Saatnya Guru Menulis

Oleh: Siti Sahauni

 

Siapa saja dapat menulis. Tak ada batasan usia atau seberapa tinggi pangkat pendidikan seseorang yang pernah ditempuhnya. Bahkan, profesi seseorang yang digelutinya pun bukan lagi penghalang untuk menulis. Karena menulis adalah proses di mana seseorang menuangkan ide atau gagasan yang meletup-letup di dalam kepalanya. Ide atau gagasan yang keluar adalah bentuk kecaman seseorang karena merasa tidak terpenuhi hasratnya. Terlebih mengkritisi tentang persoalan pendidikan yang butuh pencerahan dan pengembangan kompetensi sebagai seorang pendidik.

 

Pada kenyataannya guru-guru dewasa ini belum berani keluar dari zona nyaman sebagai seorang pendidik. Bukan berarti mereka harus mangkir dari tugas mulianya sebagai seorang pendidik. Melainkan karena ia guru, sudah sepatutnya mengembangkan kompetensinya. Tidak cukup hanya mengandalkan di bidang pendidikan. Tetapi, kontribusi lainnya seperti pengembangan diri juga perlu ditingkatkan dan diperhatikan.

 

Menulis adalah cara yang dapat dilakukan oleh guru. Tetapi, karena minimnya pemahaman akan dunia tulis menulis. Dan tidak adanya motivasi diri untuk mengembangkan kompetensi, yang kemudian mengakibatkan kemampuan guru di daerah tetap setia pada satu keahliannya yakni mengajar.

 

Kesetiaan guru yang mengabdikan diri pada dunia pendidikan memang tidak salah. Tetapi, kesalahan akan menjadi fatal apabila keahlian mengajarnya masih tetap terkesan monoton. Dan tidak membawa perubahan bagi dirinya ataupun sekelilingnya. Inilah salah satu penyebab mengapa guru di daerah tidak banyak mengalami peningkatan. Dalam hal ini adalah kompetensi sebagai orang yang digugu dan ditiru oleh peserta didiknya.

 

Tidak banyak guru yang akhirnya memiliki hobi menulis. Selain karena menulis butuh pembiasaan. Juga karena menulis bagi sebagian orang mengatakan itu adalah kegiatan yang hanya membuang-buang waktu belaka. Padahal bila ditelisik lebih jauh, ada begitu banyak manfaat yang belum diketahui oleh kebanyakan orang dari kegiatan menulis. Terlebih bagi seorang guru.

 

Seorang ahli menyoroti akan kebermanfaatan yang dapat dirasakan. Baik dari segi kemampuan guru tersebut maupun bagi peserta didiknya . Enre (1988:6) mengungkapkan bahwa dengan menulis, dapat menolong kita menemukan kembali apa yang pernah diketahui, menghasilkan ide-ide baru, membantu mengorganisasikan pikiran kita dan menempatkannya dalam suatu bentuk yang berdiri sendiri. Dapat menjadikan pikiran seseorang siap untuk dilihat dan dievaluasi. Membantu menyerap dan mengusai info baru, dapat memecahkan masalah dengan jalan memperjelas unsur-unsurnya dan menempatkannya dalam suatu konteks visual.

 

Kemudian pendapat lain yang mampu memberikan penguatan dari kegiatan menulis. Akhadiah dkk (1998:1-2) mengungkapkan pendapatnya mengenai menulis. Bahwa dengan menulis kita dapat mengenal kemampuan dan potensi diri kita. Bila setiap guru mengenali kemampuannya dan potensi yang dimiliki. Barangkali banyak guru yang dapat memberikan kontribusi lebih di bidang pendidikan.

 

Perkembangan zaman yang semakin kekinian, membuat tenaga pendidik juga memiliki kemampuan menulis. Menulis bukan lagi melulu dilakukan oleh para penggerak literasi saja. Namun juga menyentuh hingga pada kalangan guru. Karena banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari kegiatan menulis. Dan gerakan guru menulis merupakan salah satu cara agar perkembangan mutu pendidikan kian membaik. Karena gurunya mestinya merasa perlu adanya pembenahan diri.

Meskipun kini tidak banyak kalangan yang menyukai dunia tulis menulis. Kelak, waktu itu tiba. Di mana gerakan menulis mewabah. Tidak hanya dilakukan oleh guru-guru di kota tetapi meluas hingga sampai ke daerah. Karena menulis hak siapapun. Profesi tidak lagi identik dengan para penyair atau sastrawan. Tetapi, keterampilan menulis juga mesti dimiliki oleh tenaga pendidikan. Semoga. (*)

 

 

Komentar

komentar