Wordview Kemerdekaan

Oleh: Mirna Kartika (Koordinator KOMED Bandung.

72 tahun sudah kemerdekaan Indonesia, dan setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda dalam memaknai kemerdekaan. Hal itu tidak terlepas dari sudut pandang mana orang melihat kemerdekaan dan latar belakangnya. Tentunya cara pandang seorang pejabat akan jauh berbeda dengan cara pandang masyarakat biasa pada umumnya. Dan menjadi hak asasi setiap orang untuk berbeda memaknai kemerdekaan Itu sendiri.

Merdeka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bebas, tidak terikat. Adapun makna kemerdekaan adalah terbebas atau tidak terikat dari penjajahan. Seperti halnya Kemerdekaan Indonesia Tahun 1945 sejatinya adalah terbebasnya Bangsa Indonesia dari penjajahan dan penguasaan daerah oleh Belanda dan Jepang. Tahun 1945 menjadi titik balik kejayaan Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaannya yang dtandai oleh Deklarasi Kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta.

Kemerdekaan Indonesia diraih dengan penuh perjuangan dan pengorbanan, ada airmata dan Nyawa, darah dan keringat yang mengalir menyertai terploklamirkannya kemerdekaan Indonesia. Monumen-monumen perjuangan dibangun serta prasasti-prasasti terpatri sebagai penghargaan atas jasa-jasa para pahlawan yang telah berjuang demi merdekanya Indonesia. Tentu hal itu juga sebagai pengingat bagi kita bahwa kebebasan yang kita nikmati sekarang, kenyamanan hidup yang kita jalani terwujud  dengan pengorbanan nyawa-nyawa para pejuang. Lalu, apa benar dengan kebebasan, kenyamanan, modernisasi, dan tekhnologi yang kita nikmati hari ini pertanda kemerdekaan?

Tahun 1998 dikenal dengan bangkitnya bangsa Indonesia dari kungkungan Rezim Soeharto yang menguasai Indonesia selama 32 Tahun memimpin sebagai Presiden yang kita kenal dengan Reformasi. Soeharto dianggap telah merugikan Negara dengan tindakan KKN (korupsi,kolusi dan nepotisme), dianggap telah memperkaya diri dan keluarganya, menyalahgunakan jabatan demi kepentingan pribadi. Lalu apakah dengan digulingkannya soeharto tindak KKN sirna, fakta yang terjadi hari ini tindak korupsi bak virus yang cepat menyebar, istilah kerennya Korupsi Berjama’ah, karena yang melakukan tidak hanya para petinggi Negara saja tetapi pejabat setingkat Camat, Lurah dan Rw pun berpeluang melakukan korupsi. Para pendidik yang kita kenal sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dewasa ini banyak terdengar terjerat oleh tindak korupsi, dan nepotisme. Lalu inikah yang kita maknai dari kemerdekaan?

Sedikit menengok ke masa lalu, masih Ingatkah kita ada apa di tanggal 21 April? Ya, Hari Kartini, harinya sang pahlawan emansipasi wanita di Indonesia. Kartini telah mengubah derajat wanita yang dianggap tidak tahu apa-apa dan dinilai cukup bekerja sebagai ibu rumah tangga. Melalui goresan tintanya ia menilai bahwasanya wanita memiliki hak yang sama untuk memberikan sumbangsih kepada negara dan berbuat lebih untuk kemajuan ibu pertiwi. Kalau boleh dikatakan tanggal 21 April adalah hari kemerdekaan para wanita dari kebodohan dan ketidakberdayan. Hari ini, telah lahir kartini-kartini hebat yang mengubah wajah Indonesia seperti Megawati yang kita kenal sebagai Presiden Wanita pertama di Indonesia, Sri Mulyani yang menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia di Washington DC, dan Menteri Kelautan Indonesia Susi Pudjiastuti yang hanya tamatan SMP namun memiliki keberanian dalam menghadapi para nelayan illegal dan berhasil mengamankan laut Indonesia. Tapi kita lihat sisi lain prostitusi semakin marak, aborsi bukanlah hal yang aneh lagi, bahkan saking sibuknya mereka lupa tugas utama sebagai tonggak pendidikan keluarga; sebagai pejuang untuk membentuk karakter bangsa yang kuat; sebagai tempat berkeluh kesah para generasi muda. Lalu apa benar ini adalah makna kemerdekaan?

Mari kita lihat potret perekonomian Indonesia di era Digital Native yang digadang-gadang sebagai revolusi ekonomi dengan dibukanya pasar bebas APEC. kebebasan ini tentu menguntungkan karena tidak susah lagi untuk Indonesia memasarkan produk-produknya ke Negeri Tetangganya, salah satu yang terkenal dimancanegara adalah Batik Indonesia. Munculnya investor-investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia, secara kasat mata hal ini memang meningkatkan ekonomi Indonesia, terbukti dengan menguatnya rupiah di pasar bursa. Namun apakah semua itu bisa melepaskan bangsa ini dari kemiskinan, nyatanya penduduk Indonesia belum bisa Mandiri dalam ekonomi, maraknya Kredit, Koperasi, monopoli perdagangan yang dikuasai warga asing, apakah ini bukti Merdekanya Indonesia?

Aspek Pendidikan Indonesia sangat menarik untuk kita dalami, apakah setelah munculnya Ki Hajar Dewantara pertanda merdekanya pendidikan Indonesia? Buktinya pendidikan di Indonesia seolah kehilangan jati diri. Seringnya berganti kebijakan menjadikan pendidikan kita dalam keadaan yang selalu prematur yang sangat rentan untuk jatuh dan goyah. Pendidik kebingungan untuk selalu beradaptasi dengann kurikulum baru sehingga terkadang lupa fungsi utama pendidik sebagai pembimbing. Seperti semboyan pendidikan Indonesia “ing ngarsa sing tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani“ (di depan memberi contoh, di tengah membuat karya, dibelakang memberi dorongan) disadari atau tidak tiga semboyan ini sudah mulai terpinggirkan karena beban guru yang begitu banyak, baik beban administrasi maupun beban kehidupannya sendiri.

Sekali lagi pandangan orang maupun pendapat yang dikemukakan pasti beragam, boleh jadi membenarkan bahwa Indonesia sudah Merdeka tapi boleh jadi sebaliknya, Merdeka adalah berkompromi dengan diri untuk selalu berjalan sesuai aturan tanpa merugikan orang lain dan berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat manusia. Tak perlu menjadi Soekarno ataupun Hatta cukup jadi diri sendiri yang berpegang pada prinsip hidup dan menjalankan kehidupan sesuai syariat agama dan ketentuan bernegara.

Komentar

komentar