Layakkah Disebut Guru?

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
Praktisi Pendidikan, GM Sekolah Model Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

RASANYA kita masih ingat dan paham dengan peribahasa “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Peribahasa tersebut sejatinya sindiran yang sangat keras bagi guru-guru yang tidak layak menjadi guru. Kita tidak memungkiri, jika kita mau jujur, berapa banyak guru yang mestinya diberhentikan menjadi guru.

Karena, mereka tidak memiliki kompetensi sebagai guru. Kompetensi utama guru itu dua, yaitu pertama, dia diteladani murid-muridnya karena kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadahnya; kedua, dia dikagumi murid-muridnya karena keluasan ilmunya.

Mari kita bahas satu persatu. Jika guru tidak mampu mendidik dan mengajar dirinya menjadi manusia baik, maka bagaimana bisa dia mendidik dan mengajari murid-muridnya? Guru haruslah selesai dengan dirinya dalam segi akhlak dan ibadahnya.

Hal ini bukan berarti guru dituntut menjadi manusia sempurna dalam aspek akhlak dan ibadah. Tentu saja proses menjadi manusia baik (baca: bertakwa) adalah proses tiada henti. Namun, setidaknya seorang guru haruslah terlihat kemuliaan akhlaknya dan keistiqamahan ibadahnya.

Contoh sederhana, seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar shalat fardhu berjama’ah ke masjid. Namun, sang guru sendiri di lingkungan masyarakatnya jarang shalat fardhu ke masjid, bagaimana bisa proses pendidikan ini akan berhasil? Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tetapi dia sendiri berlaku tidak jujur dalam proses administrasi keguruan demi mengejar tunjangan profesi, bagaimana bisa internalisasi kejujuran itu akan berhasil?

Dalam hal ini, kritik saya terhadap kampus-kampus keguruan adalah kampus terlalu sibuk menyiapkan tenaga guru dari aspek skill, tetapi mengabaikan aspek akhlak dan integritas. Tidak ada intervensi program pembinaan mahasiswa keguruan pada aspek ini. Akibatnya, kampus keguruan hanya menghasilkan tenaga guru yang mungkin kompeten keilmuannya, namun miskin akhlak dan integritasnya.

Kedua, aspek keilmuan. Mari kita telisik secara jujur. Apakah guru-guru kita memiliki kompetensi keilmuan memadai? Hasil penilaian Kemendikbud menyatakan, 77.85% guru SD tidak layak menjadi guru (KOMPAS, 29/10/2025). Tak perlu rumit-rumit menilai guru dari aspek ini.

Tanya saja kepada guru berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? Jika guru jarang membaca, tidak meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya? Hanya itu-itu saja tiap tahunnya. Mengajar sudah 10 atau 20 tahun, tapi ilmu yang disampaikan tidak bertambah.

Oleh karena itu, perlu ada reorientasi dalam mengkader guru-guru. Karena, guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Baik atau buruknya seorang murid tergantung gurunya. Seorang guru hebat akan melahirkan murid lebih hebat lagi. Namun, seorang guru yang rusak, bisa melahirkan murid yang lebih rusak.

Kerja Peradaban

Kita mesti menginsyafi bahwa mendidik dan mengajar adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi yang siap menjadi pewaris peradaban. Mewarnai zaman dengan rupa-rupa dan lika-liku prestasi dan karya. Maka, perlu guru-guru hebat dengan kompetensi akhlak dan keilmuannya.

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis. Islam memandang aktifitas mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang mendidik dan mengajar haruslah orang yang mulia kualitas dirinya. Jika mengkaji Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa aktifitas mendidik (mengajar) bahkan dinisbatkan kepada Allah dan rasul-Nya.

Kita simak surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2, “(Allah) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.”

Lalu, saksamailah surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Bayangkan, aktifitas mendidik dan mengajar dinisbatkan langsung kepada Allah dan rasul-Nya. Setiap apapun yang dinisbatkan kepada Allah, maka aktifitas itu adalah mulia. Dengan demikian, mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia.

Maka, orang-orang yang melakukannya haruslah menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Lebih dari itu seorang guru yang menjaga kualitas diri dan kemuliaan akhlaknya, maka kata-katanya akan powerful dan mampu menembus hati murid-muridnya. Nasihatnya mampu mencairkan hati muridnya yang beku.

Dalam konteks inilah kita memahami nasihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada gurunya, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, Imam Abu Abdisshamad, sangat patut kita resapi.

Mari kita perhatikan kalimat Imam Syafi’i. Kalimat beliau menjadi jawaban mengapa kualitas generasi kita saat ini biasa-biasa saja, tidak istimewa. Ternyata salah satu kuncinya ada pada guru.

“Hendaklah upayamu untuk mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah dengan memperbaiki dirimu sendiri. Karena, pandangan mereka (paradigma dan sikap hidup) terikat pada pandanganmu. Apa-apa yang baik menurut mereka adalah apa-apa yang kau anggap baik. Dan, apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka adalah apa-apa yang kau tinggalkan (tidak lakukan).”

Dengan demikian, upaya pertama memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas gurunya. Tidak boleh lagi ada penerimaan guru asal-asalan.

Mal praktik dalam kedokteran saja bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, terlebih lagi mal praktik dalam pendidikan bisa menghancurkan masa depan anak didik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Maka, wahai para guru, jadilah pendidik sejati

Sumber: https://www.islampos.com/layakkah-disebut-guru-218829/

Kegiatan Pelatihan Paikem Berbasis Literasi Dan Penilaian Otentik Berbasis Kelas

Program Pendampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa- Mis Mis Fathussa’adah

Oleh: Ihsan Maulana,S.Kom

Sukaraja, 28-29 September 2015 – Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui program pendampingannya kembali mengadakan pelatihan bagi sekolah MI Fathussa’adah. Pelatihan yang dilakukan selama dua hari ini berisikan materi tentang Strategi PAIKEM berbasis LITERASI yang disampaikan oleh bapak Ahmad Sucipto SPd dan PENILAIAN OTENTIK Berbasis Kelas yang di sampaikan oleh bapak RUDY PURWANTO,S.Si. Beliau berdua merupakan trainer trainer yang expert di bidangnya masing masing. Ibu Hj.R.A. Rodiah sekalu kepada madrasah melalui sambutannya mengatakan bahwa pelatikan kali ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan bagi guru – guru terkait dengan masalah literasi dan penilaian . Sehingga di haparkan kedepannya guru – guru bisa mengemas materi dari berbagai pelajaran dengan berpacu pada PAIKEM ( Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif,Efektif dan Menyenangkan) bagi siswa. Selain itu guru guru diharapkan dapat melakukan penilain terhadap siswa secara menyeluruh meliputi domain kognitif, Afektif dan psikomotorik.

Pada pelatihan hari pertama yang bertemakan “PAIKEM BERBASIS LITERASI”, dibagi menjadi beberapa sesi. Pada sesi pertama di buka oleh pembawa acara ( iwan darmawan,S.Pd.I ) dengan pembacaan Umul Qur’an. Selanjutnya dilakukan Ice Breaking untuk mencairkan suasana. Ice Breaking di pandu oleh bapak Abdul Kadir dengan semnagat dan ceria.

Pada sesi pertama ini pula bapak Ahmad Sucipto SPd memaparkan perbandingan antara belajar aktif vs belajar pasif. Dimana menurut beliau cara guru mengajar didalam kelas bukan hanya menggunakan metode ceramah saja melainkan guru melibatkan semua siswa untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Pada sesi kedua ini, peserta tidak hanya mendengarkan materi yang disampaikan namun sekaligus praktek mengerjakan tugas yang diberikan oleh pemateri terkait dengan materi PAIKEM Berbasis literasi. Tugas yang berupa pembuatan soal literasi yang dikemas dalam pembelajaran yang Aktif , Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan diikuti peserta dengan antusias dan bersemangat.
hari berikutnya 29 september 2015, pelatihan pun dilanjutkan dengan materi yang berbeda. Pada pelatihan kali ini bertemakan PENILAIAN OTENTIK Berbasis Kelas. Pelatihan yang di buka pada pukul 09.00 ini seperti biasa di awali dengan ice breaking untuk mencairkan suasana. Kemudian dilanjutkan dengan penyampaikan materi oleh bapak RUDY PURWANTO,S.Si selaku pemateri pada hari itu. Pelatihan sesi pertama ini berisikan tentang pemaparan materi dan pembuatan contoh model Penilaian Otentik Berbasis Kelas (POBK) dengan menggunakan beberapa teknik dan instrumen.
pada sesi kedua ini pemateri menyampaikan teknik dan instrumen dari Penilaian Otentik Berbasis Kelas. Teknik POBK yang dijelaskan diantaranya Unjuk Kerja (Performance), Penugasan (Project), Hasil Kerja (Product), Tertulis (Paper & Pencil), dan Portofolio. Selain itu pemateri menjelaskan bahwa POBK memiliki ciri ciri diantaranya Belajar Tuntas, Otentik, Berkesinambungan, Berdasarkan Acuan Kriteria / Patokan, Menggunakan Berbagai Cara dan Alat Penilaian. Pada sesi ini guru guru sebagai peserta terlibat langsung dalam melakukan teknik POBK tersebut.

Pada sesi ke tiga dimana merupakan sesi akhhir dari pelatihan tersebut guru - guru diajak untuk mengisi post test untuk mengetahui sejauh mana pemahaman guru atas materi yang sudah didapatkan. Selain itu di akhir acara guru di ajak untuk merefleksi hasil dari pelatihan yang sudah didapatkan.

Teladan Pemimpin Itu Bernama Ibrahim

Oleh: Purwa Udiutomo, Peminat Sejarah Islam, GM Beastudi Indonesia Dompet Dhuafa

“Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) ‘Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim’. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.” (QS. Ash-Shaffat: 108-111)

SALAH satu kisah yang tidak pernah terlewat dalam peringatan Hari Raya Idul Adha adalah kisah tentang Nabi Ibrahim a.s. Ya, momen Idul Adha memang identik dengan kisah Nabi Ibrahim a.s., mulai dari syariat pelaksanaan haji hingga pemotongan hewan qurban.

Keteladanan Nabi Ibrahim a.s. tercermin dari banyaknya kisah hikmah perjalanan Nabi Ibrahim, yang tidak hanya dimuat dalam Al Qur’an, tetapi terdapat pula pada kitab-kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Kitab Injil termasuk Injil Barnabas, hingga kisah-kisah Israiliyat. Nama ‘Ibrahim’ sendiri disebut sebanyak 62 kali di 24 surah dalam Al Qur’an, jumlah ayat yang menceritakan kisah beliau tentu lebih banyak lagi.

Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah dari sisi kepemimpinan beliau. Allah SWT langsung yang memilih beliau sebagai pemimpin umat manusia, dengan firman-Nya: “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang dzalim”. (QS. Al Baqarah: 124). Nabi Ibrahim a.s. memenuhi seluruh kualifikasi penting figur pemimpin yang layak dijadikan teladan.

Berjiwa Bersih dan Ta’at Kepada Allah

Pemimpin harus memiliki fondasi spiritualitas yang baik. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan).” (QS. An Nahl: 120). Hanif artinya bertekad mengikuti kebenaran dan jalan yang lurus.

Nabi Ibrahim adalah seorang yang berpegang teguh terhadap kebenaran, tidak berpaling untuk meninggalkannya, dan memiliki pemahaman agama yang lurus. “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran: 67)

Nabi Ibrahim a.s. lahir di tengah keluarga dan masyarakat penyembah berhala, tentu membutuhkan jiwa yang sangat bersih dan komitmen kuat untuk menemukan hidayah dan mempertahankan keimanannya. Dan kejernihan hati inilah yang membuat Nabi Ibrahim a.s. menjadi Hamba Allah yang sangat ta’at. “Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ’ Tunduk patuhlah!’, Ibrahim menjawab: ‘Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam’.” (QS.Al Baqarah: 131).

Ketundukan penuh keyakinan dan keikhlashan inilah yang mengantarkan beliau memperoleh posisi mulia di hadapan Allah SWT. Aspek spiritualitas inilah yang membuat seorang pemimpin senantiasa tegar menghadapi berbagai ujian dan cobaan. Keta’atan inilah yang menjadi alasan hadirnya pertolongan Allah SWT.

Selamatnya Nabi Ibrahim a.s. ketika dibakar hidup-hidup seperti dikisahkan dalam Surah Al Anbiya adalah buah dari keyakinan ini. Dikabulkannya do’a beliau untuk memperoleh keturunan yang shalih di usianya yang sudah lanjut adalah buah dari keikhlashan ini.

Selamatnya Hajar dan Ismail ditinggal di tengah gurun tandus ataupun selamatnya Ismail ketika disembelih adalah buah dari keta’atan. Karena Allah SWT akan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Dan keta’atan itu berbuah hikmah. Dari keta’atan meninggalkan anak isteri tercinta dikenal istilah sa’i dan air zamzam, bahkan lahirlah peradaban di Mekkah. Dari keta’atan menyembelih Ismail, sempurnalah syariat haji dan qurban.

Cerdas dan Berani

Pemimpin harus memiliki kecerdasan dan keberanian, tidak hanya salah satunya. Tidak sedikit orang yang memiliki kemampuan intelektual namun tidak memiliki keberanian, segudang idenya pun hanya menjadi setumpuk angan. Hasilnya adalah pemimpin yang gemar berandai-andai untuk kemudian menyesal. Ada pula yang sekedar memiliki keberanian tanpa perhitungan, yang terjadi hanya kesia-siaan, pemborosan, bahkan kerusakan. Pemimpin modal nekat dan mengandalkan keberuntungan.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. sudah tumbuh sejak beliau masih belia. Hal ini jelas tampak dari dialog Ibrahim kecil dengan ayahnya tentang konsep ketuhanan seperti tertuang dalam Surah Maryam atau dalam upaya beliau mencari Tuhan seperti dikisahkan cukup panjang dalam Al Qur’an surah Al An’am.

Dalam berbagai referensi terdahulu, misalnya dalam Injil Barnabas, dikisahkan dialog panjang Ibrahim kecil dengan ayahnya yang selalu berakhir dengan ancaman atau pemukulan Ibrahim kecil karena ayahnya kehabisan argumen. Keluarga Nabi Ibrahim a.s. cukup dihormati, butuh upaya lebih untuk menentang penyimpangan dari keluarganya dan sistem masyarakat yang rusak.

Kecerdasan dan keberanian Nabi Ibrahim a.s. juga tercermin di Surah Al Anbiya dalam peristiwa penghancuran berhala yang dilakukannya yang berujung pada pembakaran dirinya hidup-hidup. Atau dalam perdebatan beliau dengan Raja Namrud seperti dikisahkan dalam firman Allah, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata: ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan’. Ibrahim berkata: ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat’, lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.” (QS. al-Baqarah: 258)

Visioner dan Amanah

“Dan Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji” (QS. an-Najm: 37).

PEMIMPIN harus visioner sekaligus amanah. Sekedar pemimpin visioner saja tidak cukup untuk mengubah apapun, namun sekedar mengerjakan tanggung jawab juga hanya akan terjebak pada rutinitas.

Dalam Al Qur’an terdapat Surah Ibrahim yang di antaranya memuat do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s, salah satunya adalah “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37)

Pada saat Nabi Ibrahim a.s. berdo’a, Baitullah belumlah didirikan dan wilayahnya sangat tandus. Atas karunia Allah SWT, Nabi Ibrahim a.s. punya visi dan tekad kuat untuk menyempurnakan janji tersebut. Beberapa tahun kemudian Baitullah dibangun untuk kemudian berkembang menjadi wilayah Masjidil Haram – Mekkah yang kita kenal sekarang, pusat manusia-manusia mendirikan shalat.

Hal menarik lainnya dari do’a-do’a Nabi Ibrahim a.s. adalah beliau senantiasa mendo’akan anak cucu dan keturunannya, di antaranya agar tidak menyembah berhala (ayat 35) dan tetap mendirikan shalat (ayat 41). Pemimpin sejati tahu benar pentingnya kaderisasi. Memastikan adanya kader penerus perjuangan merupakan hal yang fundamental. Nabi Ibrahim a.s. pun mendapat gelar Abul Anbiya (bapaknya para Nabi), tidaklah seorang nabi setelah Nabi Ibrahim a.s. kecuali semuanya berasal dari keturunan beliau.

Nabi Luth a.s. adalah salah seorang pengikut Nabi Ibrahim a.s. yang kemudian diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dalam berbagai ayat Al Qur’an dikisahkan bahwa para malaikat menemui dan memberitahu Nabi Ibrahim a.s. terlebih dahulu –bahkan sempat ‘berdebat’ dengan beliau– sebelum membinasakan Kaum Sodom yang mengingkari Nabi Luth a.s.

Karena perjuangan tidak bisa diusung sendirian. Atau simak bagaimana kesabaran Ismail kecil ketika mengetahui dirinya akan disembelih atas perintah Allah SWT oleh ayahnya sendiri yang jarang ditemuinya. Tentu butuh pendidikan akidah dan akhlak yang luar biasa, termasuk kepada kedua isterinya.

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (QS. Al Baqarah: 132).

Peduli dan Penuh Kasih Sayang

“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi lembut hati dan suka kembali kepada Allah.” (QS. Hud: 75). Ayat ini turun terkait upaya Nabi Ibrahim a.s. yang mencoba membela Kaum Luth yang hendak diazab Allah SWT dengan berdalih masih ada kesempatan untuk memperoleh hidayah.

Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bertanya kepada para malaikat, “Apakah kamu hendak membinasakan negeri yang di sana terdapat 300 orang mukmin?”. Mereka menjawab, “Tidak”. Angka tersebut terus turun hingga menjadi ‘seorang mukmin’ dan para malaikat tetap menjawab ‘tidak’. Nabi Ibrahim a.s. kemudian berkata, “Disana terdapat Luth”. Mereka berkata, “Kami lebih tahu tentang siapa yang ada disana” hingga akhirnya ditegaskan dengan ayat selanjutnya, “Wahai Ibrahim! Tinggalkanlah (perbincangan) ini, sungguh, ketetapan Tuhanmu telah datang, dan mereka itu akan ditimpa azab yang tidak dapat ditolak” (QS. Hud: 76).

Pun tegas dalam bersikap terkait masalah aqidah, dialog Nabi Ibrahim a.s. dengan ayahnya pun mencerminkan sikap santun dan lembut hati. Hal ini dikuatkan dengan Firman Allah, “Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk ayahnya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At Taubah: 114). Apalagi jika menyimak dialog beliau dengan anaknya yang bahkan sampai meminta pendapat anaknya untuk sesuatu yang bisa saja tinggal diperintahkan.

Pemimpin harus santun, penuh kepedulian dan kasih sayang. Keluhuran budi pekerti tercermin dari sikap dan kata-kata, dan hal inilah yang sejatinya sangat efektif untuk menggerakkan orang lain. Kemuliaan akhlak inilah yang membuat Nabi Ibrahim digelari Khalilurrahman, Sang Kekasih Allah SWT. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (QS. An Nisa’: 125).

Berbeda dengan Nabi Yusuf a.s., Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s. dan Rasulullah Muhammad SAW, Nabi Ibrahim a.s. memang tidak menempati jabatan struktural dalam pemerintahan. Namun jati diri kepemimpinan tetap terpancar dari diri beliau dan membuat beliau menempati posisi sangat penting dalam sejarah kehidupan manusia.

Setiap kita adalah pemimpin, sehingga harus berupaya menjadi pribadi yang berjiwa bersih, ta’at kepada Allah SWT, cerdas, berani, visioner, amanah, peduli dan penuh kasih sayang. Sudah saatnya kualifikasi pemimpin seperti ini menggantikan sosok pimpinan yang tidak beritikad baik, tidak peduli terhadap umat Islam, sok pintar,klemar-klemer, cinta dunia, tidak berkompeten, egois dan suka menyakiti yang dipimpinnya.

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya Dia di akhirat benar-benar ter¬masuk orang yang saleh.” (QS. Al Baqarah: 130)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim…” (QS. Al Mumtahanah: 4)

PAUD yang Dirindukan (2)

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

PRINSIP pembelajaran di TK/PAUD berpegang pada prinsip kesiapan. Berdasarkan tugas perkembangannya, anak-anak usia 4 tahun boleh diperkenalkan huruf dan konsep berhitung melalui permainan yang menyenangkan. Usia 5 tahun – 6 tahun sebagai usia persiapan masuk sekolah dasar, anak-anak ditingkatkan kesiapannya melalui konsep-konsep berhitung yang lebih luas lagi seperti membilang, konsep perbandingan, merangkai huruf menjadi kata. Proses pembelajarannya tetap melalui permainan-permainan yang menyenangkan.

Sebelum anak-anak diperkenalkan dengan permulaan kegiatan menulis, anak-anak perlu meluweskan otot-ototnya dengan mengoptimalkan kemampuan motorik halus dan kasar melalui aktivitas kolase, meronce, menjahit, bermain lilin malam. Perkembangan motorik kasar bisa dilakukan dengan kegiatan melompat, berlari, menangkap bola. Begitupun dengan kemampuan berhitung, anak-anak terlebih dahulu diperkenalkan dengan konsep besar-kecil, banyak-sedikit, panjang-pendek, dan seterusnya.

Selain perkembangan motorik halus dan kasar yang perlu dioptimalkan, aspek perkembangan emosi dan sosial juga perlu diberikan porsi sesuai dengan perkembangan anak. Terkadang ditemukan anak yang masuk sekolah dasar memiliki kemampuan calistung yang bagus, namun belum mandiri, belum bisa diajak kerjasama, belum bertanggungjawab, egosentrik, dan mudah menyerah.

Wujud Kualitas PAUD

Target pemerintah untuk meningkatkan APK PAUD dinilai cukup berhasil jika dibandingkan dengan negara-negara di asia tenggara, akan tetapi sisi kualitas menjadi terabaikan. Pembelajaran calistung secara langsung seperti kasus diatas belum bisa diantisipasi. Fokus tulisan pada sub bab ini tentang menata kembali kualitas layanan pendidikan anak usia dini: TK/PAUD.

Pemenuhan kuantitas anak-anak Indonesia menikmati pendidikan sejak usia dini belum cukup. Bagaimana dengan kualitasnya? Semenjak digalakkan pendidikan anak usia dini oleh pemerintah, di tahun 2014 terdapat 188 ribu lebih PAUD yang sebagian besar dikelola swadaya oleh masyarakat. Banyak guru PAUD bukan berpendidikan guru TK. Guru sebagai komponen yang bertanggung jawab atas pencapaian kualitas pembelajaran, maka guru menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan kompetensinya.

Menjadi guru PAUD/TK tidak sama dengan guru di SD. Guru TK/PAUD harus mengenal karakteristik anak usia dini. Bagi anak usia dini, dunia main adalah dunianya. Main menjadi sarana untuk anak belajar. Dengan bermain, anak-anak akan bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Melalui bermain anak-anak akan memperoleh pembelajaran yang mengandung aspek sosial, emosi, kognitif, dan fisik.

Froebel, bapak kindergarten dunia, menjelaskan adanya hubungan kuat antara bermain dan belajar. Melalui bermain, anak-anak sebenarnya sedang belajar. Melalui bermain, anak-anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Tantangannya adalah sejauh manakah kemampuan guru menciptakan pembelajaran melalui berbagai macam bentuk permainan.

Guru PAUD/TK perlu menguasai keterampilan berkomunikasi yang tepat untuk anak usia dini. Penguasaan keterampilan ini akan berdampak pada perkembangan bahasa karena bahasa sebagai dasar kemampuan anak untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Tidak mudah mengajak anak untuk berkomunikasi. Guru seringkali menemukan kesulitan mengajak anak-anaknya untuk berbicara atau mengungkapkan sesuatu.

Oleh sebab itu, guru perlu menciptakan kondisi agar anak siap berkomunikasi yakni dengan memberi salam, menyapa, dan sentuhan sayang. Saat berbicara, guru perlu menempatkan posisi tubuhnya sejajar dengan anak. Kata-kata yang diucapkan mengandung kalimat positif, mengandung penghargaan kepada anak, dan menggunakan gerakan serta mimic ketika menyampaikan sesuatu.

Ketersediaan lingkungan fisik yang kondusif juga diperlukan. Lingkungan diperlukan untuk memberikan rangsangan untuk tumbuh kembang anak. TK/PAUD perlu menyediakan lahan wahana bermain siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Bahan main untuk menstimulus sensorimotor anak seperti membedakan kasar dan halus, bak pasir, lilin malam dan lain-lain. Stimulus perkembangan bahasa anak melalui aktivitas bermain peran. Alat bermain yang diperlukan seperti boneka, telpon, seragam profesi, alat dapur khusus untuk anak. Stimulus perkembangan kognitif anak melalui media main pembangunan seperti balok.

Memimpikan Indonesia ke depan diisi oleh generasi-generasi unggul dan berkualitas. Anak-anak hari ini adalah pemilik masa depan bangsa. Di tangan merekalah diteruskan sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak usia dini menjadi penting. Masa-masa anak disebut sebagai golden age. Karena Masa-masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, social-emosional, karakter, dan konsep diri. Komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses layanan pendidikan usia dini terutama di tingkat TK/PAUD dinilai sudah tepat. Yang tersisa, menunggu komitmen pemerintah untuk membenahi kualitas layanan pendidikan anak usia dini. []

PAUD yang Dirindukan (1)

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

INDONESIA diproyeksikan akan menerima bonus demografi di tahun 2035. Diperkirakan pada tahun tersebut populasi Indonesia mencapai 305,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 70% diantaranya berada di usia produktif. Siapkah Indonesia menerima bonus demografi ini?

Indonesia bisa diuntungkan namun juga bisa dirugikan. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyiapkan profil generasi mendatang yang unggul dan berkualitas. Generasi yang siap bersaing dengan negara-negara lain. Memulainya dengan menghadirkan pendidikan berkualitas sejak usia dini, yang kita kenal dengan sebutan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Program PAUD diluncurkan dalam skala nasional sejak tahun 2001, ditandai dengan terbentuknya direktorat PAUD. Kehadiran program layanan PAUD dilatarbelakangi oleh tiga hal. Pertama, masih banyak anak-anak di Indonesia yang belum mengenyam pendidikan usia dini. Kedua, pemerataan pendidikan. Ketiga, HDI (Human Development Index) Indonesia berada di peringkat 110 dibandingkan dengan Malaysia yang berada diperingkat 61, menunjukkan kualitas pendidikan anak Indonesia rendah.

Tahun lalu, melalui kepala BKKBN Fasli Jalal menyampaikan layanan pendidikan usia dini baru menjangkau sekitar 30 persen dari 30 juta anak 0-6 tahun. Padahal target disepakati dengan UNESCO adalah 75 persen pada 2015. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD saat ini baru mencapai 55,4 persen. Jumlah tersebut jika dihitung berdasarkan kategori anak usia dini berusia tiga sampai dengan enam tahun.

Meskipun angka tersebut masih dikategorikan rendah, namun jika dibandingkan dengan rerata APK PAUD di Asia Tenggara, Indonesia mengungguli. Terlepas dari data-data di atas, disimpulkan bahwa penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah Indonesia dalam mewujudkan generasi unggul dan berkualitas.

Pentingnya Pendidikan Sejak Usia Dini

Tahun depan, kemendikbud mewajibkan siswa mengikuti pendidikan anak usia dini yakni Taman Kanak-Kanak (TK)/PAUD, sebelum masuk Sekolah Dasar (SD). Berita ini dituliskan pada laman online JPNN.com. Di Indonesia, ada 3 bentuk layanan PAUD yaitu Taman Penitipan Anak, Taman Bermain, dan Taman Kanak-Kanak/PAUD. Taman penitipan anak atau TPA merupakan salah satu bentuk layanan PAUD untuk anak usia 0-6 tahun yang diperuntukkan bagi keluarga yang berhalangan dengan mengasuh anak. Kelompok Bermain diperuntukkan anak usia 2 – 4 tahun. Taman Kanak-Kanak (TK)/PAUD diperuntukkan anak usia 4 – 6 tahun. Umumnya masyarakat memasukkan anaknya ke TK/PAUD sebelum melanjutkan ke tingkat pendidikan dasar yakni sekolah dasar (SD).

Usia dini dikenal dengan periode golden age. Pada usia tersebut merupakan perkembangan terbaik untuk fisik dan otak anak. Selain asupan makanan yang bergizi, otak anak pun perlu dirangsang agar optimal. Menurut Clark, sel otak anak memiliki kisaran antara 100-200 miliar sel otak. Namun dari hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang tepakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak. Horward Gardner menyatakan bahwa anak pada usia lima tahun pertama selalu diwarnai dengan keberhasilan dalam belajar segala hal.

Periode golden age yang terbatas dan hanya dilewati satu kali seumur hidup manusia, menyebabkan pendidikan anak usia dini menjadi sangat penting. Keberhasilan pendidikan sejak usia dini akan menentukan masa depan anak. Minimal anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan sejak dini di usia 4 – 6 tahun.

Kesalahan Pembelajaran di TK/PAUD

Pentingnya pendidikan usia dini, terkadang menjadi salah diartikan. Dianggapnya, masa golden age anak-anak perlu dijejali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Istilah lainnya anak-anak dicekoki. Proses ini tentunya akan menghambat proses belajar anak di tingkat berikutnya yakni sekolah dasar.

Contohnya saja, anak-anak usia 4 tahun sudah mulai dipaksa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Banyak penyelenggaraan pendidikan anak usia dini seperti Taman Kanak-Kanak, PAUD memberikan pengajaran langsung calistung kepada siswa didiknya. Pernyataan ini pun dibenarkan oleh Pak Anies Baswedan yang dituliskan oleh media online jpnn.com bahwa anak-anak di TK sudah diajarkan calistung. Tujuannya supaya lolos seleksi masuk SD. Tentunya tes calistung yang diberikan kepada calon siswa SD melanggar hak asasi anak untuk memperoleh pendidikan. Ada banyak alasan tes calistung dilakukan. Salah satunya digunakan untuk menyaring siswa karena saking banyaknya anak yang mendaftar SD.

Belum diketahui apakah pengajaran langsung calistung bagi siswa TK/PAUD karena kemampuan bisa baca, tulis, dan berhitung menjadi persyaratan masuk sekolah dasar sehingga para orang tua mencari PAUD/TK yang bisa mengajarkan calistung. Atau karena TK/PAUD terlanjur memberikan pembelajaran calistung, akhirnya banyak sekolah dasar mensyaratkan hal tersebut. []

BERSAMBUNG

PAUD yang Dirindukan (2-Habis)

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

PRINSIP pembelajaran di TK/PAUD berpegang pada prinsip kesiapan. Berdasarkan tugas perkembangannya, anak-anak usia 4 tahun boleh diperkenalkan huruf dan konsep berhitung melalui permainan yang menyenangkan. Usia 5 tahun – 6 tahun sebagai usia persiapan masuk sekolah dasar, anak-anak ditingkatkan kesiapannya melalui konsep-konsep berhitung yang lebih luas lagi seperti membilang, konsep perbandingan, merangkai huruf menjadi kata. Proses pembelajarannya tetap melalui permainan-permainan yang menyenangkan.

Sebelum anak-anak diperkenalkan dengan permulaan kegiatan menulis, anak-anak perlu meluweskan otot-ototnya dengan mengoptimalkan kemampuan motorik halus dan kasar melalui aktivitas kolase, meronce, menjahit, bermain lilin malam. Perkembangan motorik kasar bisa dilakukan dengan kegiatan melompat, berlari, menangkap bola. Begitupun dengan kemampuan berhitung, anak-anak terlebih dahulu diperkenalkan dengan konsep besar-kecil, banyak-sedikit, panjang-pendek, dan seterusnya.

Selain perkembangan motorik halus dan kasar yang perlu dioptimalkan, aspek perkembangan emosi dan sosial juga perlu diberikan porsi sesuai dengan perkembangan anak. Terkadang ditemukan anak yang masuk sekolah dasar memiliki kemampuan calistung yang bagus, namun belum mandiri, belum bisa diajak kerjasama, belum bertanggungjawab, egosentrik, dan mudah menyerah.

Wujud Kualitas PAUD

Target pemerintah untuk meningkatkan APK PAUD dinilai cukup berhasil jika dibandingkan dengan negara-negara di asia tenggara, akan tetapi sisi kualitas menjadi terabaikan. Pembelajaran calistung secara langsung seperti kasus diatas belum bisa diantisipasi. Fokus tulisan pada sub bab ini tentang menata kembali kualitas layanan pendidikan anak usia dini: TK/PAUD.

Pemenuhan kuantitas anak-anak Indonesia menikmati pendidikan sejak usia dini belum cukup. Bagaimana dengan kualitasnya? Semenjak digalakkan pendidikan anak usia dini oleh pemerintah, di tahun 2014 terdapat 188 ribu lebih PAUD yang sebagian besar dikelola swadaya oleh masyarakat. Banyak guru PAUD bukan berpendidikan guru TK. Guru sebagai komponen yang bertanggung jawab atas pencapaian kualitas pembelajaran, maka guru menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan kompetensinya.

Menjadi guru PAUD/TK tidak sama dengan guru di SD. Guru TK/PAUD harus mengenal karakteristik anak usia dini. Bagi anak usia dini, dunia main adalah dunianya. Main menjadi sarana untuk anak belajar. Dengan bermain, anak-anak akan bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Melalui bermain anak-anak akan memperoleh pembelajaran yang mengandung aspek sosial, emosi, kognitif, dan fisik.

Froebel, bapak kindergarten dunia, menjelaskan adanya hubungan kuat antara bermain dan belajar. Melalui bermain, anak-anak sebenarnya sedang belajar. Melalui bermain, anak-anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Tantangannya adalah sejauh manakah kemampuan guru menciptakan pembelajaran melalui berbagai macam bentuk permainan.

Guru PAUD/TK perlu menguasai keterampilan berkomunikasi yang tepat untuk anak usia dini. Penguasaan keterampilan ini akan berdampak pada perkembangan bahasa karena bahasa sebagai dasar kemampuan anak untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Tidak mudah mengajak anak untuk berkomunikasi. Guru seringkali menemukan kesulitan mengajak anak-anaknya untuk berbicara atau mengungkapkan sesuatu.

Oleh sebab itu, guru perlu menciptakan kondisi agar anak siap berkomunikasi yakni dengan memberi salam, menyapa, dan sentuhan sayang. Saat berbicara, guru perlu menempatkan posisi tubuhnya sejajar dengan anak. Kata-kata yang diucapkan mengandung kalimat positif, mengandung penghargaan kepada anak, dan menggunakan gerakan serta mimic ketika menyampaikan sesuatu.

Ketersediaan lingkungan fisik yang kondusif juga diperlukan. Lingkungan diperlukan untuk memberikan rangsangan untuk tumbuh kembang anak. TK/PAUD perlu menyediakan lahan wahana bermain siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Bahan main untuk menstimulus sensorimotor anak seperti membedakan kasar dan halus, bak pasir, lilin malam dan lain-lain. Stimulus perkembangan bahasa anak melalui aktivitas bermain peran. Alat bermain yang diperlukan seperti boneka, telpon, seragam profesi, alat dapur khusus untuk anak. Stimulus perkembangan kognitif anak melalui media main pembangunan seperti balok.

Memimpikan Indonesia ke depan diisi oleh generasi-generasi unggul dan berkualitas. Anak-anak hari ini adalah pemilik masa depan bangsa. Di tangan merekalah diteruskan sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak usia dini menjadi penting. Masa-masa anak disebut sebagai golden age. Karena Masa-masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, social-emosional, karakter, dan konsep diri. Komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses layanan pendidikan usia dini terutama di tingkat TK/PAUD dinilai sudah tepat. Yang tersisa, menunggu komitmen pemerintah untuk membenahi kualitas layanan pendidikan anak usia dini. []

PAUD yang Dirindukan (1)

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

INDONESIA diproyeksikan akan menerima bonus demografi di tahun 2035. Diperkirakan pada tahun tersebut populasi Indonesia mencapai 305,6 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, 70% diantaranya berada di usia produktif. Siapkah Indonesia menerima bonus demografi ini?

Indonesia bisa diuntungkan namun juga bisa dirugikan. Oleh sebab itu, pemerintah perlu menyiapkan profil generasi mendatang yang unggul dan berkualitas. Generasi yang siap bersaing dengan negara-negara lain. Memulainya dengan menghadirkan pendidikan berkualitas sejak usia dini, yang kita kenal dengan sebutan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Program PAUD diluncurkan dalam skala nasional sejak tahun 2001, ditandai dengan terbentuknya direktorat PAUD. Kehadiran program layanan PAUD dilatarbelakangi oleh tiga hal. Pertama, masih banyak anak-anak di Indonesia yang belum mengenyam pendidikan usia dini. Kedua, pemerataan pendidikan. Ketiga, HDI (Human Development Index) Indonesia berada di peringkat 110 dibandingkan dengan Malaysia yang berada diperingkat 61, menunjukkan kualitas pendidikan anak Indonesia rendah.

Tahun lalu, melalui kepala BKKBN Fasli Jalal menyampaikan layanan pendidikan usia dini baru menjangkau sekitar 30 persen dari 30 juta anak 0-6 tahun. Padahal target disepakati dengan UNESCO adalah 75 persen pada 2015. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD saat ini baru mencapai 55,4 persen. Jumlah tersebut jika dihitung berdasarkan kategori anak usia dini berusia tiga sampai dengan enam tahun.

Meskipun angka tersebut masih dikategorikan rendah, namun jika dibandingkan dengan rerata APK PAUD di Asia Tenggara, Indonesia mengungguli. Terlepas dari data-data di atas, disimpulkan bahwa penyelenggaraan program pendidikan anak usia dini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah Indonesia dalam mewujudkan generasi unggul dan berkualitas.

Pentingnya Pendidikan Sejak Usia Dini

Tahun depan, kemendikbud mewajibkan siswa mengikuti pendidikan anak usia dini yakni Taman Kanak-Kanak (TK)/PAUD, sebelum masuk Sekolah Dasar (SD). Berita ini dituliskan pada laman online JPNN.com. Di Indonesia, ada 3 bentuk layanan PAUD yaitu Taman Penitipan Anak, Taman Bermain, dan Taman Kanak-Kanak/PAUD. Taman penitipan anak atau TPA merupakan salah satu bentuk layanan PAUD untuk anak usia 0-6 tahun yang diperuntukkan bagi keluarga yang berhalangan dengan mengasuh anak. Kelompok Bermain diperuntukkan anak usia 2 – 4 tahun. Taman Kanak-Kanak (TK)/PAUD diperuntukkan anak usia 4 – 6 tahun. Umumnya masyarakat memasukkan anaknya ke TK/PAUD sebelum melanjutkan ke tingkat pendidikan dasar yakni sekolah dasar (SD).

Usia dini dikenal dengan periode golden age. Pada usia tersebut merupakan perkembangan terbaik untuk fisik dan otak anak. Selain asupan makanan yang bergizi, otak anak pun perlu dirangsang agar optimal. Menurut Clark, sel otak anak memiliki kisaran antara 100-200 miliar sel otak. Namun dari hasil penelitian menyatakan bahwa hanya 5% potensi otak yang tepakai karena kurangnya stimulasi yang berfungsi untuk mengoptimalkan fungsi otak. Horward Gardner menyatakan bahwa anak pada usia lima tahun pertama selalu diwarnai dengan keberhasilan dalam belajar segala hal.

Periode golden age yang terbatas dan hanya dilewati satu kali seumur hidup manusia, menyebabkan pendidikan anak usia dini menjadi sangat penting. Keberhasilan pendidikan sejak usia dini akan menentukan masa depan anak. Minimal anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan sejak dini di usia 4 – 6 tahun.

Kesalahan Pembelajaran di TK/PAUD

Pentingnya pendidikan usia dini, terkadang menjadi salah diartikan. Dianggapnya, masa golden age anak-anak perlu dijejali dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan. Istilah lainnya anak-anak dicekoki. Proses ini tentunya akan menghambat proses belajar anak di tingkat berikutnya yakni sekolah dasar.

Contohnya saja, anak-anak usia 4 tahun sudah mulai dipaksa membaca, menulis dan berhitung (calistung). Banyak penyelenggaraan pendidikan anak usia dini seperti Taman Kanak-Kanak, PAUD memberikan pengajaran langsung calistung kepada siswa didiknya. Pernyataan ini pun dibenarkan oleh Pak Anies Baswedan yang dituliskan oleh media online jpnn.com bahwa anak-anak di TK sudah diajarkan calistung. Tujuannya supaya lolos seleksi masuk SD. Tentunya tes calistung yang diberikan kepada calon siswa SD melanggar hak asasi anak untuk memperoleh pendidikan. Ada banyak alasan tes calistung dilakukan. Salah satunya digunakan untuk menyaring siswa karena saking banyaknya anak yang mendaftar SD.

Belum diketahui apakah pengajaran langsung calistung bagi siswa TK/PAUD karena kemampuan bisa baca, tulis, dan berhitung menjadi persyaratan masuk sekolah dasar sehingga para orang tua mencari PAUD/TK yang bisa mengajarkan calistung. Atau karena TK/PAUD terlanjur memberikan pembelajaran calistung, akhirnya banyak sekolah dasar mensyaratkan hal tersebut. []

BERSAMBUNG

Memahami Tindak Pidana Korupsi Bagi Organisasi Pengelola Zakat

Jakarta – korupsi bisa dilakukan siapa saja tanpa memandang pangkat maupun gelar. Perilaku koruptif dilakukan siapa saja yang tidak memegang teguh nilai-nilai kejujuran dan hanya mengejar nafsu dunia. Untuk mewaspadai terjadinya praktik korupsi di lingkungan organisasi pengelola zakat, pada hari Rabu (02/09) di Menara 165 Jakarta berlangsung workshop Memahami Tindak Pidana Korupsi Bagi Organisasi Pengelola Zakat, oleh Pusat Belajar Anti Korupsi (PBAK), Forum Organisasi Zakat (FOZ), dan IMZ.

Acara dibuka dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dilanjutkan dengan sambutan oleh pimpinan Dompet Dhuafa, pimpinan FOZ, dan Direktur Eksekutif Pusat Belajar Anti Korupsi.

Aidil Ritonga selaku Direktur Eksekutif Pusat Belajar Anti Korupsi menjelaskan bahwa PBAK merupakan lembaga yang diinisiasi Dompet Dhuafa bersama KPK. Dengan harapan mampu menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran anti korupsi, seperti perpustakaan anti korupsi dan laboratorium alat bantu pembelajaran anti korupsi.

Adnan Pandu selaku wakil pimpinan KPK menyampaikan bahwa korupsi tidak hanya melibatkan aparat negara dan swasta. Pihak swasta yang berbentuk yayasan biasanya dituntut untuk membuat laporan keuangan setiap tahunnya. Hal ini menjadi penting sebagai sarana keterbukaan kepada publik dan upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap yayasan tersebut. Peran dan kontribusi organisasi pengelola zakat dalam meminimalisir tindak pidana korupsi antara lain: melakukan upaya pencegahan, mendukung upaya penegakan hukum, advokasi dan kampanye, public fundrising,dan pelayanan publik.

Sedangkan yang tergolong tindak pidana korupsi menurut Tama perwakilan dari ICW, antara lain kerugian keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

Untuk memerangi tindak pidana korupsi ini, tidak cukup jika hanya dilakukan oleh segelintir orang. Perlu menggandeng beberapa organisasi islam, ICW, juga Kementerian Agama. Indikator kesuksesan penanganan korupsi ini sangat tergantung pada sikap proaktif masyarakat dalam melaporkan tindak pidana korupsi, partisipasi media dalam memberitakan korupsi, serta penegakan hukum yang berlaku.

 

MICROLIBRARY “Perpustakaan Berdaya, Masyarakat Sejahtera”

Perpustakaan di Indonesia saat ini masih belum populer di masyarakat. Hal ini diketahui dari setiap penelitian yang dilakukan terkait aktivitas membaca. Pada tahun 2006 berdasarkan data Badan Pusat Statistik menunjukan, masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Masyarakat lebih memilih menonton televisi (85,9%), mendengarkan radio (40,3%) daripada membaca koran (23,5%). Dilanjutkan pada tahun 2009 berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur.

Dikuatkan kembali dengan pernyataan dari UNESCO di tahun 2011 bahwa indeks membaca masyarakat Indonesia hanya 0,001 (dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi). Lalu,pada penelitian terakhir dalam penilaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pada tahun 2012 Indonesia menempati posisi 124 dari 187 Negara dunia. Adapun penilaian ini berdasarkan terpenuhinya kebutuhan dasar penduduk, termasuk kebutuhan pendidikan, kesehatan dan ‘melek huruf’.

Menjawab tantangan tersebut Pusat Sumber Belajar (PSB), Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa bekerja sama dengan SHAU Architecture, Dompet Dhuafa Jawa Barat, dan Pemerintah Kota Bandung membangun Perpustakaan Umum di Taman Bima yang diberi nama Micro Library (Miclib).

Miclib yang didirikan di Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung ini bertujuan menciptakan kebiasaan dan kegemaran membaca untuk anak-anak sejak usia dini, menunjang kegiatan belajar masyarakat baik yang bersifat formal maupun informal dalam segala tingkatan, memberikan kesempatan kepada tiap individu untuk mengembangkan kreativitasnya, sebagai pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitar, juga untuk mendukung dan berpartisipasi dalam kegiatan pemberantasan buta huruf untuk semua umur. Selain itu, Miclib didirikan sebagai wujud dukungan Pemerintah Kota Bandung dengan program pendidikan yang menyediakan perpustakaan di taman kota.

Adapun fasilitas yang terdapat di Miclib antara lain beragam koleksi buku pengetahuan umum, buku anak-anak, mainan tradisional, alat peraga PAUD, serta beragam kegiatan seperti knowledge sharing, story telling, English club, dan Gemari Baca.

Kehadiran Miclib di tengah-tengah masyarakat Bandung ini sudah sangat ditunggu-tunggu. Secara resmi, Miclib akan diluncurkan pada Sabtu 5 September 2025 di Taman Bima Bandung, Jalan Bima Kelurahan Arjuna Kecamatan Cicendo, Bandung. Peluncuran Miclib akan dihadiri oleh Walikota Bandung, Ridwan Kamil beserta jajarannya, Dompet Dhuafa, SHAU beserta jajarannya. Turut hadir dalam agenda ini anggota pemerintahan setempat, Komunitas Baca Kota Bandung, Indonesia Diaspora, mitra strategis dan donatur, tokoh masyarakat dan pemuka agama wilayah setempat, serta warga sekitar.

“Dengan adanya Miclib ini diharapkan perpustakaan semakin populer di tengah-tengah masyarakat sehingga dengan keberadaaanya mampu menjadi elemen yang berdaya yang nantinya dapat menyejahterakan masyarakat, membawa keberkahan serta kebermanfaatan bagi warga Arjuna dan sekitarnya pada khususnya dan warga Bandung pada umumnya”, ujar Dini Wikartaatmadja, Koordinator Pengembangan Perpustakaan Dompet Dhuafa. (WAD)