Warung Kejujuran MI Cibengang

cibengga

Di sekolah mana pun kegiatan belajar mengajar selalu dilakukan dengan cara yang sama, terkesan monoton. Belajar di kelas bersama guru dari mulai belajar matematika, IPA, IPS, Bahasa Indonesia, dan masih banyak pelajaran lainnya, semua dilakukan di dalam ruang kelas masing-masing. Kebosanan biasanya akan sirna ketika jam istirahat tiba, jam yang ditunggu-tunggu semua siswa.

Setelah lonceng berbunyi anak-anak berlarian keluar kelas untuk menuju ke warung yang berada persis di samping sekolah kami di MI Cibengang. Warung ini ditinggalkan oleh penjualnya, tapi sebelum pergi meninggalkan warungnya ia sudah menyediakan beberapa makanan ringan kesukaan anak-anak. Bukan berarti penjual ini tidak mau menjajakan dagangannya, justru penjual ini ingin memberikan sedikit pembelajaran untuk anak-anak. Lantas, pembelajaran apakah yang dimaksudkan oleh sang penjual?

Setiap hari Senin di MI Cibengang dibuka Warung Kejujuran untuk anak-anak yang mau jajan. Mengapa demikian? Inilah bentuk sinergi antara sekolah dengan masyarakat yang bersatu untuk memberikan pembelajaran kepada anak-anak. Karena mereka sadar bahwa pendidikan bagi anak-anak, bukanlah tugas seluruh dari pendidik atau sekolah, melainkan harus ada peran lain yang ikut mendorong berlangsungnya pedidikan bagi anak yaitu, masyarakat.

Di luar jam sekolah  masyarakat masuk sebagai pendidik untuk memberikan pembelajaran bagi anak-anak lewat warung kejujuran ini. “Saya sengaja meniggalkan jajanan ini di warung tanpa dijaga, karena saya ingin melatih kejujuran anak-anak pada saat mengambil jajanan yang saya sediakan,” jelasnya Ma Okom salah satu penjual jajanan di sekolah. Karena pembelajaran kejujuran harus ditanamkan pada anak-anak sejak dini,  jadi agar terbiasa dan menjadi karakter di setiap anak, sambungnya.

 

Syaeful Bahri

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.