Solusi Untuk Pendidikan Indonesia (Bagian 2)

Sebagaimana telah diulas pada tulisan bagian pertama, permasalahan pendidikan Indonesia memang kompleks. Kompleksitas tersebut kalau kita lakukan analisis terhadap kondisi faktual yang ada, maka akan didapati 2 (dua) faktor besar yang menjadi penyebabnya, yaitu paradigma pendidikan dan kelemahan fungsional unsur pelaksana pendidikan. Baik, kita bahas satu per satu ya.

Pertama, pada tataran paradigma pendidikan, pendidikan Indonesia mengadopsi asas sekulerisme. Karena asasnya sekulerisme, maka otomatis pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan juga menyesuaikan dengan aturan sekulerisme. Termasuk tujuan pendidikannya. Tujuan pendidikan dalam asas sekuler hanya sekadar membentuk manusia yang berpaham materialistik dan individualistik.

Asas sekuler dalam paradigma pendidikan melahirkan dikotomi pendidikan umum (dibawah Kemendikbud) dan pendidikan “agama” (dibawah Kemenag). Bahkan ada pernyataan “Berotak Jerman dan Berhati Makkah”, seolah-olah Islam tidak menunjang kecerdasan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Karena asas pendidikan sekuler tersebut, maka kurikulum pun bercorak sekuler. Penyusunan struktur kurikulum akhirnya juga sekuler. Hal ini terlihat dari tidak adanya ruang yang semestinya pada proses penguasaan tsaqofah Islam dan pembentukan kepribadian Islam dalam kurikulum yang ada sekarang ini.

Kalaupun ada pelajaran pendidikan agama yang memadai pada kurikulum Kemenag, itupun hanya sebatas pengetahuan karena tanpa diiringi dengan proses pembentukan kepribadian Islam yang kuat. Disamping juga mata pelajaran agama tersebut menjadi ilmu yang terpisah dengan mata pelajaran umum lainnya. Alias tidak ada integrasi, bahkan saling bertolak belakang.

Tujuan pendidikan yang sekuler itu menjadikan output pendidikan pun tidak jauh dari turunan kehidupan sekuler, yakni kepribadian yang jauh dari Islam (pacaran, pergaulan bebas, narkoba, pornografi, pornoaksi, dll), pintar tapi minim atau bahkan tidak paham ilmu agama. Malah di suatu sekolah yang pernah dikunjung oleh rekan saya, ada budaya yang berkembang di kalangan siswa-siswinya yaitu bangga kalau memiliki cupang pada musim tahun baru atau momen Valentine Day.

Kedua, pada tataran fungsional, tiga unsur pelaksana pendidikan fungisnya masih lemah. Apabila kita pahami, secara faktual maupun teori, pelaku pendidikan itu ada 3 unsur, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Nah, ketiga unsur itu saat ini tidak berfungsi secara ideal, disamping juga tidak ada sinergi satu sama lain.

Pada era peradaban kapitalisme saat ini, keluarga (orang tua), sebagai sekolah pertama dan utama, telah banyak yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh menanamkan nilai-nilai dasar keislaman secara memadai kepada anaknya. Bahkan lemah dalam mengawasi pergaulan anak, dan tidak memberikan teladan yang baik bagi anak dalam kehidupan sehari-hari.

Sekolah, sebagai lembaga pendidikan formal, belum mampu berfungsi secara kuat dan sebagaimana mestinya. Hal ini bisa terlihat dari 4 hal. Pertama, kacaunya kurikulum. Kedua, tidak optimalnya peran dan fungsi guru. Ketiga, tidak berjalannya proses belajar mengajar secara baik. Guru hanya sekadar menjadi pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, namun tidak berfungsi optimal sebagai pendidik yang mampu mentransfer ilmu pengetahuan, nilai-nilai dan pembentukan kepribadian anak didik. Keempat, tumbuhnya budaya sekolah yang tidak sesuai dengan ketentuan Islam. Budaya ini akhirnya tidak mampu memacu proses pembentukan kepribadian Islam. Budaya seperti ini disebabkan lingkungan sekolah yang tidak tertata dan terkondisi sesuai dengan ajaran Islam. Ditambah lagi dengan minimnya sarana pendukung seperti masjid atau musholla di sekolah. Akumulasi berbagai masalah di sekolah itu pada akhirnya menyebabkan sekolah tidak mampu mewujudkan tujuan pendidikan yang ideal secara optimal.

Unsur pelaksana pendidikan yang ketiga, yaitu masyarakat, malah menyuntikkan pegaruh negatif bagi anak didik. Kenapa demikian? Hal ini karena di tengah masyarakat saat ini berkembang sistem kehidupan sekuler-liberal. Sistem kehidupan yang justru bertentangan dengan Islam. Lihatlah, tata kehidupan sehari-hari yang bebas dan acuh terhadap norma agama, pergaulan bebas, berita media massa dan tontonan televisi yang mengkampanyekan hal-hal negatif (seperti pergaulan bebas, pornografi, pornoaksi, kekerasan, kriminalitas, korupsi dll), juga langkanya keteladanan di tengah masyarakat.

Sudahlah ketiga unsur pelaksana pendidikan tersebut tidak berfungsi secara benar, ketiganya juga tidak berjalan secara sinergis. Padahal pada kenyataannya, ketiga unsur tersebut terjadi interaksi di tengah masyarakat. Akhirnya kenegatifan masing-masing memberikan pengaruh kepada unsur pelaksana pendidikan yang lainnya.

Sebagai contoh, kondisi pertama: pendidikan dalam keluarga tidak berjalan baik. Maka, buruknya pendidikan anak yang dilakukan orangtua di rumah memberikan beban berat kepada sekolah dan menambah runyamnya persoalan di tengah masyarakat.

Atau sebaliknya, kondisi kedua: budaya sekolah tidak sesuai dengan syariah Islam, maka hal itu dapat menjadikan pengaruh buruk terhadap pembentukan kepribadian anak didik. Padahal mungkin keluarga sudah menanamkan nilai-nilai yang baik.

Pada kondisi lain, situasi masyarakat yang buruk, jelas membuat nilai-nilai yang mungkin sudah berhasil ditanamkan oleh keluarga dan sekolah, menjadi rusak atau tidak optimal.

Kondisi manakah yang tengah terjadi sekarang? Kondisi pertama, kedua atau ketiga? Atau malah semuanya?

Itu yang terjadi manakala tiga unsur pelaksana pendidikan tidak berfungsi secara ideal dan juga tidak bersinergi. Tidak berfungsi idealnya ketiga unsur tersebut berakar pada paradigma pendidikan yang sekuler yang telah dijelaskan pada awal tulisan ini. Sehingga, solusi untuk perbaikan pendidikan Indonesia harus bersifat menyeluruh dan integratif. Bukan parsial dan tambal sulam. Perbaikan itu harus dilakukan pada 2 (dua) aspek; paradigmatik dan fungsional.

Bagaimana caranya? Nantikan pada tulisan berikutnya.

(bersambung)

 

Salam hangat dari saya,

Zayd Sayfullah | Manajer Pengembangan Mutu Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan | Trainer TOPs

Komentar

komentar