Tak Sekadar Memperbaiki

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mencatat pada 2012 ada 153.036 unit ruang kelas yang mengalami kerusakan. Untuk memperbaiki kerusakan yang dialami tiap unit ruang kelas tersebut, pemerintah sudah menganggarkan dana sebesar Rp 20,4 Triliun. Pemerintah menargetkan akhir tahun 2013 semua kerusakan sudah rampung diselesaikan.

Pemerintah menyadari bahwa kenyamanan lingkungan belajar bagi peserta didik sangatlah penting. Apa yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan bukti komitmennya untuk memberikan pelayanan terbaik bagi anak didik. Tidak hanya sampai disitu, pemerintah juga mengajak pihak swasta terutama perusahaan untuk turut serta merevitalisasi bangunan rusak yang ada di lingkungan sekolah dasar.

Niat baik pemerintah untuk memberikan kenyamanan lingkungan belajar bagi anak didik perlu diapresiasi. Namun, sayangnya niat baik ini tidak berbanding lurus dengan fakta yang ada di lapangan. Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun televisi swasta nasional memberitakan bahwa terdapat bangunan sekolah yang ambruk pada bagian atapnya. Sebelumnya juga ada sekolah yang sudah selesai diperbaiki dan direncanakan akan diresmikan, namun bangunannya sudah roboh.

Tidak hanya sampai disitu. Saya punya pengalaman berkeliling ke beberapa sekolah. Sekolah-sekolah yang saya kunjungi, kebetulan mendapatkan bantuan perbaikan ruang kelas dari pemerintah. Namun, belum juga satu tahun usia bangunan tersebut, cat dinding yang ada di ruang kelas sudah mulai memudar. Bagian plafon sudah pecah. Kebocoran bagian atap pun tak bisa dihindari ketika hujan deras mendera.

Melihat kondisi tersebut, timbul kesan bahwa pemerintah tidak total menjalankan komitmennya. Padahal jika pemerintah benar-benar berniat untuk memperbaiki lingkungan belajar, berarti telah menyumbang 25% keberhasilan belajar anak. Lingkungan yang nyaman perlu diciptakan, perlu direncanakan. Seharusnya ketika memperbaiki gedung sekolah yang rusak pun perlu direncanakan dengan matang agar hasilnya pun bisa maksimal dan usia bangunan bisa awet hingga 10 tahun. Bukan hanya “sekadar” memperbaiki dan mengugurkan kewajiban. Wallahu’alam.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.