Sekolahnya Para Perempuan

Oleh: Ayu Uswah Munjiah.

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan Konawe Selatan

Tidak akan ada habisnya sebuah kata jika kita membicarakan pendidikan, terutama jika kita membahas pentingnya pendidikan untuk perempuan. Supaya tidak menjadi bahan perdebatan maka penulis garis bawahi, pendidikan disini bukan hanya sebatas pendidikan formal tetapi juga non formal. Kenapa? Karena pendidikan tidak hanya sebatas kegiatan menuntun ilmu yang berada dalam naungan sekolah atau lemba pendidikan formal lainnya yang lebih tinggi. Selain berada di lembaga formal, pendidikan juga dapat kita peroleh diberbagai macam lembaga non formal, misalnya lembaga kursus, komunitas sosial atau bahkan dengan mengadakan kegiatan diskusi mengenai pengetahuan itu pun dapat tergolong kedalam aktivitas pendidikan, karena menurut penulis, setiap aktivitas yang bertujuan menuntut ilmu merupakan pendidikan dan pendidikan yang paling bermakna adalah ketika kita menjalaninya di Universitas Kehidupan, sebab disanalah apa yang dijalani dan diselesaikan bukan hanya sekedar teori belaka.

Lantas, pentingkah pendidikan untuk perempuan? Sebelum dijawab penting atau tidak, sebelumnya penulis akan memaparkan pengertian pendidikan menurut Encyclopedia Americana 1978, sebagaimana pendidikan merupakan proses yang digunakan setiap individu untuk mendapatkan pengetahuan, wawasan serta mengembangkan sikap dan keterampilan. Berdasarkan pengertian tersebut, penulis ambil kesimpulan bahwa pada dasarnya pendidikan merupakan proses menuntut ilmu, jadi jika ditanya apakah pendidikan penting untuk perempuan? Maka jawaban penulis adalah bukan penting, tetapi sangat penting. Tidak hanya untuk laki-laki, pendidikan juga sangatlah penting untuk perempuan, apalagi mengingat perempuan merupakan guru yang utama dan pertama untuk generasi penerus bangsa. Jelas bahwa, perempuan harus mampu menjadi pribadi yang cerdas, sehingga mampu mencetak generasi yang cerdas yang siap berjuang menjaga keutuhan dan kehormatan Agama, Bangsa dan Negaranya.

“Berarti kalau begitu, perempuan harus berpendidikan yang tinggi,” tidak salah jika ada yang berpendapat seperti ini, kalau memang niatnya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi baik dan benar. Namun sudah penulis jelaskan sebelumnya, bahwa pendidikan disini bukan hanya sebatas pendidikan yang berada di bawah naungan lembaga formal, tetapi ada juga lembaga lain yaitu lembaga non formal. Walaupun, hanya sebatas forum diskusi yang penting forum tersebut diisi dengan berbagi ilmu pengetahuan, maka, penulis katakan kegiatan tersebut masuk dalam aktivitas pendidikan.

Lalu, bagaimana dengan perempuan yang belum mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan, baik itu pendidikan formal atau pun non formal dan yang putus sekolah atau bahkan yang sekolah namun ilmu yang diperolehnya belum bermakna? kenapa penulis katakan belum? Karena kalau penulis katakana “tidak” berarti sesuatu yang diinginkan tidak akan terjadi. Berbeda dengan, jika penulis katakana “belum” berarti masih ada kesempatan sesuatu yang kita inginkan dapat terjadi, hanya saja karena proses yang kurang maksimal maka hasilnya pun belum maksimal, pada dasarnya proses tidak akan pernah mendustakan hasil. Lantas sekarang, bagaimana untuk mengedukasi para perempuan yang belum memperoleh pendidikan secara bermakna? Dalam hal ini, penulis mempunyai gagasan berupa “Sekolah Perempuan.”

“Sekolah Perempuan” merupakan lembaga non formal yang dibentuk karena kepedulian terhadap pendidikan perempuan Indonesia. Agar proses pembelajaran di  “Sekolah Perempuan” dapat berjalan secara maksimal dan bermakna, maka “Sekolah Perempuan” dibuat beberapa kelas yaitu kelas 1, 2, 3 dan 4. Setiap kelas diisi oleh jenjang yang berbeda-beda untuk kelas 1 diisi oleh pempuan dikisaran usia remaja, kelas 2 perempuan yang sudah dewasa, kelas 3 untuk para ibu-ibu dan kelas 4 untuk perempuan yang sebelumnya belum pernah memperoleh pendidikan formal dan untuk tempat kegiatannya di fokuskan dalam satu desa yang sebelumnya sudah dikomunikasikan dan dikoordinasikan terlebih dahulu dengan pihak desa. Adapun kegiatannya dilakukan pada hari libur agar pembelajaran yang dilakukan dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan harapan dan proses pembelajaran sesuai dengan yang direncanakan, maka setiap kelas dibuat buku panduan khusus yang di dalamnya sudah dijelaskan apa saja yang akan dipelajari serta indikator apa saja yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, materi yang akan disampaikan, sebelumnya sudah disusun oleh tim pusat. Adapun untuk tenaga pengajar, dapat diambil melalui open recruitment volunteer, di mana sebelum diterjunkan ke lapangan para volunteer sudah diberikan pelatihan khusus tentang sistem pembelajaran di “Sekolah Perempuan”. Seperti inilah gambaran umum dari gagasan “Sekolah Perempuan” yang diharapkan mampu menjadi solusi dalam mencerdaskan para perempuan Indonesia, karena dibalik kesuksesan seseorang ada perempuan hebat di belakangnya.

Komentar

komentar