Terutama oleh Tutor serta pengelola PAUD yang berada di wilayah kecamatan Sebuku dan Tulin Onsoi.

Menyemai Sekolah Bintang untuk Negeri

Jum’at, 28 Agustus 2015, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengadakan pelatihan di SDN Sawangan 01 Depok dengan tema menyemai sekolah bintang untuk negeri, pelatihan yang digelar selama dua hari (28-29 Agustus 2015) menyajikan materi School Strategic Discussion (SSD) dan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM).

Program pelatihan ini merupakan lanjutan dari program renovasi dan pendampingan sekolah kerjasama dengan Hypermart, Foodmart dan Boston Selama dua hari guru SDN Sawangan 01 dipandu oleh tim Trainer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa

“Tujuan dilakukan pelatihan ini adalah upaya Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar yang bertujuan akhir pada peningkatan prestasi siswa” ungkap Abdul Kodir selaku Koordinator Pengembangan Sekolah Urban Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Di hari pertama di sesi School Strategic Discussion peserta mendapatkan motivasi tentang pentingnya profesi guru dan tanggung jawab guru dalam memberikan perubahan untuk bangsa ini melalui kelas ajar masing-masing. Di hari kedua peserta pelatihan mendapatkan materi tentang bagaimana menerapkan pembelajaran aktif dan menyenangkan yang dikemas dalam materi strategi pembelajaran aktif.

“Saya merasa senang berada dipelatihan ini dan menyerap banyak informasi yang bisa saya terapkan di dalam kelas” ungkap Bapak Syafruddin guru SDN Sawangan 01 Depok. Lain dengan Pak Syafrudin, Bu Nenden merasa pelatihan ini tidak hanya mendapatkan ilmu saja tapi juga diselingi dengan permainan-permainan yang bikin menyenangkan.

Selain di SDN Sawangan 01 Sawangan Depok, pelatihan serupa juga sudah terlaksana di 7 kota lainnya yaitu Bogor, Tangerang, Bekasi, Cianjur, Pontianak, Pekanbaru dan Batam. Setelah mendapatkan pelatihan tersebut guru juga mendapatkan bimbingan untuk menerapkan hasil pelatihan di kelas-kelas selama program berlangsung yaitu selama enam bulan. Harapannya dengan program pendampingan ini, ada perubahan yang baik di setiap kelas ajar sekolah dampingan yang akan berdampak baik untuk perubahan kualitas pendidikan di Indonesia. (odi)

Madrasah (Bukan) Pilihan

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

SEBANYAK 725 gedung madrasah di wilayah provinsi Banten dalam kondisi rusak berat, sementara ada sekitar 520 unit gedung madrasah dalam kondisi rusak ringan. Demikianlah penggalan berita yang dituliskan di laman media online, antarabanten.com, 19 Januari 2015.

Selang tiga bulan berikutnya, indopos.co.id menuliskan berita “Akibat dana BOS tersendat, fasilitas madrasah kian memburuk”. Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) yang seharusnya diturunkan setiap tiga bulan sekali, namun setelah tiga bulan dana tersebut tak kunjung cair. Akibatnya bukan hanya masalah fisik sekolah yang dirugikan, namun kinerja guru pun terkena dampaknya. Sebagian besar dana BOS juga digunakan untuk membayar honor guru.

Dua pemberitaan di atas menempatkan madrasah sebagai sekolah yang terpinggirkan. Mengapa demikian? Sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia, banyak orang tua menyekolahkan anak-anaknya, pertama yang dilihat lebih dulu adalah bangunan sekolahnya. Apakah cukup nyaman buat anak-anaknya sekolah?

Kedua, kualitas gurunya dengan melihat metode pembelajaran yang diberikan. Namun biasanya, point kedua ini tidak terlalu dipedulikan oleh sebagian besar orang tua kelas menengah. Alhasil, madrasah sebagai lembaga formal pendidikan yang kurang mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Karena kurangnya apresiasi dari masyarakat, akhirnya madrasah pun lekat dengan sekolah bagi anak-anak yang terpinggirkan.

Madrasah dari Masa ke Masa

Sistem pendidikan nasional membedakan antara sekolah dan madrasah. Sekolah dikenal sebagai lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah yang kurikulumnya menitikberatkan pada mata pelajaran umum, dan pengelolaannya berada di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional.

Sedangkan Madrasah dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan tingkat dasar dan menengah yang lebih menitikberatkan pada mata pelajaran agama, dan pengelolaannya menjadi tanggungjawab Kementrian Agama. Kata Madrasah sendiri diambil dari bahasa Arab yang merupakan isim makan dari darasa-yadrisu. Madrasah mengandung arti tempat, wahana anak mengenyam proses pembelajaran.

Pendidikan agama Islam di Indonesia sudah ada sejak zaman kolonial Belanda. Sejak pemerintah Belanda menyatakan politik etis maka masyarakat Indonesia yang disebut pribumi memiliki kesempatan yang luas untuk bersekolah, terutama di sekolah pendidikan rendah. Pada tahun 1907 atas perintah Gubenur Jenderal Van Heutz, didirikanlah sekolah-sekolah desa. Memasuki abad ke 20, lahirlah sekolah kelas satu, sekolah kelas dua, dan sekolah desa.

Sayangnya, sekolah-sekolah yang dibangun oleh Kolonial Belanda pada masa itu belum seimbang dengan populasi penduduk di Indonesia. Ditambah lagi dengan rendahnya penghasilan masyarakat Indonesia pada masa itu, sehingga sangat sedikit kalangan bumiputera untuk melanjutkan sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda.

Adanya kondisi yang seperti itu, maka masyarakat pribumi pada masa itu memerlukan pendidikan alternatif, egaliter, dan merakyat. Lahirlah pendidikan di pesantren, surau dan dayah. Sebagian masyarakat Indonesia adalah muslim, maka banyak anak-anak pada masa itu disekolahkan melalui pendidikan tersebut. Metode belajar yang digunakan masih individual, ceramah dan hafalan. Sarana belajar seperti meja, kursi, papan tulis dan ruangan kelas belum ada.

Disimpulkan bahwa abad ke 19, terdapat dua lembaga pendidikan yakni sekolah umum (milik Belanda) dan pesantren. Sekolah umum mengajarkan ilmu umum, Pesantren mengajarkan ilmu agama. Akhirnya, kedua lembaga ini memiliki output yang berbeda. Menjelang akhir abad ke 19 muncullah sistem pendidikan umum dan sistem pendidikan agama. Hingga kini kita mengenalnya sekolah dan madrasah.

Seiring dengan berjalannya waktu, melalui SKB menteri tahun 1975 madrasah mulai diakui sebagai lembaga pendidikan yang setara dengan sekolah umum. Selain itu, UU Sisdiknas Nomor 2/1989. madrasah diakui sebagai sekolah umum berciri khas agama Islam. Atas kedua momentum tersebut madrasah hingga kini masih eksis. Pertanyaan kritisnya, sejauh manakah eksistensi madrasah saat ini? Terutama madrasah tingkat dasar atau disebut madrasah ibtidaiyah. Bicara eksistensi, ada dua point utama yang perlu disoroti yakni kualitas dan fasilitas.

Menepis Label Buruk Madrasah

Label madrasah sebagai sekolah bagi anak-anak terpinggirkan jauh lebih lekat. Terpinggirkan dari sekolah-sekolah umum dengan berbagai sebab. Daripada anaknya tidak sekolah, akhirnya orang tua memilih madrasah. Hal ini pun sejalan dengan ungkapan seorang pemangku kepentingan di Jurangmangu, Tangerang Selatan “Madrasah sebagai tempat bagi anak-anak yang tidak diterima di sekolah negeri”.

Ungkapan di atas memberi kesan, madrasah bukanlah sekolah pilihan utama bagi para orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Madrasah dipilih bukan karena pembelajaran agama lebih banyak. Madrasah dipilih agar anak-anaknya tidak putus sekolah. Hal ini terjadi bisa saja karena kualitas madrasah yang kalah bersaing dengan sekolah umum. Atau bisa saja karena fasilitas yang dimiliki madrasah lebih minim dibandingkan dengan sekolah umum. Lalu, bisakah madrasah bersaing dengan sekolah umum terbaik di negeri ini? Bagaimana cara madrasah meningkatkan kualitasnya?
Laporkan iklan?

Kementerian Agama baru-baru ini launching program 24 T untuk peningkatan mutu madrasah. Program tersebut menetapkan 3 komponen utama untuk menguatkan mutu pendidikan. Pertama, peningkatan kompetensi 1.200.000 guru madrasah, staf pendukung, manager, dan personil penjamin mutu. Kedua, memberi bantuan kepada 45.000 madrasah untuk memenuhi standar nasional pendidikan dan standar pelayanan umum. Ketiga, melakukan rehabilitasi lebih dari 110.000 ruang kelas yang rusak, fasilitas khusus untuk pendidikan inklusif, dan bantuan teknis yang berkualitas tinggi. Program ini diharapkan 5 tahun mendatang madrasah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dipilih masyarakat karena bermutu dan lebih baik.

Ikhtiar Madrasah Memikat Masyarakat

Apa yang dipaparkan oleh kemenag diatas tentulah perlu diapresiasi. Hanya saja kita juga perlu mengkritisi untuk memastikan desain tersebut tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan madrasah saat ini. Komponen pertama kemenag fokus pada peningkatan kompetesi guru dan kepala sekolah. Umumnya peningkatan kompetensi dilakukan melalui pelatihan guru. Akan menjadi sia-sia, apabila pasca pelatihan tidak dilakukan pendampingan intensif.

Sudah banyak kegiatan pelatihan yang diberikan, sampai-sampai guru mendapat julukan “pemburu sertifikat” karena sertifikat pelatihan menjadi salah satu dokumen penting dalam perolehan sertifikasi guru. Banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, namun nyatanya belum cukup meningkatkan kompetensi guru? Menguap kemanakah materi pelatihan tersebut?

Agar tidak sampai menguap jauh maka pendampingan intensif untuk guru dari kepala sekolah dan pengawas juga perlu dilakukan. Pastinya dalam membuat desain pelatihan, sudah jelas tujuan kompetensi yang ingin dicapai. Sebelum desain pelatihan dibuat, tidak ada salahnya tim dirjen pendidikan Islam melakukan assessment di beberapa madrasah. Tujuan assessment untuk mencari sejauh manakah kompetensi saat ini yang dimiliki oleh guru-guru madrasah. Dan seberapa besar gap antara kompetensi ideal dan kompetensi yang dimiliki. Maka materi-materi pelatihan fokus pada kesenjangan tersebut.

Lanjut, materi-materi pelatihan tersebut diklasifikasikan kemudian dibuatkan masa kadaluarsanya. Maksud kadaluarsa disini yakni berapa lama pasca pelatihan, materi tersebut diimplementasikan? Selama guru mengimplementasikan pengetahuannya pasca pelatihan, kewajiban kepala sekolah dan pengawas untuk melakukan monitoring dan evaluasi berkala terhadap guru tersebut sehinggapeningkatan kompetensi guru pasca pelatihan dapat terdefinisikan.

Optimalisasi peran kepala madrasah menjadi point penting perubahan madrasah. Selama ini tugas utama kepala madrasah tergerus oleh tugas-tugas administratif. Kepala madrasah melupakan bahwa tanggung jawab utama setelah educator yakni manajer baru terakhir administrator. Ingat rumusan P-O-A-C-E: Planning, Organizing, Actuating, Controlling, dan Evaluating.

Inilah tugas utama seorang manajer. Harus handal dalam membuat perencanaan, lalu rencana tersebut dikelola dengan baik melalui distribusi tugas, pembagian tanggung jawab kepada tim, dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan baik kepada semua guru. Kemudian dikontrol proses berjalannya aktivitas tersebut melalui rapat rutin, RPP guru diverifikasi dan ditandatangani, observasi kelas, dan memberikan penilaian perfoma guru. Tugas terakhir yakni melakukan evaluasi berkala minimal 2 kali per semester.

Tidaklah sulit bagi kemenag untuk “melahirkan kembali” kepala madrasah yang bagus apabila tim penjamin mutu madrasah juga ditingkatkan kompetensinya. Saran terbaik agar mutu madrasah meningkat, kemenag perlu melakukan analisa tahapan. Apakah guru-gurunya yang diberesi kompetensinya terlebih dahulu atau kepala madrasahanya lebih dulu atau tim penjamin mutunya terlebih dahulu atau ketiganya dilakukan bersamaan. Apapun teknis implementasinya, yang paling penting adalah pendampingan intensif jangka panjang dan terukur untuk guru dan kepala madrasah juga perlu didesainkan.

Tidak bisa dipungkiri, bangunan fisik beserta sarana penunjangnya tetap menjadi daya pikat para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Komponen kedua ketiga yakni memperbaiki ruang kelas yang rusak dan melengkapi sarana penunjang belajar juga perlu diapresiasi. Pastinya, kemenag membutuhkan dana yang tidak sedikit. Andaikan satu ruang kelas yang rusak dana yang dibutuhkan sebesar 150 jutaan, maka 110.000 ruang kelas yang rencananya akan diperbaiki membutuhkan 16 T. Kebutuhan dana yang besar ini, kemenag mengajak kontribusi pemerintah daerah untuk membiayai fasilitas madrasah baik negeri maupun swasta.

Memperbaiki bangunan sekolah yang rusak baiknya juga memperhatikan nilai kenyamanan siswa dalam belajar. Contohya ventilasi udara. Ruang kelas yang panas mengakibatkan siswa menjadi tidak fokus belajar. Maka diperlukan sirkulasi udara yang baik agar suasana kelas tidak terasa panas. Selain itu, tidak ada salahnya cat dinding ruang kelas dipilihkan warna-warna cerah namun tetap nyaman di mata seperti biru laut, hijau daun.

Sarana pelengkap di setiap ruangan yang tidak boleh ketinggalan yakni papan display dan lemari buku beserta buku bacaannya. Papan display digunakan untuk memajang hasil karya siswa agar motivasi belajar siswa meningkat. Lemari buku dan buku bacaannya digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan baca siswa. Jadi tidak ada salahnya di dalam desain perbaikan mutu madrasah, kemenag membuatkan modul standar bangunan fisik dan sarana pelengkapnya khas madrasah.

Eksistensi madrasah yang sudah ada sejak penjajahan Belanda menandakan keberadaannya memiliki peran serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak sampai di situ, dimasa penjajahan Belanda pula, madrasah turut serta menanamkan rasa kebangsaan ke dalam jiwa rakyat Indonesia. Namun kini madrasah kehilangan mutunya. Masyarakat menilai rendah performa madrasah sehingga anak-anak yang sekolah di madrasah adalah anak-anak yang terpinggirkan, anak-anak marginal yang tidak layak di sekolah umum. Semoga semangat perbaikan yang dilakukan oleh kemenag berbuah hasil sehingga madrasah pun kembali mendapat kepercayaan dari masyarakat. Bismillah….[]

Sumber: https://www.islampos.com/madrasah-bukan-pilihan-205125/

Membangkitkan Nasionalisme ala Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan

Dalam rangka memeringati Kemerdekaan RI yang ke-70, Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan menawarkan dua kegiatan seru, berbeda, tanpa menghilangkan unsur terpenting yakni nasionalisme. ‘Merdeka Menurut Kamu’ dan ‘Kuis Ranking 1’ bertajuk “Sang Jawara” menjadi dua kegiatan unggulan yang diusung oleh PSB Makmal Pendidikan, ‘Merdeka Menurut Kamu’ merupakan wadah di mana para pengunjung PSB dapat menuliskan uneg-uneg atau harapan-harapan mereka untuk Indonesia. Sejak hari pertama dibuka peminatnya membludak, puluhan tulisan diterima panitia, namun hanya akan dipilih 5 tulisan terbaik saja dari puluhan tulisan yang masuk.

“Kami ingin agar para pengunjung mampu mengungkapkan harapan dan buah pikiran mereka melalui tulisan, selain menjadi salah satu cara untuk menyalurkan kemampuan menulis ‘Merdeka Menurut Kamu’ juga akan membangkitkan semangat mereka untuk mencintai negara yang sudah berusia 70 tahun ini,” ujar Dian, Koordinator Acara.

‘Ranking 1’ menjadi puncak acara 17-an ala PSB dan dihelat pada Selasa (18/8) di Halaman Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Bertajuk Sang Jawara acara yang diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari guru serta siswa SMART Ekselensia Indonesia, pegawai Lembaga Pengembangan Islami (LPI), dan umum ini menawarkan kemeriahan baru dalam merayakan HUT RI ke-70. Para peserta disuguhi beragam pertanyaan seputar Indonesia dan mereka dituntut untuk menjawab dengan tepat dan cepat. Keriangan dan gelak tawa tak terelakkan selama kuis berlangsung, meriah sekali.

“Kuis seperti ini baru untuk kami dan kami ingin mencari alternatif lain dalam merayakan HUT RI, diharapkan setelah mengikuti kuis ini nasionalisme dan keeratan hubungan antar karyawan, guru, siswa, dan umum semakin erat,” tutup Dian.

Ingin Amanah, Dompet Dhuafa Luncurkan Sekolah Antikorupsi

Dompet Dhuafa (DD) menggandeng Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) dalam peluncuran Pusat Belajar Anti Korupsi dan Program Pencegaan Korupsi Berbasis Keluarga.

“Maraknya korupsi membuat dana yang seharusnya diperuntukan untuk kesejahteraan masyarakat miskin disalahgunakan demi kepentingan pribadi,”kata Presiden Direktur DD Ahmad Juwaini, akhir pekan lalu.

Oleh karena itu, ia berharap masyarakat khususnya KPK mendampingi DD agar dapat terus amanah.

“Untuk menguatkan peran seluruh lapisan masyarakat kami memulai aktivitas bersama dalam pusat belajar antikorupsi dan penanaman nilainnya kepada keluarga di Desa Jampang, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor,” harapnya.

Komisioner KPK Adnan Pandu Prajamenjelaskan, kemiskinan masih melanda di Indonesia karena sejak negara didirikan, korupsi sudah biasa dipraktekkan.

KPK menerima laporan setiap tahunnya lebih dari 8.000 terlapor. Namun, hanya 75 kasus yang bisa ditindak.

“Kami berharap, DD ikut membina masyarakat agar tak melakukan korupsi dan kembali lurus ke jalan Allah,” imbuh Adnan

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/wakaf/15/04/29/nnk0cl-ingin-amanah-dompet-dhuafa-luncurkan-sekolah-antikorupsi

Luar Biasa! Seluruh Anak Dhuafa dari Sekolah ini Masuk PTN

Tak dapat dipungkiri, bahwa mengenyam pendidikan tinggi merupakan impian setiap anak bangsa. Namun tak jarang berbagai faktor pembatas menjadi jurang pemisah antara impian dengan realita. Sebut saja salah satunya kemiskinan. Ketidakmampuan secara finansial, seringkali menjadi alasan anak-anak Indonesia mengurungkan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Atau adanya tuntutan untuk membantu finansial keluarga, memaksa anak-anak yang belum cukup umur untuk turut menanggung beban pekerjaan dengan penghasilan yang tidak seberapa.

Dompet Dhuafa, melalui program SMART Ekselensia Indonesia memberi ruangbagianak-anakdhuafa dariseluruhpelosoknusantara yang memilikipotensi kecerdasan di atas rata-ratauntuk dapat mewujudkan mimpinya melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi.

SMART Ekselensia Indonesia adalah sekolah unggulan, akselerasi (SMP-SMA) 5 tahun, berasrama, memiliki siswa dhuafa dari seluruh wilayah Indonesia. Sejak berdiri tahun 2004, SMART telah meluluskan 7 angkatan. Seluruhnya, 100% lulusan sekolah ini diterima di Perguruan Tinggi Negeri.

“Kami ingin membuktikan bahwa dana yang terkumpul dari masyarakat melalui Dompet Dhuafa telah berbuah positif mengantar anak-anak dhuafa ke depan gerbang cita-citanya”, Ujar Jahidin Zey selaku Marketing Komunikasi Pendidikan Dompet Dhuafa.

Tahun 2015 ini, SMART Ekselensia Indonesia meluluskan 35 orang. Lulusan tersebut tersebar di berbagai Perguruan Tinggi Negeri bergengsi di Indonesia, sebut saja Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Pertanian Bogor, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Pendidikan Indonesia.

Jahidin pun mengajak masyarakat Indonesia untuk bahu membahu membantu anak-anak dhuafa untuk dapat berkesempatan mengenyam pendidikan yang lebih baik, salah satunya melalui program SMART Ekselensia Indonesia.

“Karena pendidikan adalah tanggungjawab bersama, maka kami mengajak masyarakat Indonesia untuk memastikan anak-anak dhuafa di pelosok-pelosok Indonesia mampu bangkit melalui pendidikan yang lebih baik.” Pungkas Jahidin. (WAD)

Sumber: http://koranbogor.com/luar-biasa-seluruh-anak-dhuafa-dari-sekolah-ini-masuk-ptn/

Cinta Kasih Kepada Sesama

Kegelisahan terhadap realitas pendidikan di Indonesia mendorong Andi Angger Sutawijaya untuk mengambil inisiatif membangun Komunitas Filantropi Pendidikan. Lulusan Jurusan Agrobisnis di Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, tersebut pada 2012 langsung bergerak dengan sejumlah program filantropi.

Program-program tersebut lahir dari kebutuhan nyata di lapangan. Organisasi sosial Dompet Dhuafa, tempat sebagian teman-teman Andi sudah lebih dahulu bergabung, turut membantu pada masa-masa awal itu.

Mereka sepakat bahwa persoalan pendidikan yang relatif kompleks, seperti infrastruktur sekolah, ketersediaan buku, dan keberadaan guru, membutuhkan perhatian serius dari seluruh masyarakat. Masalah pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah, organisasi nonpemerintah, maupun masyarakat.

“Maka, mengapa tidak kita bikin saja gerakan yang lebih luas,” ujar Andi menjelaskan tentang latar belakang dibentuknya Komunitas Filantropi Pendidikan.

Maka, kemudian ditahbiskanlah Komunitas Filantropi Pendidikan sebagai kerangka gerakan yang lebih universal dan tidak partisan. Filantropi, atau cinta kasih kepada sesama.

Kabupaten Kepulauan Sangihe di Sulawesi Utara menjadi tujuan awal mereka pada mula-mula komunitas itu berdiri. Pada masa itu, mereka masih berada dalam satu program bersama Dompet Dhuafa, sebelum kemudian benar-benar mandiri sebagai gerakan yang berdiri sendiri.

Bagi Andi dan sebagian rekannya, melakukan gerakan tersebut tidaklah benar-benar baru. Pasalnya, sejak dia kuliah, mereka memang kerap dirangsang untuk membuat sejumlah program guna memecahkan persoalan di tengah masyarakat dengan basis agrobisnis.

Buku bacaan

Pada masa mengawali Komunitas Filantropi Pendidikan itulah Andi dan rekan-rekannya melihat bahwa kebutuhan buku bacaan di wilayah kepulauan sungguh sangat besar. Ia menyaksikan tatkala seorang anak menangis dan menagih buku yang dijanjikan salah seorang relawan, tetapi lupa terbawa.

Ia juga baru mengetahui bahwa ternyata sumber pengetahuan andalan bagi anak-anak di wilayah kepulauan itu memang hanya buku. Mereka mengetahui sejumlah satwa di wilayah daratan. seperti harimau, dari buku.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat keterbatasan akses informasi. Untuk bisa mengakses lampu penerang listrik pun masih terbatas. “Inilah yang membuat saya percaya bahwa buku masih menjadi kebutuhan utama di daerah kepulauan,” kata Andi.

Hal itu yang kemudian mendasari lahirnya program Gemari Buku atau Gerakan Mencintai Anak Negeri Melalui Buku. Lewat gerakan yang berfokus pada keberadaan anak-anak di wilayah terluar batas geografis Indonesia, diharapkan terjadi transfer pengetahuan secara luas. Program ini diharapkan bisa memunculkan inspirasi, mimpi, dan cita-cita yang beragam bagi anak-anak.

Dalam perkembangan selanjutnya, Andi melihat persoalan untuk bisa memiliki cita-cita, mimpi, dan berjuang untuk menggapainya ternyata butuh perhatian serius. Ia menyaksikan sendiri pada tahun 2013 ada semacam fenomena di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagian anak-anak merasa bingung saat ditanya tentang cita-cita masa depannya.

Sebagian besar mereka menjawab tidak tahu dan sama sekali tidak memiliki gambaran akan menjadi sosok seperti apa nanti kalau sudah besar. Ketiadaan referensi dan contoh nyata untuk mengejar cita-cita dalam hidup menjadi pangkal sebabnya.

Itulah yang kemudian melahirkan program Kelas Cita-cita. Program ini dilakukan dengan mendatangkan sejumlah relawan dengan profesi tertentu. Misalnya fotografer atau seniman. Selama satu hari, para relawan itu akan datang ke sejumlah sekolah dan menceritakan di dalam kelas tentang segala hal yang mereka kerjakan.

Selain itu, terdapat pula program Satu Asa yang merupakan kependekan dari Sejuta Alat Tulis untuk Anak Indonesia. Dukungan terhadap kualitas pendidikan bagi anak-anak pengungsi di daerah bencana dan terpinggirkan di Indonesia menjadi tujuannya. Ini berupa gerakan untuk mengumpulkan alat tulis dan perlengkapan sekolah yang nantinya akan didistribusikan ke lokasi-lokasi bencana atau terpinggirkan tadi.

“Hal tersebut diawali dari letusan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Belakangan ada peristiwa letusan Gunung Kelud di Jawa Timur dan kemudian disusul dengan banjir bandang di Manado,” kata Andi.

Kebutuhan terhadap alat-alat tulis dikenali berdasarkan diskusi dengan sejumlah anggota komunitas relawan lain. Sebelum Komunitas Filantropi Pendidikan memutuskan untuk menjalankan program di sejumlah lokasi tertentu, sangat diperlukan adanya diskusi dengan anggota relawan.

“Harus ada relawan lain yang sebelumnya telah melakukan program dan orang setempat untuk membantu menjalankannya,” ujar Andi. Ia menambahkan, hal itu menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan program dan memberikan jaminan tentang apa yang bakal dilakukan.

Saat ini, komunitas tersebut beranggotakan sekitar 30 orang. Mereka berdomisili di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dengan rentang usia 18-35 tahun. Sebagian besar pekerja profesional, dengan komposisi relatif imbang antara jumlah perempuan dan laki-laki.

Nyaris seluruh kegiatan dan hubungan komunikasi di antara mereka dilakukan lewat jejaring sosial, seperti Instagram, Twitter, dan Path. Markas Komunitas Filantropi Pendidikan di daerah Parung, Bogor. Sementara domisili sejumlah anggota relawan tersebar di Jabodetabek. Oleh karena itu, jejaring sosial menjadi penting untuk mengoordinasikan sekaligus menyebarkan informasi kepada masyarakat.

Informasi yang didistribusikan lewat kanal-kanal media sosial menjadi sedemikian penting mengingat upaya penggalangan dana atau donasi barang, seperti buku dan alat tulis, juga dilakukan lewat kanal tersebut.

Saat ini, sejumlah program kegiatan yang dilakukan berfokus pada sejumlah daerah yang terpinggirkan. Seperti yang baru mereka lakukan di Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, dengan menggandeng salah satu raksasa di bidang industri teknologi informasi.

Selama sepekan, sekitar 2.000 warga suku Bajo yang tinggal di laut yang sulit dalam mendapatkan air bersih menjadi sasaran sejumlah program pendidikan untuk meretasnya. Pada saat-saat seperti itulah, Andi dan anggota Komunitas Filantropi Pendidikan merasakan bahwa cinta kasih dan kedermawanan kepada sesama dengan fokus di bidang pendidikan memang sangat dibutuhkan.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/06/20/Cinta-Kasih-kepada-Sesama-Lewat-Pendidikan

DD Meriahkan Ramadhan Dengan Pesantren Literasi

Literasi telah menjadi perhatian Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa sejak lima tahun terakhir. Berbagai upaya telah dilakukan Makmal Pendidikan dalam rangka meningkatkan kemampuan literasi anak-anak marjinal di Indonesia, bahkan sebagian besar program Makmal Pendidikan diarahkan pada upaya tersebut.

Diantara program unggulan Makmal Pendidikan adalah Pusat Sumber Belajar, yang menjadi pusat pembelajaran literasi terutama menulis, membaca, dan berkomunikasi dengan melaksanakan serangkaian program seperti Kelas Menulis, Gerakan Membaca, Story Telling, dan sebagainya.

Dalam rangka menghidupkan Ramadhan, Makmal Pendidikan menggelar kegiatan PESANTREN LITERASI bertajuk “Berprestasi Bersama Pesantren Literasi”. Kegiatan yang diadakan di lingkungan Yayasan Bumi Pengembangan Insani ini merupakan program untuk meningkatkan kompetensi literasi anak meliputi kompetensi membaca, menulis, menyimak, dan berbicara, yang disajikan dalam bentuk proses pembelajaran yang interaktif, Islami, dan menyenangkan.

Kegiatan yang berlangsung pada 8-9 Juli 2015 dan diikuti oleh 100 siswa dan siswi kelas IV dari beberapa Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Taman Baca di wilayah Bogor dan sekitarnya ini menawarkan beragam aktivitas menyenangkan namun tetap mengedukasi seperti Kenalan Yuk!, Nonton Bareng (NoBar), Junior Belajar Menulis yang dipandu oleh Kang Dadan, DOKECAN (Dongeng Keren Kak Ocan) yang dibawakan oleh Kak Ozan, Kuis Tebak Gambar, dan ditutup oleh Inbond Literasi.

Kegiatan berlangsung meriah dan menyenangkan karena turut melibatkan karyawan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa dan relawan dari Komunitas Filantropi Pendidikan sebagai pendamping kelompok dan fotografer. (WAD/sbb/dakwatuna)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/07/10/71575/dd-meriahkan-ramadhan-dengan-pesantren-literasi/

Pesantren Literasi 2015

Edulovers!

Untuk meningkatkan kemampuan literasi anak sejak dini, Makmal Pendidikan akan mengadakan “SANRASI (Pesantren Literasi) lho. SANRASI merupakan program untuk meningkatkan kompetensi literasi anak meliputi kompetensi membaca, menulis, menyimak dan bicara, di mana program tersebut disajikan dalam pembelajaran yang interaktif, Islami dan menyenangkan. Pokoknya seru.

Kegiatan ini akan dilaksanakan:

Waktu : Rabu – Kamis, 08 - 09 Juli 2015

Pukul : 10.00 – 17.00

Tempat : Bumi Pengembangan Insani (Ruang aula SMART, Pusat Sumber Belajar (PSB), & Lingkungan BPI)

Lomba Membuat Alat Peraga Pembelajaran

Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan sebagai wadah penyaluran kreativitas mengajak Edulovers untuk mengikuti Lomba Membuat Alat Peraga Pembelajaran yang akan diadakan selama bulan Mei – Juni 2015.

Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Waktu Kegiatan Kegiatan
5 Mei – 30 Mei 2015 Pengiriman berkas lomba
5 Juni 2015 Pengumuman 3 besar
9 Juni 2015 Presentasi karya, pengumuman juara 1,2 dan 3 serta pembagian hadiah

Syarat dan Ketentuan

  • Peserta adalah guru TK/PAUD, SD/MI dan SMP/MTS se-Jabodetabek
  • Peserta ikut bergabung dalam grup Komunitas Guru Media Pembelajaran di facebook, dan follow twitter kami di @MakmalDD
  • Peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) buah alat peraga pembelajaran
  • Alat peraga pembelajaran yang diikutsertakan dalam lomba ini merupakan karya asli bukan jiplakan
  • Alat peraga pembelajaran belum pernah diikutsertakan dalam lomba dan belum pernah dipublikasikan.
  • Peserta mengirimkan berkas lomba berupa :
  • Biodata peserta (nama lengkap, nama & alamat sekolah, alamat rumah, no.telepon/HP & email)
  • Diskripsi proses pembuatan alat peraga pembelajaran: Menjelaskan alat dan bahan yang digunakan, serta cara pembuatan alat peraga pembelajaran
  • Diskripsi cara penggunaan atau pengoperasian alat peraga pembelajaran
  • Melampirkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang relevan dengan alat peraga yang dibuat
  • Dokumentasi : (1) Foto alat dan bahan yang digunakan, (2) Foto cara pembuatan alat peraga pembelajaran, (3) Foto cara penggunaan alat peraga pembelajaran. *foto harus jelas
  • Berkas lomba dapat dikirimkan dalam bentuk hardcopy dan soft copy, dengan cara:

Kirim via pos :
Panitia Lomba Alat peraga pembelajaran Tingkat Nasional
Pusat Sumber Belajar – Makmal Pendidikan
Jl. Raya Parung-Bogor KM 42
Ds. Jampang, Kec. Kemang, Kab. Bogor, Jawa Barat 16310

Kirim via email :
[email protected]

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa: (0251) 8610817, 8610818, 8612044 ext. 31
Nurul Aeni 0878-7056-0257
PSB phone 0815-1007-7684

Kami tunggu partisipasi Edulovers sekalian. Selamat berkreasi!

{fcomment}