Rote, Pemuda Papela dan Semangat Mereka yang Tinggi

Teman-teman, saya ingin mengisahkan pertemuan saya dengan para pemuda Papela. Mereka adalah pemuda yang memiliki hati sangat tampan, akhlaknya menawan, dan hidup mereka selalu diisi dengan kebaikan.

Pertemuan saya dengan mereka diawali dari Pelatihan Perpustakaan yang diadakan kantor tempat saya berkarya, Dompet Dhuafa. Saya ditugaskan untuk mengaktifkan kembali Taman Literasi yang sudah dibangun di sana sejak tahun lalu.

Pada Sabtu (27/9) pagi, saya bersemangat sekali untuk bertemu para peserta pelatihan. Dalam benak saya, mereka pastilah orang-orang yang luar biasa dengan semangat membara. Ternyata prasangka saya terbukti, 15 pemuda dan pemudi yang hadir merupakan orang-orang yang luar biasa.

Seperti pada pelatihan kebanyakan biasanya peserta pelatihan mendadak menjadi sangat  pendiam dan belum mampu mengekspresikan diri mereka, pun sama halnya dengan para peserta Pelatihan Perpustakaan kali ini. Namun seiring berjalannya waktu para peserta Pelatihan Perpustakaan ini menjadi sangat hidup dan dipenuhi canda serta tawa. Terima kasih kepada Faqih, pemuda Papela yang hobi membuat kami semua tertawa.

Yang menarik dalam pelatihan kali ini ialah saat saya meminta mereka menggambarkan perpustakaan impian mereka, hasilnya mengagumkan dan membuat saya tercengang. Rata-rata mereka menginginkan perpustakaan dengan ruang hijau alias banyak tanaman  mengingat Rote memiliki cuaca yang panas, ada ruang khusus untuk bermusik karena ternyata para pemuda Papela ini memiliki talenta bermusik yang luar biasa. “Kami juga menginginkan perpusatakaan yang dapat digunakan untuk santai sambil ngupi-ngupi mbak”, harap Hairul.

Sepanjang pelatihan saya menangkap banyak impian-impian besar mereka mulai dari ingin bertemu dengan pemain sepakbola kelas dunia, ingin sukses menjadi pengusaha sampai ke impian paling mulia yakni membahagiakan orangtua dan menjadi pasangan yang sholeh dan sholehah. Kagum saya dibuatnya! (Kertas impiannya saya kubur di tanah Bogor ya, biar kalian segera datang ke tanah Jawa!). “Ingin bertemu Tuhan mbak”, ujar Suharto. Impian yang unik,  hebat, dan membuat kami yang mendengar sontak tertawa. Bukan menertawakan impian mulia tersebut, tapi lebih kepada terkesima dengan kepolosannya. Namun sangat disayangkan karena akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menuliskan keinginan tersebut dalam kertas impiannya.

Saya semakin kagum dengan mereka saat saya melontarkan ide untuk membuat program Gerobak Ilmu di Papela. Ide tersebut ditangkap dengan cepat, maka tidak perlu menunggu berlama-lama program ini harus segera dilaksanakan. Keesokan harinya saya langsung berkoordinasi dengan sekolah-sekolah di Desa Papela. Saya sangat bahagia karena para Kepala sekolah menyambut baik dan sangat antusias dengan program ini.

Sabtu (29/9) pagi merupakan hari bersejarah yang sangat ditunggu dan hari paling menyenangkan dalam hidup saya dan para pemuda Papela tentunya. Setelah menyiapkan buku dan memasukkannya ke dalam gerobak, sekitar pukul 08.30 kami berkumpul di Taman Literasi dan langsung berjalan menuju sekolah. Gerobak Ilmu dikawal oleh Laskar Papela yang dikepalai oleh Bu Rizal, Laskar Papela merupakan kumpulan pemuda pemudi Papela yang membantu kegiatan ini, personelnya antara lain Bu Rizal, Bu Rifky, Bu Faqih, Bu Hairul, Bu Alfian, Bu Anggi, Bu Barley, Bu Suharto, Bu Armin, Bu Abdus, Susi Nila, Susi Mega, Susi Siti, Susi Imelda, dan Susi Aci. Sekadar informasi, Bu merupakan panggilan untuk kakak laki-laki sedangkan Susi merupakan panggilan untuk kakak perempuan.

Tibalah kami di SD Papela, rupanya Gerobak Ilmu sudah dinanti oleh anak-anak. Maka ketika kami datang gerobak yang merupakan pinjaman dari salah seorang anggota Laskar Papela, Susi Aci, disambut dengan penuh antusias. Seketika gerobak tertutup anak-anak yang sibuk memilih dan mengambil buku bacaan. Seperti orang yang kelaparan, anak-anak di sini begitu ”ganas” “melahap” buku-buku yang kami bawa. “Ibu..ibu…beta juga mau buku, tapi beta tak bisa ambil”, kata salah seorang anak yang mengeluh sambil menarik-narik baju untuk minta diambilkan buku.  Setelah puas membaca, kunjungan Gerobak Ilmu bersama para Laskar Papela ini saya tutup dengan mengajari tepuk Banana kepada anak-anak. Open banana 3x, Slice banana 2x, eat banana 2x, shake banana 2x, exit banana 2x, I love banana.

Karena kunjungan berikutnya baru akan dilaksanakan pukul 11 siang di salah satu MTS, maka Gerobak Ilmu kami parkir di depan warung salah satu warga. Kami tak menyangka kalau Gerobak Ilmu kami diserbu para warga. Para warga mendatangi gerobak kami dan mulai memilah-milah buku untuk dipinjam.  “Ini bayar kah? Berapa lama beta bisa pinjam buku Cara Mendidik Anak Menjadi Shaleh ini?”, tanya salah satu ibu sambil memegang buku pilihannya.

Selesai sudah kegiatan mulia para Laskar Papela tersebut. Selanjutnya pada sore hari, kami bersama-sama melakukan Team Building ke Pantai Ve, pantai yang benar-benar membentuk huruf Ve. Kami bermain-main bagai anak kecil lupa pulang, mulai dari bermain benteng sampai rujakan, kami sangata senang. Acara hari itu ditutup dengan foto-foto bersama ala kami, loncat-loncatan! Hahaha.

Sabtu yang indah di Papela, Rote, akan menjadi kenangan yang selalu saya ingat. Para pemudanya, semangatnya, senyum ramah, pantainya dan tentu saja anak-anaknya! Saya berdoa dengan khusyuk dalam hati kepada Tuhan, pencipta Bumi Rote agar aku bisa kembali lagi dan saling berbagi inspirasi!

Hatiku tertambat di Rote! [Dini].

{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.