Sekolahnya Masyarakat: Konteks Relasi Sekolah Dasar dan Masyarakat

Oleh: Hani Karno.

 

Sekolah sebagai sebuah institusi tentu tidak bisa dlepaskan dari konteks sosial yang melingkupi. Sekolah, secara historis menjadi bagian dari institusi yang lahir untuk dan dari harapan masyarakat, sekolah, lahir dibidani masyarakat. Berjamurnya yayasan-yayasan yang menaungi institusi pendidikan menjadi satu indikasi. Contoh yang paling nyata bagaimana kemudian masyarakat turut membidani kelahiran sekolah akan mudah kita temui pada Madrasah Ibtidaiyah yang dinaungi oleh Yayasan.

Menurut Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan  (Bandung: PT Remaja Rosdakaya, 1993), pandangan ‘filosofis’ tentang hakikat sekolah itu sendiri dan hakikat  masyarakat, diantaranya sebagai berikut:

  1. Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat; ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat.
  2. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
  3. Kemajuan sekolah dan masyarakat saling berkorelasi; keduanya saling membutuhkan.

Menurut pandangan ‘historis’ antara lain:

  1. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang sehrusnya mendidik generasi muda untuk hidup di masyarakat.
  2. Sekolah haruslah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat setempat.
  3. Sebaliknya, masyarakat harus membantu dan bekerja sama dengan sekolah, agar apa yang diolah dan dihasilkan sekolah sesuai dengan apa yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh masyarakat.
  4. Pentingnya hubungan sekolah dan masyarakat dapat pula dikaitkan dengan semakin banyaknya isyu yang berupa kritik-kritik dari masyarakat tentang tidak sesuainya produk sekolah dengan kebutuhan pembangunan. Dengan meningkatkan keefektifan hubungan sekolah dan masyarakat, beberapa masalah tersebut dapat dikurangi.

Dalam tataran realitas relasi antara sekolah dan masyarakat tak jarang berjarak. Seperti yang diutarakan oleh Ngalim Purwanto,  bahwa Sekolah haruslah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat setempat.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah sekolah sudah mengetahui apa yang dikehendaki oleh masyarakat, atau lebih jauhnya lagi apakah masyarakat sudah mengetahui apa yang dikehendaki dari sekolah? Atau jika sekolah sudah mengetahui apa yang dikehendaki masyarakat dan masyarakat juga sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang pendidikan (sekolah) apakah dua sistem ini sudah membangun komunikasi? Alih-alih bersinergi, jangan-jangan komunikasi yang dibangun hanya sebatas formalitas akhir tahun.

Sejauh yang penulis ketahui selama bersinggungan dengan sekolah, distrust sering menjadi penghalang komunikasi anatara sekolah dan masyarakat.  Buruknya komunikasi yang terbangun menimbulkan minimnya data dan informasi tentang satu pihak oleh pihak lainnya dan kembali sistem sekolah dan masyarakat terhubung hanya untuk hal-hal yang sifatnya seremonial belaka.

Idealnya tidak ada lagi pemisahan antara pendidikan di masyarakat dan di sekolah, menciptakan kultur kondusif simultan dilakukan mulai dari rumah, lingkungan bermain, dan sekolah. Ketiganya bahu membahu membangun seluruh potensi yang ada pada anak, sehingga ketiganya menjadi tempat dan sumber belajar potensial  bagi anak. Pembelajaran menembus dinding dan dikomunikasikan dengan lingkungan sekitar.

Menghilangkan dikotomi; Sekolah dulu atau masyarakat dahulu?

Pemikiran seperti sejatinya tidak perlu keluar seumpama kedua sistem duduk bersama dan melakukan porsi masing-masing dengan tahapan yang sudah disepakati sehingga ada keduanya bisa seiring sejalan dalam harmoni.

Dimulai dari penyusunan perencanaan strategis

Perencaanaan strategis sekolah yang salah satunya diejawantahkan dalam sebuah visi, misi, dan tujuan sekolah acap kali dianggap sebagai bagian dari administrasi yang formalistis. Visi, misi tak jarang hanya di-copy paste ditakar keindahannya melalui persepsi kepala sekolah semata, tanpa melibatkan warga sekolah.

Penyusunan visi misi yang mampu mengakomodasi kepentingan siswa, guru, dan lingkungan masyarakat mutlak memerlukan inputan data yang kuat. Data dan pemahaman akan dinamika sekeliling dianalisia dengan baik sehingga sekolah mampu menjawab harapan dari siswa, guru, dan lingkungan masyarakat. Melalui Visi, Misi, dan Tujuan yang baik Sekolah bisa menjawab tantangan zaman tidak hanya konteks kekinian akan tetapi beyond, melampaui masa sekarang, jauh ke depan, visioner. Visi yang mambu diejawantakan dengan baik sehingga sekolah tidak tercerabut dari akar kedaerahan di mana dia berada. Visi yang lantas mengakomodir Lingkungan sekitar sebagai bagian dari labolatorium pendidikan. Mengintegrasikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar bisa dilakukan sebagai sebuah strategi untuk megikis dinding yang membangun jarak anatara sekolah dan masyarakat.  Sehingga Apa yang dilakukan sekolah pengertian, good will, kepercayaan, penghargaan dari publik (masyarakat)

Sebagaimana diamanatkan oleh Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV yang di dalamnya memuat bahwasannya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mereka juga mempunyai kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan. Partisipasi masyarakat dalam membangun budaya kondusif bagi anak tentu menjadi sebuah impian bersama. Bagaimanapun sekolah harus memiliki  sistem yang terbuka, sekolah pasti akan mengadakan hubungan dengan masyarakat disekelilingnya. Begitu pun masyarakat harus mampu memberikan dukungan yang baik bagi sekolah. Keberhasilan penunaian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh ikatan objektif antara sekolah dan masyarakat. Ikatan objektif ini dapat berupa perhatian, penghargaan, dan bantuan tertentu; seperti dana, fasilitas, dan bentuk bantuan lain, baik bersifat ekonomis maupun non-ekonomis, yang memberikan makna penting pada eksistensi dan hasil pendidikan (Depdikbud, 1990: 5-9).

Bagaimanapun sinergitas produktif antara sekolah dan masyarakat akan sangat menguntungkan bagi anak. Desain pembelajaran yang mengakomodasi dinamika daeah setempat akan sangat membantu anak dalam memahami suatu permaslahan. Anak diajak untuk melihat konteks yang melingkupinya, sehingga dia mampu berfikir konkret apa yang menjadi manfaat dari satu aktifitas pembelajaran untuk diri dan kehidupannya.

Kelembagaan masyarakat yang menjalankan fungsinya dengan optimal dan produktif tentu akan sangat membantu untuk meciptakan iklim kondusif bagi anak, PKK yang concern dengan asupan gizi yang baik bagi anak, sementara sekolah menyiapkan anak baik itu kognisi, afeksi, atau psikomotori. Karang Taruna yang dalam salah satu program kerjanya memberikan pendampingan belajar untuk anak sekolah, sehingga anak-anak memiliki ruang belajar lain selain di sekolah. Komunitas pengajian yang menyisipkan materi parenting aplikatif, sehingga ligkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah memiliki porsi yang proporsional untuk mendidik anak. Dengan dikomandani Kepala Desa/Lurah yang melakukan pemantauan dan supervisi.  Kelembagaan yang berfungsi dengan baik tentu mampu menjadi dinamisator bagi perubahan di masyarat.

Epilog

Tentu impian tersebut bukanlah sebuah utopia jika kedua sistem (sekolah dan masyarakat) mau memulai dan berkomitmen atas apa yang digagas, kerja-kerja bersama yang dimulai dari keterbukaan dalam membangun komunikasi, trust, dan inisatif.  Bersama bahu-membahu membina generasi penerus bangsa yang unggul dan senantiasa mampu mengaruhi dinamika zaman idealnya harus disadari sebagai sebuah amanah kita bersama.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.