Zona Nyaman Seorang Guru

IMG-20161125-WA0004

Oleh: Nizamuddin, S.T.

“ Mudah-mudahan pelatihannya dua hari saja, sudah kangen anak istri nih…” demikian ucap salah seorang peserta di sela pelatihan peningkatan kompetensi guru. Perkataan sederhana yang menggambarkan kerinduan seorang peserta yang tidak terbiasa pergi dalam jangka waktu lama meninggalkan keluarganya. Peserta tersebut sebenarnya mengetahui bahwa pelatihan penting itu akan berlangsung selama empat hari di penginapan yang telah disediakan penyelenggara, namun kebiasaan berkumpul dengan keluarga, memunculkan rindu pada keluarga yang terobati hanya dengan pertemuan. Seandainya saja pelatihan ini tidak menjadi kewajiban, tentunya ia akan memilih untuk tetap bekerja seperti rutinitas yang selama ini ia lakukan dengan pergi pagi dan kembali pulang pada sore hari.

Kebiasaan berkumpul dengan keluarga, membuat berat jarak yang ada. Akan lebih menyenangkan berkumpul dengan keluarga dari pada berjauhan. Pada kondisi ini, kedekatan dengan keluarga merupakan kondisi nyaman manusia. Istilah kondisi tersebut di lingkungan sarjana psikologi lebih populer disebut dengan Zona Nyaman (comfort zone). Yang menurut Komarudin Hidayat (2016 :24) menunjuk pada keadaan, situasi, dan wilayah yang dirasakan mendatangkan rasa nyaman, aman, dan tidak berbahaya sehingga seseorang enggan keluar dari wilayah itu.

Ingin selalu dekat dengan keluarga hanya satu contoh bahwa kita berada pada zona nyaman. Dapat dikatakan pula kita berada pada zona nyaman saat kita cukup puas dengan rutinitas yang kita lakukan sehari-hari. Atau bahkan contoh yang lebih ekstrim, jika kita memilih untuk diam saat kezaliman terjadi untuk menghindari resiko adalah gambaran bahwa kita sedang berada pada zona nyaman. Hampir setiap manusia cenderung mencari zona nyaman bagi dirinya walau kenyamanan dapat membatasi kita dari kebaikan yang lebih besar, atau dari keadaan yang lebih baik bahkan dari kebenaran yang sejati.

Berada pada zona nyaman membuat kecenderungan manusia tidak mau meninggalkan kondisi saat itu. Merasa tak perlu memperbaiki kondisi yang ada, tak mau berubah menjadi lebih baik, dan tak ingin mencari hal baru yang lebih menantang. Kondisi yang demikian membuat stagnasi hidup cukup pada apa yang ada. Masih beruntung jika yang ada itu adalah kondisi baik, yang berbahaya jika kondisi yang ada adalah kondisi tidak baik dan kita tidak berbuat apa-apa.

Tak berbeda juga yang dialami oleh guru, berada pada zona nyaman berarti saat guru merasa cukup dengan apa yang ia lakukan selama ini, atau merasa tak perlu mengembangkan metode mengajar yang ia lakukan, ataupun saat berdiam diri ketika mutu pendidikan di sekolah tempatnya mengajar menurun karena khawatir pada cibiran rekan kerjanya. Gurupun manusia yang memiliki kecenderungan yang sama dengan yang lainnya. sehingga kenyamanan dapat membatasinya dari hal baik yang dapat diperolehnya.

Kebiasaan mengajar dengan metode yang sama dan pemahaman pembelajaran yang difahami selama bertahun-tahun dapat membentuk zona nyaman bagi guru. Zona nyaman yang membuatnya merasa cukup dengan pencapaian yang ia raih selama ini. Zona nyaman yang menutup pintu rapat-rapat bagi pengetahuan baru yang dapat meningkatkan kompetensinya sebagai guru. Ia merasa cukup dengan apa yang ia capai selama ini, padahal dunia terus berubah, perkembangan zaman semakin pesat, namun ia lebih memilih tetap pada kondisi kompetensinya saat ini.

Jika akal, emosi dan jiwa lebih guru cenderung pada kenyamanan yang bersifat tidak baik maka perilaku yang muncul akan cenderung menghindari kesusah payahan.  Saat diminta meningkatkan kompetensi pedagogi dalam hal mempersiapkan administrasi perangkat mengajar, ia lebih memilih untuk mengunduh dan memodifikasi perangkat mengajar yang ia dapatkan dari internet dari pada bersusah payah menyusun perencanaan pembelajaran tersebut sendiri. Saat diminta mengembangkan wawasan dengan membaca buku, ia lebih memilih untuk mencari artikel yang bertebaran di internet yang memiliki tingkat validitas rendah. Atau saat ia ditugaskan mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan kompetensinya, ia lebih memilih untuk merekomendasikan rekan lainnya mengikuti pelatihan tersebut.

Tentunya tidak satupun sekolah menghendaki memiliki guru yang tidak ingin sama sekali keluar dari zona nyamannya. Namun tak dapat dipungkiri, guru yang memiliki sifat seperti ini tidaklah sedikit. Dan keberadaan guru tersebut sangat mempengaruhi kualitas pembelajaran yang berarti menentukan kualitas pendidikan yang terselenggara dan pencapaian tujuan pendidikan di sekolah tersebut.

Oleh karena dapat memberi pengaruh besar terhadap kualitas pendidikan di sekolah tersebut, tentunya sekolah harus dapat mengatasi permasalahan ini. Permasalahan yang bersumber dari keengganan guru keluar dari zona nyamannya. Yang dapat berakibat buruk terhadap kualitas pendidikan yang terselenggara. Dan tentu bukanlah hal mudah dan singkat untuk mengatasi hal ini. Memerlukan waktu dan keefektifan program yang dijalankan. Mulai dari penyatuan visi dan misi sekolah, kurikulum pendidikan bagi guru, peningkatan kesejahteraan bagi guru, pendekatan persuasif, bahkan hingga penerapan sistem reward and punishment dapat menjadi upaya yang dilakukan oleh sekolah untuk meningkatkan kesadaran ini.

Kesadaran untuk belajar sepanjang hayat seharusnya dimiliki setiap guru. Karena dalam proses belajar, akan terjadi perubahan, pengembangan, dan peningkatan yang akan linier dengan peningkatan kualitas pendidikan yang dihasilkan.

Guru harus belajar. Guru harus mau meningkatkan kompetensi dirinya. Guru harus mau berubah menjadi lebih baik. Guru harus mau melakukan refleksi diri. Walau itu semua mengharuskan guru keluar dari zona nyamannya. Karena belajar, berlatih, dan berubah tidak selalu menyenangkan. Dan saat guru bersedia keluar dari zona nyamannya untuk belajar serta berubah, maka sang guru tengah berproses menjadi Guru Pembelajar.

#Humanesia #SekolahLiterasiIndonesia #MakmalPendidikan

Komentar

komentar