Solusi Untuk Pendidikan Indonesia (Bagian 3)

Pada tulisan sebelumnya telah dipaparkan bahwa kerusakan pendidikan di negeri ini dikarenakan faktor paradigma pendidikan dan kelemahan fungsional unsur pelaksana pendidikan, dan akar masalah dari berbagai problem yang tengah kita hadapi tersebut adalah karena tegaknya sistem kehidupan sekuler. Oleh karena itu, apabila kita menginginkan semua permasalahan kehidupan, termasuk pendidikan, di negeri ini bisa terselesaikan, solusinya adalah dengan melakukan perubahan secara paradigmatik dan integral, yakni dengan cara menegakkan kembali seluruh tatanan kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, berlandaskan pada sistem yang shahih. Sistem itu tidak lain dan tidak bukan adalah Islam.

 

Pada hakikatnya, pendidikan materialistik yang penuh dengan masalah itu adalah buah dari kehidupan sekuleristik yang telah terbukti gagal menghantarkan manusia menjadi pribadi yang utuh, yaitu orang yang sholeh dan juga mushlih serta menguasai ilmu kehidupan. Karena itu pendidikan harus dirombak secara fundamental dan menyeluruh, yang diawali dengan merubah paradigma pendidikan sekuler dengan paradigma pendidikan baru, yakni paradigma pendidikan Islam. Sedangkan permasalahan pada tataran derivatnya, kelemahan ketiga unsur pelaksana pendidikan diselesaikan dengan cara memperbaiki strategi fungsionalnya sesuai dengan arahan paradigma pendidikan Islam.

 

Solusi Paradigmatik

Solusi pada tataran paradigmatik adalah sebagai berikut:

Pertama, pendidikan harus dikembalikan pada asas yang benar. Asas yang sesuai dengan hakikat penciptaan manusia, yaitu Islam. Asas ini akan menjadi penentu arah dan tujuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan standar nilai ilmu pengetahuan serta proses belajar mengajar, termasuk penentuan kualifikasi guru/dosen serta budaya sekolah / kampus yang dikembangkan dan penyediaan sarana dan prasarana.

Kedua, paradigma pendidikan yang berasas pada aqidah Islam itu harus berlangsung secara berkesinambungan pada seluruh jenjang pendidikan yang ada, mulai dari PAUD sampai Perguruan Tinggi.

Ketiga, orientasi keluaran dari pendidikan harus seimbang antar unsur pembentukan kepribadian Islam, penguasaan tsaqofah Islam dan ilmu-ilmu kehidupan (IPTEK). Dalam orientasi keluaran pendidikan sekuleristik ketiga unsur tersebut terpisah satu sama lain dan diposisikan berbeda dimensi, agama – non agama, dengan proporsi sangat tidak seimbang yang menyebabkan kegagalan pembentukan kepribadian peserta didik selama ini. Dalam orientasi pendidikan yang ideal ketiga unsur tersebut harus merupakan satu kesatuan yang utuh. Melihat kondisi faktual pendidikan di Indonesia saat ini, maka yang diperlukan adalah optimasi dan integrasi muatan kurikulum dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Melakukan optimasi pada muatan pembentukan kepribadian Islam.
  2. Melakukan optimasi pada muatan kurikulum untuk penguasaan tsaqofah Islam.
  3. Mempertahankan atau meningkatkan muatan penguasaan ilmu kehidupan dan keahlian (IPTEK) sebagaimana yang sudah ada saat ini.
  4. Mengintegrasikan muatan pembentukan kepribadian Islam, penguasaan tsaqofah Islam dan penguasaan IPTEK.

Agar optimasi dan integrasi tersebut tetap sesuai dengan ketentuan pendidikan Islam, maka perlu melakukan pengembangan kurikulum dengan metode internalisasi, addisi, koreksi, substitusi, reduksi, eliminasi dan fixasi.

Solusi pada tataran Strategi Fungsional

Secara faktual pendidikan sebenarnya melibatkan tiga unsur pelaksana pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Maka, sebagai solusi pada tataran strategi fungsional, kita perlu membangun pola pendidikan alternatif yang bersendi pada dua unsur yang lebih bersifat strategis fungsional, yaitu:

  1. Membangun lembaga pendidikan (sekolah / kampus) unggulan dengan semua komponen berbasis Islam, yakni:
  2. Kurikulum yang berparadigma Islam.
  3. Guru dan tenaga kependidikan yang memiliki kepribadian Islam dan profesional (4AH; amanah, kafa’ah, himmah dan qudwah).
  4. Sistem pengajaran yang berlangsung sesuai dengan Islam.
  5. Lingkungan dan budaya sekolah yang kondusif bagi terwujudnya pendidikan unggulan sesuai dengan Islam.
  6. Membuka lebar ruang interaksi sekolah dengan keluarga dan masyarakat agar dapat berperan optimal dalam menunjang proses pendidikan. Sehingga diharapkan keluarga dan masyarakat juga dapat menginjeksikan pengaruh positif kepada pribadi peserta didik. Sinergi pengaruh positif antara sekolah, keluarga dan masyarakat inilah yang akan menjadikan pribadi peserta didik yang utuh sesuai dengan ketentuan Islam.

Solusi tersebut bisa dilakukan oleh lembaga penyelenggara pendidikan saat sistem negara masih mengadopsi sistem sekuler. Tentu itu perlu perjuangan yang berat. Namun bukan berarti itu tidak bisa dilakukan.

Solusi tersebut tentu akan efektif jika yang melakukan adalah negara dengan segala kebijakan dan kewenangannya. Maka, agar permasalahan pendidikan, dan permasalahan bidang lainnya terselesaikan, solusinya adalah kembali pada pangkuan Islam, sehingga peradaban dunia pada masa yang akan datang akan kembali seperti para pendahulu kita yang telah sukses mengukir peradaban gemilang selama 13 abad lamanya dengan sistem Khilafah. Insya Allah.

 

Zayd Sayfullah

Trainer TOPs | Manajer Peningkatan Mutu Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan

Komentar

komentar