Peran Perempuan dalam Memerangi Korupsi

Perempuan memiliki arti penting dalam sebuah keluarga. Ia memiliki lebih dari satu peran dalam satu waktu. Ia menjabat sebagai seorang anak, pelajar atau mahasiswa, mungkin juga sebagai wanita karir, seorang kakak bagi adik-adiknya, seorang istri bagi suaminya, bahkan menjadi seorang ibu yang memiliki kewajiban utama mendidik anak-anak. Menurut Zaim Elmubarok dalam bukunya Membumikan Pendidikan Nilai (2009) berkeyakinan bahwa sentral pendidikan nilai adalah keluarga. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa keluarga adalah tahap pertama lembaga-lembaga penting sosial; dan dalam tingkat yang sangat tinggi, ia berkaitan erat dengan kelahiran peradaban, transformasi warisan dan pertumbuhan serta perkembangan umat manusia. Baik dan buruknya kualitas generasi penerus bangsa, ditentukan oleh kualitas wanita yang melahirkannya.

Ironisnya, seiring dengan munculnya tren persamaan gender membuka peluang dan menuntut perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki. Perempuan kini terlibat aktif berpartisipasi dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan juga pendidikan. Tanpa disadari, partisipasi perempuan dalam hal tersebut membuka peluang-peluang korupsi.

Perempuan kerap kali menjadi korban menjadi korban sekaligus pelaku dalam aktivitas korupsi. Beberapa kasus yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia adalah perempuan menerima uang yang tidak jelas sumbernya yang diberikan oleh suaminya, menerima uang ‘pemulus’ untuk bisnis atau pekerjaan yang digelutinya, meng-halal-kan berbagai cara untuk dapat tampil sempurna di hadapan rekan-rekannya dengan mementingkan material (perhiasan, pakaian, hingga gadget), bahkan hal-hal kecil seperti membayar petugas kecamatan untuk mempercepat proses pembuatan KTP.

“Korupsi merupakan kejahatan yang sangat unik. Korupsi itu kejahatan yang terencana, tidak kasat mata, namun sangat dekat dengan aktivitas keseharian kita,” demikianlah yang disampaikan Johan Budi dalam Seminar yang diselenggarakan komunitas Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) pada 11 Desember 2015 lalu. “Untuk memberantasnya tidaklah mudah. Dibutuhkan komitmen kuat yang didukung oleh lingkungan yang kondusif,” tambahnya.

Sebagai seorang perempuan, sudah sepatutnya berpartisipasi dalam mencegah perilaku korupsi. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain mengajarkan dan mengenalkan anak-anak tentang perilaku korupsi dan bahayanya, membiasakan diri dan keluarga berbuat jujur, menjalankan peraturan sebagaimana meskinya, serta menanamkan rasa senantiasa dalam pengawasan Allah SWT setiap waktu.

Kelas Mendongeng ala Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan

Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi sarana belajar dan pembelajaran bagi siswa SMART Ekselensia Indonesia juga civitas Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD) dan umum. Pada Senin dan Selasa (14 & 15/12) diadakan Kelas Mendongeng bagi para orang tua murid PAUD Pengembangan Insani Dompet Dhuafa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan apa itu dongeng dan pentingnya dongeng bagi anak.

Dian Sumantri diberikan amanah untuk menjadi fasilitator para peserta yang rata-rata ibu muda dalam memahami pentingnya dongeng dalam keseharian anak. Acara dimulai pukul 09.00, kemudian pemateri memperkenalkan dirinya kepada para peserta Kelas Mendongeng. Setelah itu untuk menyamakan persepsi dan rasa antara pemateri dan peserta kelas dongeng, maka pemateri mengajak peserta untuk ice breaking (bermain). Pemateri bercerita dengan menyebutkan beberapa hewan yang telah disepakati dan ketika nama hewan tersebut disebut oleh pemateri ketika bercerita, maka peserta harus berkumpul sesuai dengan jumlah huruf pada hewan yang disebutkan tadi. Kelaspun semakin riuh dengan permainan tersebut dan suasana menjadi cair.

Dongeng pada anak memiliki banyak sekali manfaatnya antara lain bertambahnya kosakata, kedekatan emosi dengan orang tua akan semakin baik, anak akan belajar keterampilan problem solving. Dongeng juga disesuaikan dengan usia kelompok anak, anak usia 0-5 tahun disarankan dibacakan cerita menggunakan buku bergambar dengan sedikit tulisan sedikit dan penuh warna, anak usia 5-8 tahun bisa dibacakan cerita dengan atau tanpa buku (waktu efektif cerita sekitar 10 menit), anak usia 8-12 tahun dibacakan cerita yang lebih kompleks dengan berbagai macam konflik di dalamnya.

Mendongeng ada baiknya diwaktu ketika merasa rileks dan santai, sehingga cerita yang disampaikan bisa diterima dengan baik dengan segala pesan baik di dalamnya. Mendongeng juga perlu persiapan, antara lain cerita harus kita kuasai, intonasi suara harus dilatih, tempo juga dilatih dan selalu me-review kembali cerita yang disampaikan ke anak. Sehingga anak dapat belajar untuk menyampaikan apa saja yang mereka dapatkan ketika orang tuanya bercerita.

Menyehatkan Indonesia dengan Makanan Bergizi

‘Menyehatkan Indonesia dengan Makanan Bergizi’, begitulah tagline acara yang dihelat Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa berkolaborasi dengan Dompet Dhuafa Cabang Jawa Barat dan Sari Roti. Bertempat di Aula Kelurahan Arjuna-Bandung, acara yang diselenggarakan 20 November 2025 ini menghadirkan Lurah Kelurahan Arjuna dan Prof. Dr. Ir. Lilis Nuraida, M. Sc. sebagai narasumber. Acara ini mengupas tuntas seputar pangan bergizi, sehingga mampu menjadi pengetahuan umum yang bisa dimanfaatkan dan diaplikasikan dalam keluarga.

Acara dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dengan membaca do’a, sambutan Lurah Kelurahan Arjuna, pemutaran video company profile Sari Roti, dilanjutkan dengan bincang cerdas mengenai pangan yang bergizi. Dalam sambutannya Pak Iji menyatakan bahwa makanan dengan gizi yang baik membuat fisik dan mental kita menjadi lebih baik.

Dalam pemaparannya, Ibu Lilis Nuraida menyampaikan lima kunci pengendalian keamanan pangan antara lain menjaga kebersihan, memisahkan pangan mentah dari pangan matang, memasak dengan benar, menyimpan pada suhu yang aman, gunakan air dan bahan baku yang aman.

“Pangan yang aman adalah pangan yang tidak menyebabkan keracunan atau penyakit bila dikonsumsi, serta bebas dari bahaya fisik, biologis, dan kimia,” pungkasnya.

Tak Sekadar Memperbaiki

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat pada 2012 ada 153.036 unit ruang kelas yang mengalami kerusakan. Untuk memperbaiki kerusakan yang dialami tiap unit ruang kelas tersebut, pemerintah sudah menganggarkan dana sebesar Rp 20,4 Triliun. Pemerintah menargetkan akhir tahun 2013 semua kerusakan sudah rampung diselesaikan.

Pemerintah menyadari bahwa kenyamanan lingkungan belajar bagi peserta didik sangatlah penting. Apa yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan bukti komitmennya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak didik. Tidak hanya sampai disitu, pemerintah juga mengajak pihak swasta terutama perusahaan untuk turut serta merevitalisasi bangunan rusak yang ada di lingkungan sekolah dasar.

Niat baik pemerintah untuk memberikan kenyamanan lingkungan belajar bagi anak didik perlu diapresiasi. Namun, sayangnya niat baik ini tidak berbanding lurus dengan fakta yang ada di lapangan. Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun televisi swasta nasional memberitakan bahwa terdapat bangunan sekolah yang ambruk pada bagian atapnya. Sebelumnya juga ada sekolah yang sudah selesai diperbaiki dan direncanakan akan diresmikan, namun bangunannya sudah roboh.

Tidak hanya sampai disitu. Saya punya pengalaman berkeliling ke beberapa sekolah. Sekolah-sekolah yang saya kunjungi, kebetulan mendapatkan bantuan perbaikan ruang kelas dari pemerintah. Namun, belum juga satu tahun usia bangunan tersebut, cat dinding yang ada di ruang kelas sudah mulai memudar. Bagian plafon sudah pecah. Kebocoran bagian atap pun tak bisa dihindari ketika hujan deras mendera.

Melihat kondisi tersebut, timbul kesan bahwa pemerintah tidak total menjalankan komitmennya. Padahal jika pemerintah benar-benar berniat untuk memperbaiki lingkungan belajar, berarti telah menyumbang 25% keberhasilan belajar anak. Lingkungan yang nyaman perlu diciptakan, perlu direncanakan. Seharusnya ketika memperbaiki gedung sekolah yang rusak pun perlu direncanakan dengan matang agar hasilnya pun bisa maksimal dan usia bangunan bisa awet hingga 10 tahun. Bukan hanya “sekadar” memperbaiki dan mengugurkan kewajiban. Wallahu’alam.

Terima Kasih Pak Suroso

Oleh: Rina Fatimah (Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa)

“Rina, setelah lulus SD kamu lanjut sekolah ke mana?” tanya guruku. Pertanyaan terakhir yang masih kuingat sampai sekarang dari sosok guru terbaikku. Pak Suroso, namanya. Guru yang mengajariku sejak kelas 4 hingga aku lulus di SDN 01 Panjang Utara, Bandar Lampung. Fisiknya yang tambun dan suaranya yang besar mungkin bisa membuat anak-anak takut diajarnya. Ternyata salah, pak Suroso bagiku sosok yang penyabar, bersahaja, dan lembut terhadap anak-anak. Mengapa aku simpulkan demikian? Karena hingga hari ini, aku mencoba untuk bernostalgia kembali dimasa SD, tak ada satu pun peristiwa yang membekas yang menunjukkan peringai buruk dari beliau. Aku hanya bisa mengingat kebaikannya, senyumnya, dan suaranya. Sesekali beliau suka meletakkan salah satu tangannya di pinggang, tapi bukan marah. Gaya tolak pinggang beliau manandakan beliau tengah asyik ngobrol dengan salah satu rekan kerjanya.

Aku paling senang Pak Suroso mengajar di kelas kesenian. Kami diajarkan tangga lagu, membaca not, dan menyanyi sesuai dengan notasi. Semua lagu yang diajarkan beliau adalah lagu-lagu wajib nasional. Makanya hingga hari ini, aku masih hafal lagu-lagu wajib nasional seperti Gugur Bunga, Indonesia Pusaka, Rayuan Pulau Kelapa, Dari Sabang sampai Merauke. Mungkin hari ini anak-anak Indonesia sudah tidak hafal lagi karena lebih tergiur menghafal lagu-lagu tema kekinian. Memang dibanding dengan guru-guru yang lain, pak Suroso memang jago bernyanyi. Beliau memiliki suara bariton yang enak didengar. Wajar saja, kelas kami selalu tampil bagus ketika paduan suara upacara bendera. Dan aku selalu terpilih menjadi diriennya. Sampai hari ini, jika di kantorku ada acara-acara resmi, aku selalu ditunjuk menjadi dirigennya.

Pelajaran yang paling aku sukai semasa SD dulu yakni matematika. Agak aneh saja kalau ada anggapan pelajaran matematika, pelajaran yang paling menakutkan dan momok bagi anak-anak. Bersyukur, kesabaran pak Suroso mengajar kami, membuat kami paham. Tips yang paling kuingat yang diajarkan oleh pak Suroso yakni bagaimana menyelesaikan soal cerita. Pertama baca soal cerita dengan perlahan, jangan terburu-buru. Kedua tulislah apa saja yang perlu diketahui dari soal tersebut. Ketiga tulislah apa yang ditanya dari soal. Setiap mengerjakan soal cerita, beliau selalu mengingatkan kami akan tiga langkah pengerjaan. Kalau masih bingung dengan pertanyaannya, silakan baca soalnya dan lihat kembali tulisan diketahuinya. Begitulah tips pak Suroso untuk menyelesaikan soal cerita.

Tak hanya pelajaran yang kami peroleh, sikap toleransi karena perbedaan keyakinan juga diajarkan oleh beliau. Pak Suroso beragama katolik, sebagian besar murid yang diajarkan beliau beragama islam. Pulang sekolah, aku dan teman-teman ikut les di rumah pak Suroso. Ssssstttt…bukan sembarangan les yang dijadikan sebagai pendokrak nilai raport yah. Les diberikan pak Suroso, murni untuk anak-anak yang masih ingin belajar lebih. Seingatku, tidak ada soal ulangan yang dibocorkan atau nilaiku jadi tambah bagus. Les dimulai pukul 1 siang, istirahat saat adzan ashar, dan kembali lagi sampai jam 4 sore. Kebetulan, jarak antara rumahku-rumah pak Suroso tidak terlalu jauh. Aku selalu mengendarai sepeda mini. Saat natalan, kami semua diundang ke rumah beliau mencicipi kue natalan buatan istrinya. Yah namanya masih anak-anak, aku sikat aja. Lagipula kuenya enak.

Tahun lalu, aku berkesempatan tugas di Lampung. Sudah ada niatan ingin berjumpa dengan beliau. Aku tanya kepada Ibu Dahlia kepala sekolah SDN Bumi Waras 1, Bandar Lampung yang sekolahnya mendapatkan pendampingan dari kantorku, “bu, kenal dengan pak Suroso yang tinggal di Panjang? Dulunya mengajar di SDN 01 Panjang Utara?” tanyaku. “Kenal…beliau sekarang sudah menjadi kepala sekolah tapi bukan di sekolah itu lagi. Agak jauh dari rumahnya” jawab ibu Dahlia. Syukurlah, aku jawab dalam hati. Semoga esok hari ada kesempatan berkunjung.

Namun, sayangnya kesempatanku untuk berkunjung ke rumah beliau harus diurungkan. Karena pekerjaanku di Lampung belum juga rampung. Akhirnya… aku hanya bisa berkesempatan mampir melihat SD ku dulu. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk guru terbaikku, pak Suroso. Kesabaran dan kasih sayangmu masih lekat di dalam hatiku. Suaramu hingga hari ini masih jelas di telingaku. Rasanya aku ingin kembali ke masa 14 tahun yang lalu, saat aku duduk di kelas 4 SD. Semoga engkau selalu diberi kesehatan dan terus dalam lindungan Tuhan, amiiin.

Ruang kelas 6, tempat penulis menimba ilmu semasa SD. Kursi yang diduduki penulis adalah tempat duduk semasa SD dulu.

 

Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa Terima Penghargaan Gold Award on Performance Excellence Growth dari IQAF

Jakarta (19/11). Sebagai lembaga nirlaba, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPDD) membuktikan diri sebagai lembaga kredibel yang telah menerapkan sistem manajemen mutu berdasarkan Baldridge Excellence Framework (BEF). Hal ini ditandai dengan penghargaan “Gold Award on Performance Excellence Growth“ dari Indonesia Quality Award Foundation. Penghargaan ini merujuk terhadap penilaian kinerja ekselen berbasiskan “Kriteria Baldrige“. Kriteria ini dalam kegiatan IQA diberi istilah Malcolm Baldrige Criteria for Performance Excellence (MBCfPE).

Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi satu-satunya Non Government Organization yang berhasil meraih penghargaan ini. Widodo Alyusro, Head of QRD Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, mengatakan bahwa penghargaan ini diberikan kepada seluruh amil Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa yang telah bekerja keras menhadirkan kualitas manajemen mutu yang terbaik. “Semoga penhargaan ini menjadi pecut semangat dan kerja keras amil untuk peningkatan mutu dan kinerja ekselen.” Tambahnya.

Selain Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, di sektor pendidikan juga hadir Binus University dan Universitas Islam Bandung. Selain Sektor pendidikan, ada sektor industri yang mendapatkan penghargaan, antara lain PT. Jalantol Lingkarluar Jakarta, PT. Indonesia Comnets Plus, PT. Krakatau Bandar Samudra, PT. Semen Padang, PT. Pembangkitan Jawa Bali dan PT. Semen Tonasa.

Penghargaan ini, menurut Widodo adalah bentuk upaya Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa menjadi lembaga yang kredibel dan akuntabel. “Semakin kita tingkatkan kualitas manajemen mutu program, maka akan semakin memberikan kepercayaan kepada para donatur yang selama ini membantu kami.” Pungkasnya.

Pembelajar Sejati

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

Sekolah kami SMART Ekselensia
Kami dari Sumatra hingga Papua
Hanya satu tekad di dalam diri
Menjadi pembelajar sejati…

Bait di atas adalah penggalan reff dari mars SMART Ekselensia Indonesia. Ketika pertama kali saya bergabung dengan SMART Ekselensia pada 26 Juli 2010 dan pertama kali mendengar mars di atas, saya bergumam, “Wah keren sekali mars-nya.” Sedari dulu saya menyukai istilah “pembelajar sejati”. Bukan karena kemegahan intelektual yang tersirat dari istilah itu, melainkan spirit untuk terus membaca, menelaah, merenungi, memikirkan, dan menginsyafi, inilah yang membuat saya jatuh cinta dengan istilah ini.

Pembelajar sejati merupakan penafsiran dari wahyu pertama, Iqra. Seorang pembelajar sejati mesti menginsyafi bahwa belajar tidak terbatas waktu, tempat, dan usia. Tepat sekali sabda Rasulullah SAW yang merangkan, “Menuntut ilmu itu sedari buaian hingga datangnya kematian.”

Di mana saja berada, dengan siapapun berinteraksi, seorang pembelajar sejati bisa memetik hikmah dan mereguk wawasan. Berjalan ke penjuru negeri dan mengamati perilaku manusia merupakan inspirasi untuk berkarya bagi pembelajar sejati. Peristiwa sepele dan sederhana bagi kebanyakan orang, bisa menjadi ide cemerlang bagi pembelajar sejati untuk menuliskannya. Dan, dengan tulisan itu dia berbagi inspirasi ke sebanyak mungkin orang. Lebih hebat lagi bila dengan tulisan itu banyak orang yang tercerahkan dan tersadarkan.

Itulah mengapa Al-Qur’an menyuruh kita untuk berjalan di penjuru bumi, perhatikan dan pikirkan alam semesta serta cermati dan saksamai jejak perilaku orang-orang terdahulu untuk menjadi pelajaran bagi orang-orang di masa kini. Menurut penulis buku Ayat-ayat Semesta, ayat-ayat Al-Qur’an tentang semesta jauh lebih banyak dibandingkan ayat-ayat tentang hukum. Mengapa? Karena, dengan mengamati dan merenungi semesta akan semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Dan, berapa banyak di dalam Al-Qur’an, setelah menerangkan betapa harmoninya disain alam semesta, selalu diakhiri dengan ungkapan, “Pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan”. Sebagai contoh saksamailah surat Ar-Rum ayat 22 – 26.

Oleh karena itu, sungguh ironi jika masyarakat sekarang memahami belajar adalah sekolah. Tugas orangtua selesai dengan menyekolahkan anaknya. Anak pun seperti itu, merasa telah cukup belajar dengan bersekolah. Atas nama lulus sekolah, tak mengapa ujian nasional menyontek. Bila perlu menyontek masal dan difasilitasi oleh sekolah. Pemutihan nilai rapor pun menjadi legal. Sekali lagi atas nama sekolah. Tak beda juga dengan kelakuan oknum para pegawai negeri yang mengejar ijazah demi kenaikan pangkat dan jabatan meski kuliahnya asal-asalan. Bahkan, skripsi atau tesis pun bisa jadi dituliskan oleh orang lain. Sekali lagi atas nama sekolah.

Makna belajar telah sedemikian terpalingkan dari makna aslinya. Tegas sekali yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah. Sekolah hanyalah salah satu cara dan tempat untuk belajar, namun bukan satu-satunya. Bahkan, bisa jadi sekolah (yang tidak bermutu) bisa menjadi tempat yang salah untuk belajar. Ini bukan berarti meng-absurd-kan sekolah. Tidak sama sekali. Saya hanya bermaksud untuk menyadarkan kita semua bahwa yang kita butuhkan adalah belajar, bukan sekolah.

Maka, jadikan sekolah sebagai salah satu saja sarana untuk belajar. Selain itu, belajarlah di sekolah kehidupan ini. Belajarlah di sekolah alam semesta ini. Maka, belajar tak pernah mengenal kata lulus. Kita selamanya pembelajar. Dari sini bisa dikenali mana pembelajar sejati, dan pembelajar musiman. Ketika musim sekolah dan kuliah, jadi pembelajar. Begitu musim wisuda, berhenti jadi pembelajar.

Misalnya, seorang mahasiswa yang lulus menjadi sarjana pendidikan dan kemudian menjadi guru. Lalu, karena sudah menjadi guru semangat belajarnya menjadi luntur, bahkan perlahan menghilang. Sejatinya, dia adalah pembelajar musiman. Dia telah gagal menjadi pembelajar sejati. Dan, untuk sekolah yang memiliki guru-guru semacam ini, sulit untuk menjadi sekolah peradaban yang melahirkan generasi pembangun peradaban.

Menutup tulisan ini, saya ingin menceritakan seorang teman saya, lebih tepatnya senior saya, sekadar untuk memantik semangat belajar kita. Kami sama-sama lulusan UIN Jakarta. Hanya beda generasi. Dia seorang pemimpin redaksi penerbit nasional. Gelar akademisnya cukup sarjana saja. Namun, intelektualitasnya mungkin bisa setaraf doktor. Kemampuan Bahasa Inggris dan Arab-nya pun tak diragukan. Karena, ia biasa menerjemahkan buku-buku berbahasa Inggris dan Arab. Dan, kualitas terjemahannya juga berbobot dan enak dibaca. Dengan kompetensinya itu, dia kerap diundang keluar negeri untuk berbicara pada forum-forum internasional. Terakhir, beliau bercerita baru saja menjelajah beberapa negara Eropa atas undangan UNESCO, PBB.

Dari cerita di atas, kita juga bisa menginsyafi bahwa kualitas seseorang belum tentu dilihat dari sederet gelar akademis yang menyertai namanya di depan dan di belakang. Melainkan, sekuat dan sekonsisten apa dia belajar dan terus belajar sepanjang hayatnya. Selamat menjadi pembelajar sejati.

Salam,
Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(GM Sekolah Model YPnDD)

PSB Dompet Dhuafa Memasyarakatkan Dongeng Dikalangan Pelajar SD se-Jampang

Dongeng merupakan sarana penyampaian edukasi yang efektif bagi anak-anak, selain menumbuhkan semangat, keceriaan, juga membuat anak memiliki imajinasi yang tinggi. Sayangnya, saat ini perhatian orang tua terhadap dongeng semakin berkurang. Untuk itu Pusat Sumber Belajar (PSB) Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa menggelar kegiatan bertajuk ‘Dongeng Ramah Anak’ pada 5 Nopember 2015. Bertempat di Lapangan Futsal Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan dongeng kepada anak serta manfaatnya, dan mengampanyekan pentingnya mendongeng atau bercerita 15 menit sebelum tidur.

Diikuti oleh sekitar 200 orang peserta yang terdiri atas siswa-siswa dan guru Sekolah Dasar dari Desa Jampang dan sekolah dampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, Kegiatan yang dimulai pukul 09:00 WIB ini dibuka oleh creative librarian PSB Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa, Dian Sumantri dan Manajer SGI dan PSB, Bapak Abdul Khalim. Dilanjutkan dengan dongeng berjudul “Ulat dan Belalang” yang disampaikan oleh Kak Iman Surahman dan Kak Bonci, serta permainan origami dari Kak Rika.

“Jadi anak itu perlu tolong-menolong, berbuat baik, dan bermanfaat bagi sesama”, demikianlah pesan yang ingin Kak Iman Surahman sampaikan lewat dongeng yang disampaikannya. (WAD)

SIMPOSIUM NASIONAL RISET PENDIDIKAN II 2015

Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa dan Universitas Paramadina mengundang anda untuk hadir pada :

SIMPOSIUM NASIONAL RISET PENDIDIKAN II 2015

“Guru Transformatif untuk Pendidikan yang Lebih Baik”

di Auditorium Nurcholis Madjid Universitas Paramadina, 24 November 2015.

Keynote Speaker : Anies Baswedan, Ph. D* (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan)

Pembicara Seminar :
1. Totok A Soefijanto Ed.D (Deputi Rektor Bidang Akademik, Riset dan Kemahasiswaan Universitas Paramadina)
2. Marwah Daud Ibrahim Ph.D (Presidium ICMI)
3. Rina Fatimah, S. Sos (Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa)

Acara lainnya :
1. Pesan Guru Indonesia : Dari Guru pelosok untuk Pemerintah Indonesia
2. Teatrikal Pendidikan oleh Guru Agung (Aktivis Pendidikan Dompet Dhuafa)
3. Presentasi Riset Pendidikan oleh peserta terpilih dari ratusan makalah

Peserta : Guru, dosen, peneliti, pemerhati, praktisi, dan pakar pendidikan, mahasiswa, pelajar, dan umum

Investasi :
Rp. 100.000 / orang (umum)
Rp. 50.000 / orang (mahasiswa)

Fasilitas :
1. Snack
2. Makan siang,
3. Seminar kit
4. Sertifikat
5. Proceeding ber - ISBN
6. Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa
7. Tergabung langsung menjadi anggota Indonesian Educational Research Association (INDERA)

Pendaftaran terakhir tanggal 15 November 2025

Daftar di http://www.indera.org/daftarnp/

Narahubung : Anthony (0857 7067 7704)

#SimposiumRisetPendidikan2015 #TerimakasihGuru

Download Prosiding SNRP II Disini

Simposium Nasional Riset Pendidikan II 2015

Catatan :

  1. Setiap peserta non-pemakalah membayar biaya pendaftaran dengan rincian sebagai berikut:
    • Umum Rp. 100.023,-
    • Pelajar/Mahasiswa Rp. 50.023,-Pembayaran dan konfirmasi maksimal dilakukan pada 15 November 2015.
      Pembayaran dilakukan dengan transfer ke Rekening Pendaftaran:
      BNI Syariah
      No Rek. 2880 2880 13
      a/n Yayasan Dompet Dhuafa Repubilka.
  1. Peserta non-pemakalah diwajibkan untuk melakukan konfirmasi kehadiran dengan mengirimkan scan/bukti pembayaran peserta pemakalah via email [email protected] cc: [email protected] dengan subject :
    Registrasi Peserta Non-Pemakalah
    isi pesan terdiri dari Nama lengkap beserta gelar (untuk sertifikat) semua peserta yang dibayarkan, dan Kategori Pendaftaran.
    Contoh email konfirmasi:
    Subject: Registrasi Peserta Non-Pemakalah
    Isi Pesan:Dr. Omar Sutawijaya, Dr. Pedri / Umum / 2 orang

    Lampiran : screenshot/scan/foto bukti pembayaran

  1. Informasi lainnya dapat dilihat di www.indera.org/pengumuman.