Semangat Para Duta Gemari Baca batch 4 Menimba Ilmu Hebat

Semangat Para Duta Gemari Baca batch 4 Menimba Ilmu Hebat

 

Bogor – sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan penyebaran pengetahuan tentang literasi dan juga untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa merekrut Duta Gemari Baca bacth 4. Pada 3 Juni 2018 Duta Gemari Baca Bacth 4 mengikuti serangkaian kegiatan literasi yang diadakan di lingkungan Dompet Dhuafa Pendidikan. Semangat literasi yang dibentuk dan juga pengetahuan tentang dunia literasi yang diberikan akan membantu mereka untuk menyebarkan literasi kepada masyarakat.

Di Pagi hari para Duta sudah bersemangat untuk menerima ilmu yang menambah wawasan mereka. Diawali dengan outbond yang membuat mereka berpikir kritis dengan permainan-permainan edukatif yang diberikan panitia. Lalu dilanjutkan dengan Sharing Integritas Literasi oleh Muhammad Syafi’i el Bantanie, Direktur Domper Dhuafa Pendidikan, dan Kang Ryan Hamzah, Pendongeng Penjelajah Negeri Literasi dan Founder Taman Bacaan Masyarakat Sanggar Alam Kita Bekasi. Para Duta masih tetap semangat menerima materi walau telah berlelah-lelah mengikuti outbond.

Syafi’i memaparkan bahwa peran penting pemuda seperti para Duta lah yang menjadi pembangun peradaban yang akan membawa perubahan pada negeri ini. Pemuda haruslah memberikan kontribusi sebanyak yang ia bisa.  Hal yang harus dibangun dalam diri pertama kali adalah aspek why ‘mengapa’ yaitu aspek untuk mempertanyakan pada diri sendiri akan hal-hal yang berhubungan dengan  menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan mengena masalah yang ada dalam diri. Duta dibantu Makmal  Pendidikan sebagai pemantik dan untuk berbagai kegiatan, serta apapun yang terjadi dalam menyebarkan literasi, maka Duta lah yang menyelesaikannya.

Syafi’i sebagai pemateri menanyakan berbagai pertanyaan yaitu: “apa hubungan literasi dan peradaban dan bagaimana membangun peradaban dengan literasi?”, “Apakah ada hubungan antara literasi dan peradaban?”, “bagaimana peran duta dalam membangun peradaban, dan mengapa kita mesti membaca dan menulis?”, “Kenapa why belum terbangun? Bila alasan keterbatasan, di mahasiswa banyak sekali akses di kampus, namun berapa persenkah yang menggunakan fasilitas kampus itu?” Sekarang terjadi penurunan minat baca pada mahasiswa karena tidak dibangun aspek why-nya. Bila aspek itu sudah dibangun, apapun keterbatasannya, maka dia akan mencari bahan yang dapat ia gunakan untuk meningkatkan kualitas dirinya juga kualitas literasinya. Mengapa wahyu yang pertama kali turun adalah tentang membaca. Karena Allah ingin memberikan formua untuk membangun peradaban dengan membaca dan menulis. Semangat ilmu yang dibangun itu lah membuat berubahnya peradaban. Lakukan lah apa yang bisa kita lakukan, lakukanlah walau sekecil apapun dan ke mana pun arah peradaban itu akan bergerak. Tradisi yang harus dibangun tidak hanya sekadar konteks membaca dan menulis, tapi juga harus memiliki konteks kebermanfaatan bagi masyarakat.

Kita sebagai seorang yg berkomitmen membangun kesadaran masyarakat dalam berliterasi yang perlu dikuatkan adalah aspek why mengapa, ini lah yang akan membuat kita mampu mejawab apa sebetulnya yang kita lakukan, mengapa kita memilih ini sebagai kontribusi kita, mengapa kita menghabiskan waktu untuk kontribusi itu, mengapa kita mau menghabiskan sebagian energi, waktu dan lain-lain untuk masyarakat dan lainnya, mengapa harus lewat membaca dan menulis, dan mengapa sampai hari ini saya masih bertahan di literasi.

Kang Riyan juga memberikan materi yang sangat menginspirasi para Duta, yaitu tentang pengalaman hidupnya dan juga perjuangannya yang penuh dengan suka duka. “Dengan segala keterbatasan inilah diri saya. Dengan ketidak adaan itulah kita berbuat untuk orang lain, terutama untuk diri sendiri,” kata Kang Riyan yang membuat banyaknya Duta bertanya. Berawal dari Kota Kembang Bandung  Kang Riyan meyusuri alur kehidupan, berkomunikasi dengan teman-teman yang notabene ialah orang yang kurang mampu, serta menghimpun beberapa pengamen. Dari Bandung ke Jakarta Kang Riyan mencari pekerjaan, karena beliau tidak suka menunggu dan berleha-leha. Setiap beliau bolak balik kerja, ia bergaul dengan pengamen, pencopet, dan banyak lika liku lainnya. Seiring berjalannya waktu, beliau lebih dekat dengan anak-anak untuk mengedukasi, mendongeng, cerita dan lainnya. Beliau juga berbaur dengan para seniman, baik golongan kiri maupun kanan. Karena beliau Ingin mengubah sesuatu maka ia merubah dirinya terlebih dahulu lalu orang lain.

“Baca terus banyak buku, pahami siapa orang yang ingin kita beri edukasi. Bila anak-anak maka harus sesuai dengan posisinya. Jangan terlalu menyampaikan dengan kata-kata yang sulit dipahami karena anak-anak akan sulit menerimanya,” jawab Kang Riyan saat salah seorang Duta bertanya tentang cara menyebarkan literasi ke berbagai kalangan.

Selamat berjuang Duta Gemari Baca Batch 4, sampai jumpa dikesempatan selanjutnya! (VM)

Komentar

komentar