Upaya MENTASSIK Melalui Program FENASLI

(Upaya Meningkatkan Kualitas Sekolah IndonesiaKu Melalui Program Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia)

Oleh: Nurdiana Nasution, S.Pd

Indeks pembangunan pendidikan Indonesia yang masih tergolong rendah. Hasil ini berdasarkan analisis yang digunakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) yang dilakukan pada 76 negara dengan menggunakan standar global yang lebih luas  menggunakan tes PISA pada tahun 2015 bahwa Indonesia berada pada peringkat 69. Betapa mirisnya hati melihat kondisi pendidikan indonesia sekarang ini, namun demikian hal yang bisa dilakukan adalah tetap berusaha dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia dan menjadikan peringkat yang kita peroleh saat ini sebagai penyemangat dalam meningkat mutu/kualitas pendidikan.

Cara pelaksanaan pendidikan di Indonesia sudah tentu tidak terlepas dari tujuan pendidikan Indonesia yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa yang terdapat dalam UUD 1945. Rendahnya kualitas pendidikan Indonesia terjadi karena banyaknya kendala yang mempengaruhi peningkatan kualitas pendidikan.

Menurut Soedijarto (1991 : 56) bahwa rendahnya mutu atau kualitas pendidikan disebabkan oleh karena pemberian peranan yang kurang proporsional terhadap sekolah, kurang memadainya perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan sistem kurikulum dan penggunaan prestasi hasil belajar  secara kognitif sebagai salah satu-satunya indikator keberhasilan pendidikan juga disebabkan karena sistem evaluasi tidak secara berencana didudukkan sebagai alat pendidikan dan bagian terpadu dari sistem kurikulum.

Melihat kondisi ini tentu harus adanya upaya yang dilakukan oleh pemerintah maupun lembaga-lembaga yang yang berhubungan dengan pendidikan sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia sehingga tercapainya tujuan pendidikan nasional. Hal ini terjawab dengan adanya program FENASLI. Apa itu FENASLI? FENASLI itu singkatan dari Konferensi Nasional Sekolah Literasi Indonesia yang diadakan oleh Lembaga Dompet Dhuafa Pendidikan pada Divisi Makmal Pendidikan. Makmal pendidikan merupakan adalah sebuah laboratorium pendidikan yang berusaha menjawab kebutuhan peningkatan kualitas guru dan sekolah melalui pelatihan guru, pendampingan dan Sahabat Guru Indonesia (SGI). Program pendampingan sekolah yang dilakukan Makmal Pendidikan dari 1- 3 tahun tergantung kebutuhan dan kualitas sekolah tertentu. Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan itu adalah Rina Fatimah dan manager dari SLI (Sekolah Literasi Indonesia) Abdul Halim. Jadi SLI ini merupakan salah satu departemen program yang terdapat dalam Makmal Pendidikan.SLI adalah model sekolah berbasis masyarakat yang berkonsentrasi pada peningkatan kualitas.

Jadi program FENASLI ini baru pertama   dibuat pada tahun 2017 dengan mengundang 37 Kepala sekolah yang tentunya berasal dari 37 sekolah yang tergolong 4 kategori sekolah yaitu Sekolah Desa, Sekolah Kota, Sekolah Urban dan Sekolah Beranda. Pesertanya berasal dari daerah NTB, NTT, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Banten, Sumsel, Sumut, Jakarta, Kalbar, Kalimantan Utara dan Riau. Lamanya pelatihan yang dilakukan yaitu seminggu. Tujuan dari kegiatan ini ada  4 poin yaitu :

  1. Peserta mampu menjelaskan program SLI yang sedang berjalan
  2. Peserta mampu mengkoordinir dan mengimplementasikan program SLI
  3. Peserta mampu menerapkan konsep program SLI
  4. Peserta mampu membuat rencana aksi untuk meningkatkan kualitas sekolah

Hari pertama pelatihan dimulai dengan adanya kata sambutan dari Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan beliau menyampaikan visi dari DD pendidikan dan menceritakan mengenai kepemimpinan. Berhasil atau tidaknya suatu lembaga tergantung kepada siapa pemimpinnya demikian juga dengan sekolah berhasil atau tidaknya sekolah tergantung kepada kepemimpinan kepala sekolahnya. Bahwa untuk mencapai suatu tujuan maka harus adanya pemimpin yang ideal yang dapat menjadikan dirinya teladan bagi orang lain, meningkatkan kedisiplinan. Setelah kata sambuatn dari buk Rina selaku Direktur DD Pendidikan dilanjutkan lagi oleh Pak Zaim Uchrowi dengan tema “Mewujudkan Kepemimpinan Sekolah Berkualitas”

Berdasarkan IPM (Indeks Pembangunan Manusia) pada tahun 2016 bahwa Pendidikan Indonesia berada  pada peringkat 113 dari semua negara. Sedangkan peringkat pertama diraih oleh Norwegia. Negara yang berada dibawah Indonesia adalah Palestina, betapa malunya kita yang hanya beda satu level dengan Palestina. Mengapa malu? Karena kita adalah negara yang merdeka yang seharusnya pendidikan  di negara  lebih jauh lebih baik dari negara Palestina yang saat ini masih dijajah. Dalam mencapai sekolah yang berkualitas tentunya kita harus mewujudkan kepemimpinan yang memiliki peradaban. Tahap peradaban ada 4 yaitu Pratradisional, Tradisional, Modern dan Madani. Seharusnya pemimpin itu memiliki peradaban yang Madani dan mampu juga menciptakan guru maupun siswa menuju kepada peradaban Madani (tidak berhenti kepada peradaban Modern saja). Jika saat ini lingkungan sekolah yang kita miliki masih berada kepada peradaban tradisional maka ini menjadi tugas dari kepala sekolah untuk membina supaya terwujudnya peradaban madani. Seharusnya  kepala sekolah dapat menunjukkan keteladanan bagi guru-gurunya.  Keteladanan yang dapat kita tanamkan di sekolah yaitu kedisiplinan, kejujuran, kepedulian, ketaqwaan, ketekunan dan lain sebagainya. Konsep pendidikan Indonesia menurut Ki Hajar Dewantara yaitu Ilmu, Amal dan Iman yang semuanya sangat bergantung kepada iman dan ketiganya itu dikatakan sebagai among keteladanan. Pendidik tidak hanya cukup menyampaikan materi saja didalam kelas tetapi juga harus dapat menunjukkan keteladanan bagi siswanya, jangan sampai kita sebagai pendidik hanya menuntut siswa untuk memiliki karakter sementara diri kita sendiri belum  bisa menunjukkan keteladanan untuk mereka sehingga tak heran kalau karakter anak didik sekarang sangat bermasalah. Dalam menunjukkan keteladanan perlu addanya pembiasaan karakter  yang meliputi nilai dan keyakinan, peratuan dan prosedur serta pembiasaan karakter. Hal yang paling utama dalam mendidik yaitu menanamkan karakter pada siswa, kemudian diiukuti dengan Ilmu (Pengetahuan). Bukan berarti Ilmu tidak penting tapi karakter/adab itu yang harus lebih ditanamkan kepada siswa. Jangan sampai kita memiliki siswa yang dari segi akademik sangat bagus tetapi memiliki karakter/adab yang sangat buruk. Ubah paradigma kita bahwa kepintaran itu hanya nomor sekian yang paling penting itu memiliki adab. Kepintaran saja tidak menjamin untuk sukses, karena yang terpenitng adalah beradab. Jadikan ilmu itu sebagai jalan membentuk manusia yang beradab di era globalisasi.

Kepala sekolah selaku pemimpin harus menunjukkan keteladanan. Keteladanan itu tanpa kata-kata (bukan sekedar omongan yang kesan mengatur suatu kaum yang hanya mengharapkan perubahahan suatu kaum saja tanpa kita melakukannya), tapi keteladanan itu lebih kepada perbuatan yang ditunjukan kepada orang-orang yang kita pimpin, biarkan mereka melihat sendiri hal yang kita lakukan sehingga dapat membuat keyakinan yang kuat bagi diri mereka. Misalnya begini, jika kita sebagai kepala sekolah mengharapkan semua guru hadir tepat waktu ke sekolah maka bukan berarti itu hanya berlaku buat guru dan bagi kita tidak berlaku, mungkin kita berpikir kita yang buat aturan atau kita yang pemimpin mereka sehingga merasa kita tidak perlu melakukannya (guru tidak boleh terlambat datang ke sekolah tapi kepala sekolah boleh saja terlambat datang ) jika masih seperti itu pemikiran yang dimiliki oleh pemimpin/kepala sekolah maka tidak akan terciptanya kedisiplinan bagi guru-guru karena mereka pasti berpikir bahwa kepala sekolah saja tidak pernah menaati aturan. Jadi ketika kita menginnginkan orang-orang yang kita pimpin disiplin maka itu harus dimulai dari diri kita sendiri dengan menunjukkan keteladanan bagi mereka yaitu dengan datang tepat waktu ke sekolah. Menurut Pak Zaim bahwa untuk menjadi pemimpin yang baik itu harus 1memiliki cinta/ kasih sayang kepada guru-guru atau staff dan lebih fokus memperhatikan mereka,2memiliki keteladan 3memiliki 5 kompetensi kepala sekolah yaitu 1)kompetensi manajerial 2) kompetensi Kewirausahaan 3) kompetensi supervisi 4) kompetensi kepribadian 5) kompetensi sosial dan kemudian 4memiliki  SPIRIT ( Sinergi, Persisten/ulet, Inovatif, Care/peduli, continuous Improvment/perbaikan berkelanjutan dan Trustworthy/amanah).

Setelah mendapat materi dari pak Zaim, para peserta dibawa ke Smart Ekselensia dan memperkenalkan  Divisi yang ada di Dompet Dhuafa Pendidikan. Divisinya yaitu Makmal Pendidikan, Beastudi Indonesia dan Sekolah Model (Smart Ekselensia). Ketika berada ditempat ini banyak  hal yang membuat saya terpukau yang salah satunya metode pengajarannya dan prestasi-prestasi yang sudah mereka cetak sangat luar bisa, penataan ruang kelas yang sangat luar biasa, Display dan Afirmasi yang dapat memperjelas materi pembelajaran. Berharap sekolah saya bisa menjadi seperti Smart Ekselensia.

Hari kedua adanya pembentukan komisi oleh Muh. Shirli Gumilang. Beliau menyampaikan bahwa sekolah literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Berdasarkan paparan beliau bahwa Indonesia minat belajar siswa Indonesia sangat rendah yang menunjukkan bahwa dalam satu tahun 1/1000 siswa di Indonesia hanya menghabiskan 1 buku bacaan. Begitu renndahnya minat baca anak Indonesia sehingga perlunya adanya pembenahan sistem Intruksional dan menerapkan Kultur sekolah dengan pendekatan Literasi. Misalnya membuat gerakan 15 menit baca buku sebelum mata pelajaran dimulai. Berdasarkan paparan beliau juga bahwa tidak ada permasalahan yang berdiri sendiri dan semua permasalahan itu bersumber pada kepemimpinan. Hal ini akan berkaitan dengan Kepemipinan (mengenai keteladanan), Budaya sekolah ( mengenai pembiasaan) dan Sistem Intruksional (mengenai pembelajaran). Jadi untuk membuat sekolah berkualitas terlebih dahulu yang diperbaiki adalah Kemimpinannya kemudian diikuti dengan Sistem Instruksional dan Budaya Sekolah.

Sekolah yang baik harus memiliki visi dan misi (menurut paparan pak Halim) yang memiliki rencana strategis (Renstra). Aspek-aspek Renstra meliputi visi, misi dan tujuan dan sasaran. Untuk mencapainya diperlukan kebijkan, program dan kegiatan/aktivitas. Visi dan misi harus disepakati bersama dengan guru-guru, komite sekolah, tidak hanya harus berpusat yang menentukan hanya kepala sekolah sebab visi ini merupakan tujuan/cita-cita suatu lembaga yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu sehingga perlunya melibatkan semua komponen sekolah agar memili visi yang sama (pemikiran/persepsi yang sama) sehingga lebih mudah dalam mencapai keberhasilan. Kemudian visi dan misi yang dibuat harus saling berkaitan dan memiliki program kerja yang jelas sehingga dapat kita ukur tingkat keberhasilan di akhir tahun ajaran.

Menurut Zayd Sayfullah bahwa metode tercepat dan termudah dalam membenahi sekolah adalah dengan Metode uswah (Metode MPC4SP 2.0). Permasalahan pendidik saat ini mengenai kompetensi dan karakter. Kondisi sekolah kita saat ini banyak terjadi adalah yang tidak ideal. Misalnya kondisi idealnya siswa peduli lingkungan namun faktualnya siswa masih saja membuang sampah sembarangan. Hal ini terjadi karena adanya kesenjangan, pemikiran yang tidak sama/persamaan visi, tidak adanya keteladanan pendidik dan belum adanya sinergi yang diterapkan. Prilaku manusia dipengaruhi oleh pemahaman yang dimilikinya dan budaya sekolah dipengaruhi oleh prilaku yang dipengaruhi oleh persepsi yang dipengaruhi oleh nilai yang dipengaruhi oleh keyakinan. Untuk menanamkan kebiasaan yang baik dilingkungan sekolah harus mampu melakukannya dengan membiasakan diri selama 30 hari tanpa berhenti kemudian tugas pendidik yaitu memantau dalam membiasakan diri. Kepala sekolah harus mampu mengontrol guru-guru dan mengarahkan mereka. Pda dasarnya permasalahan yang ada pada sekolah saat ini bersumber dari permasalahan pada budaya sekolah dan sistem instruksional. Secara umum, budaya sekolah terdiri dari kepemimpinan pendidikan, pembentukan karakter dan lingkungan belajar. Pemimpin sekolah harus dapat mewujudkan budaya sekolah yang kondusif sehingga menjadi tempat pendidikan yang baik. Untuk meningkatkan kepemimpinann pendidikan yaitu 1perencanaan starategi sekolah 2pengelolaan sumber daya 3sinergi dan networking.  Sedangkan sistem instruksional yang terdiri dari kepemimpinan pembelajaran, efektivitas pembelajaran dan literasi dan matematika.

Saya sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan, banyak ilmu yang saya dapatkan dan perbaikan yang harus saya lakukan di sekolah saya nantinya. Saya berharap pelatihan ini bisa lebih menyeluruh ke semua sekolah yang ada di Indonesia agar adanya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Semoga Dompet Dhuafa semakin maju dan dapat menjadikan pendidikan Indonesia lebih berkualitas dengan semua program-program yang di milikinya.

Komentar

komentar