Sekolah Literasi Indonesia Upaya untuk Membumikan Literasi

sekolah literasi 2

 

Oleh: Abdul Kodir.

Meminjam istilah Prof. Quraish Shihab tentang karyanya yang berjudul ‘Membumikan Al Qur`an’ agaknya pantas juga untuk disandingkan dengan kata literasi. Istilah membumikan mengisyaratkan “jauhnya” kegiatan literasi dari kehidupan kita, padahal idealnya literasi itu harus “dekat” dengan kita, dekat dengan kehidupan kita kapan pun dan di mana pun. Jadi “membumikan Literasi” ringkasnya mengandung pengertian adanya upaya untuk mewujudkan “yang jauh” menjadi “yang dekat”.

Istilah membumikan literasi tidaklah berlebihan untuk menggambarkan budaya literasi di Indonesia yang masih jauh dari harapan. Tengok saja penelitian dari Hasil riset IAEA (The International Association Evaluation Achievement), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) dan Center for Social Marketing (CSM) kesemuanya menjelaskan bahwa tingkat budaya literasi di negara kita masih terbilang lemah. Tentu, memahami literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan baca dan tulis saja karena ini baru sebatas literasi teknis jika berkenaan dengan hal ini Indonesia sudah sangat baik menurunkan angka buta aksara hingga tahun 2015.

Namun, literasi yang dipakai dalam konteks kekinian lebih luas lagi, literasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan tulis saja. Bahkan menurut Prof. Totok mengatakan  dalam perkembangannya literasi tidak hanya bermakna keberkasaraan saja, namun literasi juga bisa dipadukan dalam pembelajaran sains, sosial, matematik sehingga siswa dapat mengeksplor imajinasi dari konsep pelajaran tersebut dalam alur cerita yang sangat menarik, hal ini bisa menumbuhkan sikap kritis dan logis dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Dalam pembelajaran berbasis literasi anak dipacu untuk berpikir dan mengembangkan daya nalarnya terhadap satu permasalahan yang diajukan oleh guru. Sehingga anak terbiasa berpikir kritis dan logis. Saat ini pola pembelajaran yang ada hanya menjejali atau bahkan siswa diminta menghapal satu materi sedangkan siswa sendiri tidak memahami manfaatnya selain untuk bekal menjawab soal-soal ujian.

Pola pembelajaran yang dilakukan di sekolah sepatutnya juga tidak hanya kegiatan membaca saja, namun menekankan pentingnya pemahaman terhadap isi bacaan, karena esensi dari membaca adalah pemahaman, tanpanya kegiatan membaca tidak akan menghasilkan apapun. Menurut William seseorang dapat dikatakan paham apabila: mampu menangkap arti kata, mampu menangkap makna bacaan dan mampu menyimpulkan bacaan.

Saat ini Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa membentang kebaikan dengan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) di 20 titik tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Utara, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan,NTT dan Papua. Untuk membangun budaya literasi di Sekolah Dampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa hal yang dilakukan adalah dengan melakukan pembiasaan membaca sebelum proses belajar mengajar , tidak hanya membaca saja setelah kegiatan membaca selesai,  salah satu siswa diminta untuk sharing dari buku yang telah dibacanya. Di sini siswa belajar memahami isi bacaan dan melatih kemampuan komunikasi.

Selain itu di setiap kelas dilengkapi pojok baca (ceruk ilmu), pojok baca adalah rak buku yang diletakkan di sudut kelas hal ini dilakukan untuk memfasilitasi minat baca siswa yang tumbuh kapan saja.  Di ceruk ilmu juga dilengkapi dengan jurnal ceruk ilmu, dalam jurnal ceruk ilmu siswa diminta pendapatnya tentang buku bacaan yang telah dibacanya.

Dengan program pembiasaan yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu memicu minat siswa dalam membaca, sehingga menciptakan generasi yang berkualitas.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.