Trainventurer: Memberi Pelatihan Sambil Jalan-Jalan

9 April 2014

Untuk pertama kalinya, akhirnya kaki ini menginjak Bandara El Tari, Kupang. Sejak pertama menerima tawaran dari Makmal Pendidikan untuk memberikan pelatihan di Pulau Rote, tak henti-hentinya aku membayangkan kondisi alam dan sosial-budaya di Nusa Tenggara Timur khususnya di Pulau Rote. Meskipun aku sudah pernah ke Ternate, Labuan Bajo, dan Halmahera untuk waktu yang cukup lama namun tetap saja Pulau Rote membuatku penasaran. “Ini adalah pulau paling selatan dari gugusan Kepulauan Nusantara” pikirku dan aku akan ke sana untuk sebuah misi.

Aku berangkat sejak Subuh untuk menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama kawan-kawan dari Makmal Pendidikan. Hani Karno, penanggung jawab program dari Makmal Pendidikan menjadi teman perjalananku ke Pulau Rote. Entah apa hubungan dirinya dengan Bung Karno atau tokoh cerita Mahabarata bernama Karno. Pembicaraan kami selama perjalanan tidak jauh dari persoalan politik terutama Pemilihan Umum Legislatif yang berlangsung pada hari itu. Yang jelas, saat itu kami terpaksa tidak memilih alias Golput.

Di Bandara El Tari, kami dijemput oleh teman-teman Makmal Pendidikan yang bertugas di sana. Melalui Andrika Rozalina (Ica), aku akhirnya mengetahui bahwa desa yang kami tuju bernama Papela. Ica adalah gadis Minang yang ditugaskan sebagai pendamping program pendidikan luar sekolah di Papela. Hari itu kami menginap di Kupang untuk kemudian menyebrang ke Pulau Rote esok pagi. Tidak banyak yang bisa kukatakan soal Kupang. Secara keseluruhan kondisi pembangunan kota ini mirip dengan Ternate namun Kupang terlihat lebih gersang, demografi penduduk Muslim yang lebih sedikit, dan tidak ada Gunung Gamalama yang menjulang indah.

10 April 2014

Kami harus mengejar pelayaran kapal cepat dari Terminal Kapal Pelni Kupang menuju Pelabuhan Ba’a di Pulau Rote. Aku bertekad untuk tidak tidur selama perjalanan meskipun badan masih terasa lelah. Dari deck kapal yang membawa kami menyebrang, kami melihat pemandangan laut dan gugusan pulau. Aku teringat penyebrangan dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca pada tahun 2012 lalu. Tak sia-sia menahan rasa kantuk karena semua  terbayar lunas ketika kami mendapatkan bonus sambutan dari sekawanan lumba-lumba yang berenang di samping kapal yang kami naiki. Setelah kurang lebih sejam berlayar, kami akhirnya berlabuh di Pelabuhan Ba’a, Pulau Rote.  Di pelabuhan, kami dijemput oleh kepala sekolah SDN 01 Papela dan pejabat dari dinas pendidikan daerah setempat. Kami harus melanjutkan perjalanan darat menuju Papela, Kelurahan Londalusi, Rote Timur dengan mobil. Sayangnya, tubuh ini tak kuat lagi menahan kantuk dan akhirnya tertidur.

Untuk Inilah Saya Kemari

Akhirnya tiba juga aku di Papela! Entah apa yang terjadi selama perjalanan darat tadi. Yang jelas aku merasakan beberapa kali benturan dengan jendela mobil yang membuat kepalaku terasa pusing. “pasti jalanan rusak,” pikirku saat itu. Beruntung aku masih bisa mengistirahatkan badan, berbeda ketika aku harus menempuh jalan darat dari Sofifi menuju Weda di Pulau Halmahera pada tahun 2011. Kami serasa off-road di dalam hutan, belum lagi kebiasaan mereka menyetel lagu dengan volume maksimal. Lagunya sampai terngiang-ngiang di dalam kepalaku “Beta su tau… Ale pung hati… Memang tabage dua…”

Di sini, kami tinggal di rumah salah seorang warga di mana Ica juga tinggal selama bertugas. Hari pertama di Papela, aku hanya sempat berkenalan sedikit dengan lingkungan sekitar sambil mempersiapkan keperluan pelatihan. Esok dan lusa, tanggal 11 dan 12 April 2014, kami sudah harus mengadakan pelatihan bertema “Pelatihan Guru Inspiratif dan Menata Pustaka” di SDN 01 Papela. 11 April 2014, pelatihan pertama mengenai guru inspratif yang dibawakan Hani berjalan dengan baik. Aku hanya dapat membantu semampunya sambil mengenali karakter para peserta. Para peserta sangat antusias, bahkan sebelum acara dimulai ada peserta yang mengajukan diri untuk membacakan puisi. Puisi ini menceritakan keadaan masyarakat di Papela dan masih berkaitan pula dengan Pemilihan Umum Legislatif yang baru saja berlangsung dua hari sebelumnya. Dari puisi tersebut, aku mengetahui bahwa dari setiap periode Pemilihan Umum selalu ada anggota DPRD yang terpilih dari daerah ini. Akan tetapi, tidak untuk periode kali ini.

12 April 2014

Akhirnya tiba saat untuk aku berbagi ilmu yang aku ketahui mengenai pengelolaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat. Pukul 09.00 WITA acara akan dimulai, aku rasa persiapanku sudah cukup matang. Rasanya aku sangat bersemangat karena untuk inilah aku jauh-jauh kemari. Tentu aku juga tidak boleh kalah dari Hani yang kemarin sudah berhasil membawakan pelatihan dengan sangat baik. Tiba-tiba hujan turun lebat disertai dengan angin yang cukup kencang. Hati mulai harap-harap cemas menanti kedatangan peserta pelatihan. Hampir putus asa rasanya menunggu mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA lewat. “alamat gak bakal ada yang datang sepertinya,” pikirku saat itu.

“Assalamu’alaikum…” terdengar salam dari arah pintu. Akhirnya satu persatu peserta hadir walaupun hujan turun sejak hampir satu jam yang lalu. Meski peserta yang hadir tidak sebanyak hari sebelumnya, acara terpaksa kami mulai. Acara pun segera dibuka oleh Ica. Lalu, kami kembali memberikan kesempatan kepada seorang peserta untuk membacakan puisi karyanya sebelum materi pelatihan dibawakan. Hal yang positif di mana keresahan hati disalurkan ke dalam sebuah karya sastra. Sebuah standing applause pun aku berikan. Semangatku kembali berkobar setelah mendengar puisi yang mengisahkan tentang perjuangan seorang guru.

Ica memberikan isyarat agar aku segera memulai pelatihannya. Tanpa ragu lagi, aku langsung menyapa mereka “Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh…”. Pembukaan dan perkenalan diri berjalan dengan lancar. Aku pun langsung meneruskan “Baiklah Bapak/Ibu, hari ini kita akan membahas mengenai…”. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Yak mati lampu!!!

“Ya Salaaaaam…” gumamku saat itu. Aku belum benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh Soe Hok-Gie dengan “Aku sudah biasa merasakan seolah-olah langit akan runtuh. Tapi kali ini rasanya seperti rumahku terbakar”. Saat itu bagiku rasanya seperti rumah terbakar. Rasa panik dan kesal berbaur. Ingin rasanya jongkok di sudut ruangan sambil mengorek-ngorek tanah. Hahaha…

Beruntung aku telah mencetak file presentasiku. Dengan bantuan cetakan file presentasi tersebut, aku melanjutkan pelatihan. Secara pribadi aku tidak puas dengan pelatihan yang telah aku berikan. Ada beberapa kegiatan praktik yang tidak dapat ditunjukkan karena listrik tidak kunjung menyala hingga malam hari. Akhirnya aku mengajukan diri untuk kembali memberikan pelatihan esok hari khusus untuk membahas soal praktik. Beruntung, aku masih diberi kesempatan untuk itu.  

Papela atau Pepela?
    
Saat kami mengadakan pelatihan di SD Negeri 1 Papela, ada satu hal yang menggelitik rasa keingintahuanku. Apa nama sebenarnya daerah ini? Lalu mengapa diberi nama demikian? Pertanyaan ini muncul ketika pelatihan hari pertama berlangsung. Ketika aku berkeliling melihat-lihat SDN 01 Papela, aku melihat papan nama SD tersebut tertulis SD NEG 1 PEPELA namun di papan lainnya tertuliskan PAPELA. Jadi PEPELA atau PAPELA?
 
Pertanyaan usil ini pun aku lontarkan saat pelatihan. Aku berharap hanya salah penulisan, tapi ternyata tidak. Para peserta pelatihan pun memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat Papela, ada yang berpendapat Pepela, dan ada yang mengatakan kedua nama tersebut sama-sama digunakan. Menurut cerita, “Papela” berasal dari kata “Pa” atau “Pale” yaitu semacam batu giling yang digunakan untuk menghancurkan jagung dan dari kata “Pela” yaitu jagung. Dahulu, di daerah ini banyak terdapat jagung dan sulit untuk mendapatkan beras. Akhirnya warga di sini menjadikan jagung yang dihaluskan menggunakan Pale sebagai makanan pokok pengganti nasi. Jadi kalau saya boleh menyimpulkan, Papela itu diambil dari kata “pale-pela” dan memiliki makna suatu daerah yang masyarakatnya memakan jagung yang dihaluskan dengan batu giling (pale), sedangkan “Pepela” memiliki makna banyak jagung.

Papela merupakan salah satu daerah “kantong” umat Muslim di Pulau Rote. Agama Islam masuk ke Papela dibawa oleh penduduk pendatang dari berbagai daerah. Para pendatang berasal dari Ternate, Sumba, Makassar, Bugis, Jawa, Sumatra, Ambon, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Penduduk asli di Papela juga sudah banyak yang menganut agama Islam. Kebanyakan dari mereka menikah dengan pendatang yang beragama Islam hingga akhirnya masuk Islam.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Papela tersampaikan seperti pendapat berikut ini:

Kehidupan masyarakat di NTT, khususnya Papela yang merupakan salah satu daerah di Rote rata-rata bermata pencarian nelayan, yang berbatasan dengan langsung dengan negara Australia. Dengan  pendapatan dibawah UMR, mereka berlayar dengan kapal yang mereka sewa dari para rentenir yang ada di daerah mereka, sehingga kemiskinan tidak jauh dari kehidupan mereka. Mungkin, Berangkat dari itulah Makmal pendidikan Dompet Dhuafa membuat program pemberantasan buta huruf. – Andrika Rozalina

Daerah ini sudah beberapa tahun didampingi oleh Dompet Dhuafa karena menurut survey yang mereka lakukan, indeks kehidupan di sana termasuk yang terendah di Indonesia. Beberapa program sudah berjalan di sana. Program-program tersebut menyentuh ke seluruh aspek kehidupan masyarakat. Program-program yang diadakan di sana antara lain program air bersih, peningkatan kesehatan, pendidikan dan beasiswa, pendidikan luar sekolah, dan ekonomi mandiri.

Oleh-Oleh Paling Berkesan
    
Setelah selesai memberikan pelatihan, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Papela hingga tanggal 15 April 2014. Hal ini tentu menjadi kesempatan baik bagiku untuk mengenal lebih jauh mengenai daerah ini. Beruntung, aku tidak mengalami banyak kesulitan untuk beradaptasi di sini. Di Papela, umat muslim dapat dengan mudah melaksanakan Shalat karena di sini terdapat tiga masjid. Masjid yang paling tua di Papela adalah Masjid Al-Bahri yang dipimpin oleh Bapak Imam Rajab ‘Ain. Masjid berikutnya adalah Masjid Al-Muhajirin yang dipimpin oleh Bapak Imam Haji Saman Laduma. Masjid ini merupakan masjid yang dibangun atas program dari Presiden Suharto. Masjid yang ketiga adalah Masjid Al-Muhaajidiin yang dipimpin oleh Bapak Imam Buduhasan. Masjid ini merupakan masjid yang paling baru dan terletak di sekitar pemukiman nelayan Suku Bajo.
    
Cuaca di Papela sama seperti cuaca di daerah kepulauan Nusa Tenggara lainnya. Panas dan kering khas daerah pantai namun tidak sumpek seperti di Jakarta. Kita harus ingat pula kalau di sini masih sulit untuk mendapatkan air bersih. Menghemat air bukanlah sebuah pilihan. Masyarakat sekitar sini juga sudah terbiasa untuk menggunakan air hujan untuk persediaan air mereka. Program air bersih di sini belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Beruntung, masyarakat Papela tidak kesulitan bahan makanan sebagaimana mereka kesulitan air bersih.
    
Papela dapat menjadi surga dunia bagi pencinta makanan laut. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Papela adalah nelayan. Dari para nelayan inilah, ikan dan hewan laut lainnya didapatkan. Apabila cuaca bagus, hasil tangkapan yang mereka dapatkan cukup melimpah. Mereka biasa berlayar hingga ke perbatasan antara Indonesia dan Australia. Tidak sedikit cerita mengenai nelayan yang tertangkap oleh pihak keamanan laut Australia. Nelayan yang tertangkap akan dibina di lembaga permasyarakatan Australia dan biasanya kapal mereka akan disita atau dibakar. Selain mencari ikan, masyarakat pesisir di Papela juga membudidayakan rumput laut. Hasil laut seperti ikan, lobster, kerang, hingga rumput laut menjadi salah satu sumber pasokan makanan masyarakat Papela.
 
Salah satu makanan khas Papela yang saya suka adalah Babuik. Babuik adalah sejenis kerang. Cara membuatnya cukup sederhana, Babuik segar direbus hingga matang kemudian dibuang kulitnya. Setelah itu, campurkan Babuik dengan air perasan jeruk atau cuka. Tambahkan potongan kasar cabai dan bawang merah lalu jangan lupa berikan garam secukupnya. Sekilas, Babuik mengingatkan saya dengan makanan-makanan ala Prancis. Rasa manis dan kenyal daging kerang segar bercampur pedas cabai dan bawang merah juga segarnya perasan air jeruk sungguh menggugah selera. Selain itu juga ada Falaak. Falaak adalah makanan sejenis Yogurt yang terbuat dari susu kambing yang dicampur dengan bubuk halus kayu manis.

Tidak sulit untuk mencari susu kambing di daerah ini. Di Papela dan kebanyakan daerah di Nusa Tenggara Timur lainnya, Hewan ternak berkeliaran bebas di padang savanna dan jalan-jalan raya. Kuda, Sapi, Domba, Kambing, dan Kerbau lalu-lalang tanpa dijaga. Saat berlayar menuju Pulau Rote, saya pun sempat berbincang dengan salah satu pemilik Rumah Potong Hewan yang sengaja datang dari Malang hendak membeli hewan ternak. Potensi peternakan di Nusa Tenggara Timur memang cukup bagus. Hal ini akan maksimal apabila dikelola dengan manajemen yang benar.

Selain hasil laut dan peternakan, Papela juga memiliki potensi pariwisata dengan keindahan alam, budayanya, dan peninggalan sejarahnya. Melalui cerita Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari, aku mengetahui bahwa di Papela terdapat goa peninggalan tentara Jepang. Goa Jepang ini dahulu dijadikan sebagai basis pertahanan tentara Jepang dari serangan tentara sekutu. Ada beberapa kisah mistis yang menyelimuti Goa Jepang tersebut, namun menurut mereka itu hanya mitos belaka. Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari juga bercerita bahwa sewaktu zaman kemerdekaan ada pesawat tempur yang tertembak jatuh di bukit belakang sekolah SDN 01 Papela. Sayangnya, bangkai pesawat tempur tersebut sudah dipreteli dan tidak ada lagi. Aku sendiri belum sempat mengobservasi lokasi Goa Jepang dan lokasi bekas bangkai pesawat tempur tersebut.

Meskipun demikian, aku tetap mendapatkan banyak pengalaman menarik. Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah ketika aku berkesempatan terlibat dalam kegiatan pendidikan luar sekolah bersama Ica dan Hani. Kami keluar-masuk pemukiman nelayan dan mencari anak-anak nelayan Suku Bajo untuk belajar baca-tulis.
 
Meskipun negara telah menjamin pendidikan gratis, akan tetapi banyak anak-anak nelayan Suku Bajo yang putus sekolah. Hal ini terjadi bukan semata karena masalah biaya. Menurut Ibu Kepala Sekolah SDN 01 Papela, pola hidup dan kesadaran orang tua anak nelayan Suku Bajo ikut mendorong tingginya angka anak putus sekolah di daerah tersebut. Misalnya, sifat hidup Suku Bajo yang selalu berpindah dan banyak dihabiskan di laut. Seringkali anak murid tersebut tidak masuk sekolah karena ikut melaut bersama bapak mereka hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tidak sedikit pula murid yang tidak kembali lagi ke Papela. Persoalan lainnya adalah karena anak-anak ini tidak memiliki identitas diri yang resmi dan sah. Rata-rata orang tua mereka buta huruf dan tidak memahami pentingnya pengurusan administrasi kependudukan. Anak-anak suku bajo ini tidak memiliki akte kelahiran bahkan tidak diketahui umur pastinya. Orang tua mereka hanya ingat kalau anaknya lahir sekian minggu atau sekian bulan dari anak yang lain. Uniknya, kepala sekolah juga bercerita kalau terkadang mereka suka merubah nama mereka setelah kembali dari laut. Hal-hal seperti ini membuat pengurusan administrasi sekolah seperti buku raport, ijazah, dan sebagainya menjadi sulit.

Secara keseluruhan, aku melihat penerimaan masyarakat terhadap Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa di Papela sangat bagus. Hal ini terlihat dari bagaimana respon masyarakat dan cerita-cerita mereka terhadap para relawan Dompet Dhuafa yang pernah ditugaskan di Papela seperti Abang Wisyal misalnya. Aku melihat warga Papela sudah menganggap para relawan tersebut sebagai sahabat dan saudara. Aku memang pergi ke Papela dengan niat untuk berbagi sedikit ilmu yang aku miliki. Akan tetapi, kenyataannya justru akulah yang mendapat banyak pelajaran dari perjalanan tersebut. Bertemu dengan warga Papela seperti Bapak Imam Masjid, Para Guru SDN 01 Papela dan Madrasah Papela, Bibi Ne, Bibi Mu, Risal, Rifki dan Aci, juga Ari beserta kawan-kawannya anak Suku Bajo merupakan oleh-oleh paling berkesan bagiku.

{fcomment}

 

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.