Senangnya Melihat Murid di Kelas

Oleh: Nurpawan

Meski hanya berstatus honorer selama bertahun-tahun, saya tetap mengatakan dan menguatkan kalimat ini dalam hati: saya bangga menjadi guru!

Menjadi guru memang pilihan saya; bukan pekejaan pelarian dari kesuntukan sebagai ibu rumah tang-ga. Terkadang ada saja pihak-pihak yang mengarahkan saya untuk mengambil pekerjaan lain, namun saya bergeming. Saya tetap dengan putusan yang sama. Menurut saya, menjadi guru peluang yang sangat besar untuk melatih otak berpikir sekaligus juga mengawetkan wajah. Sebab, guru berusaha tersenyum tiap harinya, bergerak, belum lagi memiliki kolega banyak dari berbagai sekolah, serta tak kalah pentingnya dikenal di kalangan orangtua siswa.

Satu hal yang membuat saya bertahan di sekolah adalah melihat kumpulan wajah anak-anak dengan karakter beragam. Sering kali saya tersenyum bahagia melihat mereka. Namun, terkadang ada pula yang membuat saya emosi akibat permasalahan di kelas. Mulai dari siswa yang kurang mampu berhitung dan membaca hingga siswa yang tidak bisa duduk diam selama pembelajaran di kelas. Inilah ternyata yang menjadi tantangan bagi guru, terutama guru kelas rendah.

Saya sendiri saat ini mengajar di kelas 2. Semua guru tentu tahu kelakuan dan cara belajar siswa kelas 2 SD. Kesabaran dan pandai dalam memerankan diri pada posisi mereka mutlak dimiliki. Singkatnya, profesi guru benar-benar menuntut saya untuk menjadi pemikir cerdas dan pelaku aktif sehingga bisa memberikan daya tarik pada diri siswa. Dengan tantangan seperti ini, menjadi kebahagian tersendiri bagi saya saat mampu menyelesaikan masalah mereka. Ada rasa bangga begitu melihat mereka berubah.

Dalam diri saya berjanji untuk selalu memberikan yang terbaik pada mereka. Banyak hal yang dapat saya lakukan untuk memberikan yang terbaik di kelas, di antaranya membuat proses belajar hidup dan mengasyikkan bagi siswa. Untuk me-narik minat mereka dalam belajar, sesekali saya memberikan hadiah berupa bing-kisan makanan ringan selain juga pujian.

Senang melihat mereka betah di kelas. Belajar dan bermain sambil diselingi bernyanyi. Atau bersama-sama membuat display dan hiasan kelas. Saya bersyukur, praktik pembelajaran yang menyenangkan berjalan baik. Tidak sia-sia ilmu yang saya dapatkan selama mengikuti pelatihan dan pendampingan yang diadakan Sekolah Literasi Indonesia (SLI).

 

 

Komentar

komentar