Tolak LGBT, YPnDD Selenggarakan Seminar Anti LGBT

1476790579394

Sebagai bentuk kepedulian terhadap maraknya LGBT seperti saat ini, Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa (YPnDD) menyelenggarakan seminar Anti LGBT di setiap sekolah dampingan, Selasa (18/10/16). Salah satunya dilaksankan Guru Konsultan di MI Al-Ikhlas yang berlokasi di kampung Gunung Putri Desa Sukatani Kecamatan Pacet Kabupaten Cianjur.

Adapun tujuan yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah memberikan pemahaman tentang bahaya LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender), terbentuknya komunitas anti LGBT, juga diperoleh data dari peserta untuk edukasi LGBT di tahun berikutnya. Seperti diketahui keberadaan kaum LGBT ini semakin berani dengan adanya berbagai komunitas.

“Acara ini bertujuan sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap maraknya LGBT sekarang. Bahkan ada beberapa negara yang sudah melegalkan hal tersebut. Namun ini menyimpang dari ajaran Agama Islam. Maka kami berusaha untuk bersama-sama menjaga fitrah.” jelas Benning, selaku Guru Konsultan.

Sekolah yang sedang menjalankan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) ini didampingi satu guru konsultan untuk dijadikannya sebagai sekolah model Sekolah Literasi Indonesia. Seminar Anti LGBT di sekolah dampingan tersebut mengambil tema “Menjaga Fitrah, Merangkul Korban, Menolak Legalisasi”.

Dalam seminar tersebut, Benning sebagai narasumber mengajak para peserta seminar untuk menganalisis beberapa kasus yang terjadi dan juga faktor penyebabnya. Setelah dijelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hal tersebut, Benning juga memaparkan bahwa hal tersebut dilarang dalam Islam serta beberapa agama dengan ayat-ayat yang dijelaskan dari beberapa kitab suci.
Dalam seminar yang diikuti 35 peserta yang terdiri dari para pengajar, staf MI Al-Ikhlas dan beberapa perwakilan sekolah lain serta perwakilan dari aparat desa, anggota komite dan pengurus yayasan, juga menjelaskan bagaimana sejarah LGBT di Indonesia.

Pada bagian terakhir penyampaian materinya, Benning mengajak semua pihak untuk menjaga generasi bangsa dari kekerasan seksual dan bahaya LGBT. Setelah itu dibentuklah komunitas anti LGBT yang yang diamini Hasanudin, selaku Kepala MI Al-Ikhlas. (Ferry)

Komentar

komentar