Sepenggal Cerita di Tanah Rote

 

Papela, daerah yang dulunya tak pernah ku tahu keberadaannya di Indonesia, daerah yang masih asing di telinga, bahkan di peta daerahnya sangat kecil dan terluar dari NTT, daerah yang penduduk muslimnya sangat minoritas. Namun aku pernah berada dan menginjakkan kaki di Papela.  Makmal Pendidikan membawaku ke sini, sebuah visi yang ku emban untuk pemberdayaan masyarakat khususnya dibidang pendidikan yaitu pemberantasan buta huruf.

Oktober 2013 silam, aku tak ingat persis tanggalnya, yang jelas itulah awalnya aku menginjakkan kaki di NTT, untuk mencapai Papela daerah Rote, aku harus menempuh perjalanan empat jam melalui laut,  terasa beda karena selama ini aku tak pernah merasakan bagaimana naik kapal laut, hamparan laut yang indah kini ada dihadapanku. Dalam perjalanan menikmati keindahan pantai nan eksotis perasaan cemas menghantuiku, karena takut program ini tidak terlaksana sesuai harapan, namun aku tetap optimis menghadapinya.

Setelah beberapa minggu di Papela, barulah aku tahu seperti apa dan bagaimana Papela, hasil dari asesmen yang kulakukan. Rote NTT, salah satu provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi  di Indonesia, dan menurut beberapa survei, masih banyak penyandang buta huruf. Jadi tidak heran tingkat kemiskinan tinggi karena rendahnya pendidikan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi masyarakatnya.

Kehidupan masyarakat di NTT, khususnya Papela  bermata pencarian nelayan. Dengan  pendapatan dibawah UMR, mereka berlayar dengan kapal yang mereka sewa dari para rentenir yang ada didaerah mereka, sehingga kemiskinan tidak jauh dari kehidupan mereka. Mungkin, Berangkat dari itulah Makmal Pendidikan Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa menginisiasi program pemberantasan buta huruf kala itu.

Langkah awal yang ku tempuh untuk pelaksanaan program ini adalah sosialisasi dengan masyarakat Papela, melalui pertemuan musyawarah RT/RW, terlihat wajah–wajah penasaran dari warga dengan kehadiranku, setelah aku memperkenalkan diri barulah mereka tahu, apa visi dan misi yang ku emban.

Kadang aku harus mendatangi rumah  penduduk untuk mencari peserta, mendata satu persatu riwayat kehidupan mereka, dan hasilnya sesuai dengan survei yang telah dilakukan; anak–anak tidak sekolah, warga tidak bisa membaca, bahkan tidak peduli dengan pendidikan, bagi mereka waktu adalah uang, semuanya diukur dengan uang, itulah tantangan terbesar dalam program ini.

Namun hal itu tidak membuatku berputus asa, aku terus mendatangi mereka menanyakan apakah mau ikut atau tidak, walhasil kala itu  aku sudah mempunyai peserta didik, walaupun tidak banyak namun aku tetap semangat dan optimis.

Dulu, awal  mengajar kalimat “ibuk… beta sonde (tidak) membaca……” sering ku dengar, namun setelah program berjalan kalimat tersebut tidak pernah terdengar lagi, karena mereka secara berangsur sudah mulai mengenal huruf-huruf vokal dan abjad, mereka begitu semangat untuk belajar, kadang aku iseng bertanya kenapa mau belajar, mereka menjawab “ biar bisa SMS ibuk, kalau su sudah pergi, dan bisa membuat nama kalau dapat bantuan”. Bagiku apapun alasan mereka, yang penting mereka mau ikut belajar. Karena kehidupan tidak akan berubah kalau mereka tidak bisa menulis dan membaca.

Terima kasih Makmal Pendidikan karena telah memahat rasa cintaku pada Rote.

 

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.