Saat Siswa Senang Berkreasi

Oleh: Salasiah, Guru Sekolah Cerdas Literasi SDN 01 Padang Panjang, Tabalong (Kalimantan Selatan)

Memberikan pelajaran keterampilan gampang-gampang susah mengingat tidak semua siswa bisa dengan cepat mempraktikkannya. Namun, itulah tugas saya di sekolah ini.

SEBAGAI GURU Seni Budaya dan Keterampilan saya dituntut memiliki kepekaan terhadap siswa terkait memahami bakat dan minat mereka, khususnya terkait cipta rasa dalam berkreasi.

Pada semester sebelumnya, kreasi pertama yang saya ajarkan kepada siswa adalah membuat bunga dari kertas. Karena ini karya pertama bagi mereka, saya mengajarkan dengan detail cara-cara membuat se-buah karya yang bukan sekadar berkarya. Maksudnya, membuat sebuah karya yang memenuhi beberapa hal berikut:

  1. Karya berupa barang yang bisa berguna bagi kita dan orang lain;
  2. Indah dan menarik bagi yang memandang;
  3. Layak jual;
  4. Teliti dan rapi dalam pengerjaan;
  5. Mampu menikmati dan menjalani setiap langkah dengan penuh kesungguhan.

Lima hal itulah yang saya tanamkan sehingga siswa menyambut kegiatan ber-kreasi atau berkarya ini dengan sangat antusias. Pembelajaran ini saya hasilkan dari evaluasi tahun sebelumnya. Saat itu, sebagian besar siswa kurang serius dalam mengikuti pelajaran berkarya. Mereka terkesan asal membuat dan akhirnya hasilnya pun tidak memuaskan. Tampilan tidak menarik, kesan indah pun tidak ada, apalagi sampai layak untuk dijual. Dari sisi aktivitas, siswa pun tampak ogah-ogahan dalam berkarya, seolah belum memahami betul untuk apa membuat sebuah karya.

Dari pengalaman tahun lalu tersebut saya perbaiki pula model pengajaran yang selama ini saya terapkan. Biasanya saya langsung datang, memberi contoh, kemudian langsung memberi tugas kepada siswa untuk membuat karya serupa. Saya tidak memberikan arahan dan petunjuk yang jelas, apalagi manfaat karya yang akan dipelajari, termasuk cara mengembangkannya. Hanya saat ada siswa yang bertanya saya baru memberikan penjelasan. Padahal, sangat sedikit siswa yang mengajukan pertanyaan.

Kali ini berbeda jauh. Siswa tidak hanya senang bertanya, mereka juga tampak menikmati ketika berkarya. Mereka paham betul apa yang harus mereka lakukan. Bahkan mereka bisa menemukan ide-ide baru dalam berkarya, yang tentunya kian menambah semarak karya di kelas. Semakin hari tampak jelas perubahan minat mereka dalam membuat aneka karya, baik karya dengan bahan baku yang harus dibeli di toko maupun karya dari barang bekas atau bahkan sampah. Dalam hal ini saya tinggal mengarahkan soal ketelitian, kerapian, dan ketepatan setiap bagian-bagian yang akan dirangkai.

Secara pribadi saya juga merasakan suasana belajar berkarya yang lebih me-nyenangkan dan memuaskan. Sebab, setiap karya yang mereka hasilkan adalah buah dari yang saya ajarkan selama ini. Sekaligus pula menunjukkan apakah model belajar yang saya terapkan selama ini berhasil atau tidak. Semakin banyak ide baru dalam berkarya menunjukkan saya cukup berhasil membimbing mereka. Meski belum sempurna karya yang mereka buat, semangat yang ada sudah bisa membuat saya bangga dan yakin bahwa suatu saat akan muncul temuan-temuan baru dan kreasi-kreasi baru yang akan bisa ditampilkan dalam berbagai lomba karya sekolah.

Terkait hal itu, saya selaku guru harus tetap kreatif memberi inspirasi dan temuan-temuan baru. Menurut saya, seorang guru dituntut untuk bisa memberikan contoh atau teladan, termasuk dalam membuat berbagai kreasi yang terbaik. Dengan demikian, siswa akan menunggu-nunggu setiap jam pelajaran; penasaran dengan ide-ide baru sang guru, dan siap terkejut dengan kejutan karya setiap minggunya.

Komentar

komentar