Saatnya Bergandengan Tangan Membangun Sekolah Lebih Baik

Saatnya Bergandengan Tangan Membangun Sekolah Lebih Baik

 

Hingga awal 1990-an, SDN 01 Padang Panjang, Tabalong (Kalimantan Selatan) bisa dikatakan belum layak disebut sebagai sekolah yang baik.

 

Waktu itu untuk bisa menertibkan siswa berangkat ke sekolah dengan memakai sepatu dan seragam saja sebuah pekerjaan sangat berat. Penyebabnya, kondisi ekonomi masyarakat setempat memang masih pas-pasan. Sehingga, saat anak-anak mereka berangkat ke sekolah cukup dengan berpakaian seadanya dan san-dal jepit. Siswa ke sekolah tanpa alas kaki juga bukan pemandangan aneh.

 

Pada waktu itu belum ada kegiatan penambang-an di wilayah Tabalong. Rumah-rumah warga masih jarang karena penduduknya memang belum sebanyak seperti sekarang. Sebagian besar pendapatan warga berasal dari hasil menyadap getah karet. Penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Membelikan sepatu dan seragam sekolah anak-anak masih belum dianggap penting.

 

Di balik semua keterbatasan itu, justru ada potensi yang sangat besar. Warga sekolah dan masyarakat memiliki waktu yang cukup banyak untuk berinteraksi. Untuk mendatangkan wali siswa ataupun warga untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan pihak sekolah sangatlah mudah. Sebab, kegiatan toreh getah karet maksimal berakhir pada pukul 10.00. Di situlah terjalin kontinuitas yang tinggi untuk berdiskusi dan menelorkan gagasan-gagasan cemerlang untuk men-jadikan SDN 01 Padang Panjang sekolah yang hebat. Dan kami awali niat ini dengan penertiban seragam dan sepatu siswa. Alhamdulillah, hasilnya positif. Warga masyarakat menerima bila tahun ajaran berikutnya anak-anak mereka wajib mengenakan seragam sekolah dan sepatu.

 

Keharmonisan yang terjadi antara sekolah dan masyarakat juga terjadi pada program-program berikutnya. Mulai dari pembelajaran, prestasi siswa, hingga ke-bersihan dan keindahan sekolah. Lagi-lagi sambutan warga masyarakat luar biasa. Mereka juga ikut berperan aktif menjadikan sekolah yang hijau, bersih, dan indah. Berbagai peran mereka lakukan, di antaranya ikut dalam mengecat pagar sekolah, memangkas rumput dan tumbuhan liar di sekitar sekolah, dan menyuruh anak-anak mereka untuk membantu guru mengelola taman dan kebun sekolah di luar jam se-kolah. Masyarakat juga ikut bergotong-royong menggali sumur sekolah. Sungguh suatu kebahagiaan dan keharuan yang saya rasakan ketika mengingat masa-masa itu.

 

Dengan semangat yang luar biasa itulah kami mengikuti lomba sekolah “Lingkungan Sehat” pada 1993. Mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, sampai akhir-nya tingkat provinsi. Meraih predikat juara 1 bukan lagi sebatas mimpi, melainkan sesuatu yang telah kami raih. Sebenarnya ada peluang bagi kami untuk ikut lomba tingkat nasional. Namun, karena keterbatasan dana, kami terpaksa mengurungkan ikut menjadi duta Kalimantan Selatan.

 

Bapak Aris Rentak selaku kepala sekolah waktu itu mampu memimpin kami menjadi guru-guru yang hebat, disiplin, ingin maju, dan mau memberikan yang ter-baik buat siswa. Dalam periode kepemimpinan beliau, kami merasa malu sendiri ketika tidak melaksanakan tugas dengan baik. Sebab, dalam hal apa pun beliau se-lalu terdepan, memberi teladan dan tidak membeda-bedakan guru satu dengan yang lainnya. Beliau pun mampu menjadikan warga di sekitar sekolah sebagai mitra yang hebat dalam mewujudkan sekolah yang berkualitas.

 

 

 

Masa-masa keemasan sekolah kami tentu saja bisa terwujud kembali di ba-wah pimpinan kepala sekolah yang sekarang. Saya kenal baik dengan beliau. Beliau juga baik dan semangat. Tinggal butuh tim yang hebat pula untuk menuju prestasi-prestasi berikutnya. Tentunya dengan berbagai kekurangan yang ada, baik kondisi di dalam maupun di luar sekolah. Terlebih saat ini kondisi warga di sekitar sekolah sudah banyak berubah; mereka sangat sibuk menjadi pegawai tambang. Demiki-an juga siswa, yang dari sisi semangat dan kesungguhan belajar amat berbeda di-bandingkan masa awal dekade 1990-an.

 

Tapi, insya Allah akan selalu ada harapan, dan setiap masa pasti ada hambatan sekaligus ada pula jalan keluarnya. Tinggal bagaimana semua komponen ini—kepala sekolah, guru, siswa dan masyarakat—bersama-sama menemukan solusi untuk berbagai persoalan yang ada. Adanya pendampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa tentunya menjadi anugerah tersendiri bagi kami agar sekolah mampu meraih (lagi) prestasi-prestasi berikutnya.

 

 

 

Komentar

komentar