Wajah Perpisahan Wajah Penuh Perjuangan

Wajah Perpisahan Wajah Penuh Perjuangan

Oleh: Oki Dwi Ramadian

Di sudut itu mereka sedang bersenda gurau sedangkan di sebelah sana tawa terpecah berkeping-keping. Semuanya larut dalam suasana yang ceria itu. Kemudian seoarang Konsultan Relawan (KAWAN) melontarkan lelucon garing. Membahanalah lagi tawa di dalam ruangan sederhana tempat kami melaksanakan sesi pengambilan foto. 24 KAWAN terlihat begitu bahagia bersama.

Beberapa diantara 24 KAWAN ada yang memulai mengambil foto sesi yang memiliki tema seperti pengambilan foto berdasarkan pulau asal, kamar tempat tinggal, gender dan tema-tema lainnya. Aku yang dari Pulau Sulawesi sekaligus penghuni kamar “rapi” ikhlas saja diseret-seret mengikuti setiap rangkaian kegiatan itu. Terlihat beberapa KAWAN juga sedang berpose dengan lihai bersama Kawan-kawan. Sekadar informasi, jumlah ikhwa dari Kawan SLI angkatan 2 adalah delapan orang. Kami menempati sebuah paviliun di lantai dua sebuah gedung di dalam kompleks Bumi Pengembangan Insani (BPI). Ada dua kamar yang disediakan untuk KAWAN ikhwan masing masing diberi nama “rapi” dan “ringkas.”

Aku merasa khawatir. Khawatir akan waktu yang diam-diam mengintai, jika waktu itu menyergap kamilah yang akan meninggalkan BPI menuju lokasi penempatan masing-masing yang entah akan berada di mana. Wajah-wajah itu akan segera pergi begitu pula peristiwa hari ini akan menjadi kenangan. Mungkin tidak bisa terulang lagi. Candaan, tawa, pose, dan wajah-wajah itu segera menghilang dari pandangan selama kurang lebih setahun. Tak apa. Tidak perlu khawatir. Sekarang bukan waktunya untuk berpisah. Saat ini biarlah kami larut dalam suasana yang hangat ini.

Hingga tiba waktu makan malam, kami berjalan menuju ruang makan. Salah satu Kawan ada yang memulai menghitung-hitung lama waktu kebersamaan yang tersisa. Pikirku, bukan hanya saya yang merasa khawatir bertemu dengan perpisahan dengan Kawan-kawan. Kami menghitung dimulai dari waktu pelaksanaan Praktek Konsultasn Sekolah (PKS), pelaksanaan perkuliahan SLI, pengumuman penempatan tugas, dan hitungan-hitungan ;lain yang muncul dikepala. Hasilnya, tidak lama lagi perpisahan akan segera datang padahal baru saja tepat seminggu kami hidup bersama. Cepat juga waktu berputar di sini. Diriku terlena.

Kebiasaan makan kami KAWAN cowok adalah makan bersama-sama berdelapan di satu meja yang dekat aksesnya  ke mana-mana. Meja itu sama saja bentuknya dengan semua meja lain yang memanjang. Aksesnya dekat ke meja yang menyajikan makanan. Posisi meja itu juga dekat dengan galon tempat mengambil air minum. Karena kemudahan mengakses ke dua fasilitas itulah membuat kami senang menempatinya.

Kami makan dengan tahzim. Memang aku melihat wajah mereka biasa saja. Canda-tawa dan obrolan pun masih kami tunjukkan namun jauh di hati dan pikiran mereka adalah sebuah ruangan yang tidak ada satu pun yang tahu kecuali Tuhan semesta alam. Aku tidak dapat masuk ke dalam ruangan milik kawan-kawanku. Biarlah begitu saja.

Komentar

komentar