Seminar Menjaga Fitrah #Gerakan Indonesia Beradab# di MI Muhammadiyah Bandung

DSCN4816

LGBT merupakan akronim dari Lesbian Gay Biseksual dan Transgender. Istilah ini muncul pada tahun 90-an (Alexander, Jonathan;Karen Yescavage: 2004). LGBT bukan hanya semata perilaku dan orientasi seksual namun LGBT adalah sebuah gerakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya organisasi-organisasi yang mendukung mereka seperti ILGA, Family Equality Council dan di Indonesia ada PGY (Persaudaraan Gay Indonesia, Perlesin (Persatuan Lesbian Indonesia) dan masih banyak lagi organisasi bahkan media cetak yang mereka miliki.

Beberapa waktu lalu Indonesia diramaikan oleh pemberitaan mengenai LGBT. Hal ini bukan saja kebetulan namun akhir-akhir ini organisasi-organisasi dan komunitas yang mendukung kaum LGBT ini berani menampilkan dirinya di hadapan umum dengan seringnya mereka muncul di televisi dan massifnya kampanye di media social, terlebih banyak yang mengupload foto dan video yang sangat tidak layak untuk ditonton bahkan tokoh yang memiliki akun ramai dipojokkan saat akunnya menyebut ketidaksetujuaannya dengan gerakan ini.

Dompet Dhuafa melalui Makmal Pendidikan DD mengadakan penyadaran kepada masyarakat dengan melakukan seminar – seminar di seluruh Indonesia. Salah satunya di MI Muhammadiyah 2 Bandung di adakan seminar dengan tema : “Menjaga Fitrah” . Dilaksanakan di MI Muhammadiyah 2 Bandung karena merupakan salah satu sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Seminar yang di hadiri oleh Perwakilan guru-guru dari KKM 2 Kota Bandung  ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Mei 2016. Tujuannya agar guru-guru di kota bandung bisa sadar dan waspada terhadap isu ini dan siswa-siswinya bisa diidentifikasi dan dilakukan langkah prefentif sedini mungkin. Sehingga guru bisa jadi konselor bagi siswanya.

Seminar ini mendapat apresiasi dari Pimpinan cabang Muhammadiyah yang hadir pada waktu itu

“Seminar Menjaga Fitrah ini penting untuk kita ketahui karena saat ini ramai sekali pemberitaan tentang pelecehan seksual di mana- mana agar orang tua dan guru sama-sama mendidik anak menjadi anak yang sholih dan sholihah” begitu tutur beliau saat menyampaikan sambutan.

Guru-guru yang hadir sangat antusias mengikuti seminar ini, bahkan salah seorang guru sangat berterimakasih atas seminar ini sehingga beliau bisa melakukan langkah preventif agar anak didiknya tidak terjerumus ke dalam masalah tersebut.

Asep Ihsanudin selaku pemateri dalam seminar ini merasa terkejut, karena ternyata berdasarkan pemaparan guru, mereka sudah menemukan siswa yang teridentifikasi suka sesama jenis dari penampilan dan kesukaannya bergaul.

“Harapannya guru-guru dapat melakukan konselling untuk mencegah anak didiknya menjadi LGBT, bahkan lebih jauh lagi dapat mencegah siswa-siswinya terpapar pornografi yang menjadi biang kerok segala kejahatan seksual saat ini yang terjadi di pemberitaan” demikian Asep menambahkan.

Di akhir sesi guru-guru diminta mengisi angket dan usulan program sekolah untuk mencegah dan menanggulangi masalah LGBT ini agar bisa diterapkan di sekolahnya masing-masing. Diantara usulan tersebut yaitu: Menanamkan Iman melalui keagamaan, memisahkan bangku yang berlawanan jenis, membuat kegiatan parenting agar sinergi antara orang tua dan guru, melakukan control dan pencegahan di computer sekolah, mengadakan pelatihan/seminar kepada anak-anak, mengadakan konselling untuk anak dengan pendekatan hati ke hati, menjadwalkan kunjunagn ke rumah siswa dan masih banyak lagi usulan solusi yang ditulis oleh guru.

DSCN4814 DSCN4834

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.