SGI The Best Motivation

IMG-20161125-WA0002

Oleh: Sukardi

Jabatan guru saat itu bukanlah suatu pilihan tapi karena tidak ada pilihan lain, orang tua menyekolahkanku ke SPG, dengan segala keterbatasan ekonomi kujalani menuntut ilmu di sekolah itu, dengan  kesabaran dan keinginan untuk maju agar kehidupanku tidak seperti yang di alami orang tua yang cuma lulusan SR dan bekerja sebagai tenaga honorer di Departemen pekerjaan umum dengan penghasilan hanya cukup untuk bayaran SPP dan ongkos ku ke sekolah tiap hari, aku bersyukur yang pada akhirnya dapat menamatkan pendidikan tersebut sesuai waktu.

Dengan berbekalkan ijazah SPG itu aku mencoba untuk mengamalkan ilmu yang kumiliki di sebuah yayasan, sebenarnya pendidikanku untuk anak SD, tapi aku mengabdi di MTS dan Aliyah, mata pelajaran yang kuampu matematika. Saat itu diberi honor limabelas ribu rupiah kadang kadang kurang, aku maklumi namanya sekolah luar negeri  dengan jam mengajar 12 jam. Kujalani pekerjaan itu dengan kesungguhan dan kesabaran karena aku yakin suatu amal perbuatan pasti ada balasnya.dua tahun berlalu tersiar kabar bahwa di Pemda ada pendaptaran calon pegawai negeri sipil dan akupun mendaptarkan diri dan ikut seleksi, sambil menunggu keputusan hasil seleksi aku masih bekerja di yayasan itu.

Penantian demi penantian pembukaan hasil seleksi diumumkan , alhamdulilah aku lolos seleksi, waktu itu kepala yayasan sangat dekat dengan bupati, aku diminta untuk tetap bekerja di yayasan itu dengan SK yang bakal kumiliki, tapi secara baik baik aku menolaknya, saat itu depag birokrasinya kurang baik, ada teman guru sudah enam tahun golongannya macet di II/ c .

Hari kebahagiaanpun datang, SK yang di nantikan datang, kubaca dengan teliti, kulihat tertera di SK itu aku mendapat tugas di sebuah SD di pinggiran yang jaraknya sekitar 6 km dari rumah, ya jarak yang lumayan memakan watu sekitar 30 menitan.

Hari pertama tugas ku jajaki jarak dari jalan raya sekitar 3 km itu dengan berjalan kaki, mengingat saat itu belum ramai kendaraan, paling ada los bak pengangkut pasir, dan datangnya siang. Dengan semangat muda jarak 3 km itu ditempuh dengan  berjalan selama 30 menitan, setiap hari aku harus berangkat pukul 6 pagi agar datang ke sekolah sebelum pukul 7.00.

Sebagai guru baru saat itu aku ditugaskan di kelas 5 semester 2 dengan jumlah siswa saat itu sebanyak 24 orang, ya jumlah yang ideal, hari hari kujalani bersama anak anak  di kelas yang lantainya saja sudah pada lepas karena paktor usia.  Untuk dapat betah di kelas kami mendekor kelas dengan bunga yang ada diperkampungan seperti srirejeki dan suku talas-talasan yang daunnya warna warni dan kelaspun terlihat lebih indah.

Tiga tahun berlalu aku ditugaskan dikelas lima terus ,karena  diantara guru yang ada aku paling muda, prestasipun ada beberapa yang diraih siswa. Aku bangga walau dikampung bisa meraih prestasi.

Tahun ke empat aku dipindah tugaskan ke sekolah yang lebih dekat , itupun Cuma 3 tahun berjalan selanjutnya ditarik lagi ke SD yang ada di kota , 12 tahun mengabdi  kebanyakan ditugaskan di kelas 5, dan sekarang di SD yang terakhir sudah 8 tahun ,yang 6 tahun ditugaskan di kelas 5 juga, tapi semangatnya sudah beda.

Semangat mudaku telah berlalu seiring waktu, kadang aku berkaca pada guru di sekitarku, bekekerja sekedar menggugurkan kewajiban,……….

…….hari itu aku dapat selebaran dari Dinas UPT yang isinya mengenai SGI Dompet Duapa, perkuliahan  bagi kepala sekolah pembelajar, aku mendaptar untuk  jadi peserta lumayan untuk menambah ilmu, sesuai anjuran untuk melengkapi persyaratan dan alhamdullilah diterima sebagai peserta, dengan pasilitator yang masih muda muda rasanya ingin kembali muda, tapi tak mungkin, yang mungkin biar usia tua semangat yang harus muda.

Setelah mengikuti perkuliahan beberapa kali pertemuan banyak ilmu yang diberikan untuk bekal menjadi seorang pemimpin ya termasuk memimpin anak dalam pembelajaran , rasanya senang mendidik anak –anak yang kelak menjadi penerus perjuangan……

Terima kasih SGI yang sudah memberikan motivasi untuk menjadi pemimpin hebat.

Komentar

komentar