Strategi Baru: Mendampingi Sekolahnya Manusia

STRATEGI BARU: MENDAMPINGI SEKOLAHNYA MANUSIA

“Jika boleh berbagi, saya menemukan 3 permasalahan utama selama saya melakukan supervisi guru-guru: Paradigma, How To, dan Komitmen.” ujar Pak Munif, Sabtu, 20 Juli 2013 di Aula Masjid Al-Insan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa, Bogor.

Tidak hanya peserta Sekolah Guru Indonesia (SGI), manfaat yang sangat besar juga dirasakan oleh  para peserta Sekolah Konsultan Pendidikan 2013 Makmal Pendidikan yang mengikuti Pelatihan “Bahagia menjadi Gurunya Manusia” bersama Bpk. Munif Chatib – Konsultan Pendidikan dan penulis 4 buku best-seller pendidikan: Sekolahnya Manusia, Gurunya Manusia, Sekolahnya Anak-Anak Juara, dan Orangtuanya Manusia.

Selama sekitar 3 jam, beliau menyampaikan 5 ‘bingkisan’ keywords paradigma menjadi ‘gurunya manusia’ sebagai bekal ketika diterjunkan ke sekolah dampingan, yakni: Bintang, Samudera, Harta Karun, Penyelam, dan Bakat.

‘Bintang’ memiliki arti setiap anak dilahirkan juara. Dengan kalimat lain adalah tidak ada anak yang bodoh. Dengan asumsi itu pula, maka semua anak berhak untuk bersekolah. Konsekuensinya adalah, sekolah yang baik adalah sekolah yang inklusi (menerima semua anak yang mendaftar) dimana tes ddan observasi pada saat penerimaan siswa baru lebih ditujukan untuk keperluan database.

Melalui kata kunci ‘Samudera’, Bpk. Munif juga mengajak peserta untuk mengetahui luasnya kemampuan anak laksana samudera. Tidak hanya dari segi psiko kognitif — yang makin dipandang secara sempit, tapi juga menonjolkan kemampuan siswa secara psiko motorik dan psiko afektif sehingga tidak ada lagi kastanisasi bidang studi maupun rangking pada rapor yang menjebak hanya pada satu sisi kemampuan anak saja.

Kata kunci ketiga adalah ‘Harta Karun’ yang mewakili multiple intelligence. Mengutip perkataan Howard Gardner, beliau menyampaikan bahwa “tidak ada anak yang bodoh, yang ada adalah anak yang mempunyai hambatan karena stimulus yang tidak tepat.” Karenanya, Kecerdasan sama sekali tidak berkaitan dengan kondisi fisik anak, tes-tes standar, bahkan kondisi otak sekalipun.

Tanpa membuat para peserta mengantuk sedikitpun, Beliau menyampaikan kata kunci keempat yaitu ‘Penyelam’ yang mengantarkan kepada cara-cara menjelajah kemampuan siswa (discovery ability), dimana peran guru adalah sebagai fasilitator, katalisator (pemantik) dengan mengedepankan authentic assessment dalam melakukan penilaian.

Dan sebagai penutup materi pelatihan, melalui kata kunci ‘Bakat’ Pak Munif mengajar peserta untuk terus berkarya dan memiliki kemampuan handling problem pada daerah penempatan masing-masing. Semoga.

Ahmad Fauzan
Pendamping SD Inpres Timika II Papua
Makmal Pendidikan DD

{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.