Yakin Pasti Bisa

Dulu Timika merupakan kota kecil yang dikelilingi oleh hutan belantara. Mayoritas penduduknya orang Papua asli.

Tapi sekarang Timika bagaikan Jakarta kedua, pembangunan begitu pesat dan lalu lalang kendaraan tiada hentinya. Penduduk yang kini memadati Timika kebanyakan pendatang dari luar Papua. Salah satunya adalah saya, yang merantau dari Medan mengadu nasib sebagai guru.

Pengalaman pertama mengajar saya di Timika terjadi pada 2007, sebagai tenaga honorer di salah satu sekolah inpres di dekat pelabuhan. Pertama datang ke sekolah tersebut, saya merasa sedih melihat bangunan yang masih jauh dari kata layak. Hingga akhirnya pada 2009 saya diterima di salah satu sekolah di dalam kota Timika. Saya pindah tempat mengajar karena sekolah pertama itu sangat jauh dari tempat tinggal. Ternyata kondisi sekolah yang kedua ini pun hampir sama dengan sekolah pertama, baik dari fisik bangunan maupun kualitas guru-gurunya. Beruntunglah pada 2009 saya diterima sebagai PNS, dan dua tahun kemudian ditempatkan di SD Inpres Timika II.

Awal saya masuk ke sekolah ini, ruangan masih kelihatan kumuh. Sampah di mana-mana karena tidak ada penghijauan. Ruangan belajar juga masih kurang karena jumlah murid yang sangat banyak. Setiap kelas rata-rata terisi 70-75 siswa.

Di balik keterbatasan ruangan, saya justru merasa bangga dengan guru-guru yang begitu hebat bisa mengajar di depan kelas dengan murid yang begitu banyak. Bayangkan, dengan ruangan sebanyak 15 harus diisi oleh murid sebanyak 1000 lebih! Belum lagi ruangan sekolah kami dipakai bergantian dengan salah satu sekolah negeri. Karena itulah, saya menganggap manusiawi saja bila teman-teman guru terkadang emosi dengan ulah beberapa siswa di tengah ruangan yang terbatas dan panas pula. Saya sendiri juga terkadang melakukan respons serupa ketika mendapati anak suka berteriak dalam kelas ataupun keluar-masuk ruangan.

Awal masuk sekolah saya ditempatkan di kelas 3. Ternyata siswa yang saya didik terdiri dari beragam suku. Hampir semua suku yang ada di Indonesia ada di sekolah kami, khususnya di kelas yang saya ajar. Di sini lah saya baru menyadari tantangan yang besar buat saya; bagaimana cara saya sebagai seorang guru menghadapi anak-anak beragam latar belakang itu.

Pertama saya mengajar, manajemen kelas masih kacau-balau. Guru-guru lain juga masih serba terbatas ilmunya sehingga tidak banyak membantu ketika saya ajak berdiskusi. Hingga pada akhirnya doa kami didengar oleh Tuhan Yang Mahaesa melalui kehadiran Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Pada 2011 bangunan sekolah kami mulai direnovasi. Ternyata bukan hanya gedung yang diperbaiki, melainkan juga mutu guru-guru dikembangkan dengan diadakannya pelatihan dan pendampingan. Trainer dan Pendamping Sekolah selalu memotivasi kami untuk terus mengembangkan kemampuan diri. Di sini lah kami mulai yakin bahwa kami pasti bisa. Karena tidak ada yang tidak bisa kalau kita berusaha dan belajar.

Kami juga diajarkan tentang manajemen kelas. Menghadirkan pembelajaran di kelas dengan ceria dan kreatif. Mengganti hukuman sarat ‘kekerasan’ dengan menerapkan kedisiplinan berdasarkan peraturan yang disepakati bersama. Hasil penerapannya, kayu atau pemukul meja yang biasa dibawa guru mulai ditinggalkan.

Tidak hanya guru-guru yang semakin hebat, anak-anak didik kami pun mulai ba-nyak mengukir prestasi, baik di tingkat Papua maupun di luar Papua.

Untuk maju memang selalu ada perjuangan dan rintangan. Tidak setiap pelatihan yang diberikan secara otomatis bisa diterapkan. Bukan karena ilmunya yang salah, melainkan karena manusia yang harus melakukannyalah yang enggan untuk menerapkan.

Pelatihan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) misalnya, sejatinya amat bermanfaat. Sayangnya, ada beberapa guru yang susah untuk diajak terlibat. Saya pun awalnya begitu, masih susah menyambutnya dengan gembira. Setelah berpikir sekian waktu, barulah saya antusias mengikuti pelatihan.

Kelompok Kerja Guru (KKG) dibentuk sebagai wadah tukar pendapat dan ga-gasan guru. Awalnya guru-guru kelas 3 yang memulai. Kami pun membentuk dan menyatukan peraturan dan prosedur di dalam kelas, membuat RPP bersama-sama, dan memulai pembelajaran secara tematik. Hasilnya, begitu banyak kemajuan yang kami capai, baik oleh guru-guru maupun anak-anak. Melihat perkembangan positif di kelas 3, guru-guru yang lain membentuk KKG kelas 4 dan KKG kelas 5. Hingga akhirnya sekolah memutuskan untuk membentuk KKG sekolah yang diadakan sebulan sekali.

Yang juga menarik dari program pendampingan adalah melatih guru-guru menjadi seorang trainer. Awalnya kami dilatih menjadi trainer di hadapan teman-teman guru di sekolah sendiri. Setelah itu, dipilihlah beberapa guru untuk menjadi trainer, yang kemudian dinobatkan menjadi guru model. Saya senang dan bersyukur karena terpilih sebagai salah satu guru model.

Sungguh luar biasa buat saya dan rekan-rekan atas predikat ini. Sebuah tantangan yang berat karena kami harus berusaha sebaik mungkin untuk lebih maju lagi dibandingkan teman-teman guru yang lain. Walau terasa berat, tanggung jawab yang sudah diberikan kepada kami tidak akan kami sia-siakan begitu saja.

Amanah tersebut bisa kami laksanakan sampai sekarang dengan bantuan dan dukungan semua guru. Pengalaman yang sangat luar biasa buat saya—dan tidak bisa saya lupakan—adalah saat disupervisi oleh tim yang terdiri atas Ibu Kepala Dinas, Ketua Komite Sekolah (yang saat itu dijabat Kepala Dinas Pertambangan), Kepala sekolah, Pak Zayd (selaku trainer Makmal Pendidikan). Ini-lah tantangan terberat buat saya dan seorang rekan guru yang terpilih untuk disupervisi. Walau deg-degan dan grogi yang sangat luar biasa, saya tetap berusaha percaya diri dengan apa yang saya miliki. Tidak pantang menyerah dan berusaha sebisa saya karena di baliknya saya yakin pasti bisa. Pengalaman dan pelajaran ber-harga pun saya dapat hari itu dari beragam masukan tim yang mensupervisi.

 

Mediana Sitompul

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres Timika II, Mimika (Papua)

Komentar

komentar