Refleksi Coretan Dinding Siswa

Pada awal bulan Agustus 2016, saya berkesempatan mengunjungi sebuh sekolah menengah pertama yang berada di salah satu kota besar di Indonesia. Seperti biasa, saya senang mengamati segala sisi lingkungan sekolah dan interaksi warganya. Salah satu yang menarik perhatian saya dan sekaligus membuat saya prihatin adalah adanya coretan yang saya lihat saat duduk di dekat dinding sebuah kelas. Di atas dinding bercat hijau itu ada gambar coretan hasil  karya siswa. Coretan yang membentuk wujud tubuh perempuan telanjang bulat, lengkap dengan bagian-bagian organ intimnya. Tidak hanya itu, saat saya memasuki toilet siswa, kembali saya temukan gambar-gambar seronok berupa (maaf) alat kelamin laki-laki dan perempuan yang sedang berhubungan seksual. Lebih parah lagi ada kalimat-kalimat berbau hubungan seksual di dalam kamar toilet tersebut.

Ada apa dengan coretan-coretan dinding itu? Sebagai guru atau orang tua, seharusnya kita khawatir. Kenapa? Hal ini karena coretan dinding itu adalah cerminan apa yang ada dalam pikiran siswa. Pikiran yang diwarnai dengan hal-hal yang berbau porno dan fantasi hubungan seksual. Dan itu merupakan cerminan kepribadian sebagian generasi muda saat ini. Setidaknya, coretan dinding itu memberikan kita gambaran tentang budaya yang terjadi di kalangan generasi muda jaman sekarang. Budaya pornografi.

Budaya pornografi juga tidak sebatas pada pikiran, namun juga sudah mewujud menjadi perilaku yang cenderung kepada hal yang mengarah kepada free sex. Pacaran, hubungan seks di luar nikah, arisan seks pelajar, nonton dan bahkan membuat video porno, dan budaya-budaya negatif lainnya sudah akrab di kalangan remaja Indonesia saat ini.

Survey yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2010, dari hampir 4.000 pelajar di 12 kota besar di Indonesia, ternyata 50 persen pelajar mengaku pernah mengakses laman pornografi, dan  60 persen dari respoden pengakses pornografi tersebut mengaku telah melakukan tindak lanjut seperti “kissing” dan “petting“. Bahkan sebanyak 50 persen responden sudah pernah melakukan hubungan intim. (www.viva.co.id, 18/2/2014). Sedangkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia, tentang dampak negatif dari internet yang melibatkan 4.500 pelajar SMP dan SMU, sekitar 97 persen pelajar pernah mengakses situs porno, 92,7 persen pelajar pernah melakukan kissing dan oral sex, 61 persen pelajar SMP pernah melakukan hubungan seksual, dan 21,2 persen siswi SMU pernah melakukan aborsi (http://www.tribunnews.com, 18/2/2013). Hal tersebut diperkuat dengan hasil survey yang dilakukan oleh Google sebagai situs penyedia data dan pencari, ternyata Indonesia memang berada diperingkat ketiga yang paling banyak mengakses situs porno dan diperingkat pertama adalah India (www.antaranews.com, 12/4/2015).

Hasil riset itu memang terbukti di lapangan. Sebagai contoh, usai nonton film porno, pelajar SMA di Kabupaten Asahan Sumatera Utara menyetubuhi siswi SMP (www.okezone.com, 27/4/2015), sekelompok siswa-siswi SMP di Tanjungpinang sudah terbiasa melakukan hubungan seks beramai-ramai di ruang kelas usai rame-rame menonton film porno (www.kabarnet.in, 12/10/2014), sepasang pelajar di Cirebon melakukan mesum di bilik warnet (www.republika.co.id, 3/9/2014), sepasang pelajar SMA di Poso Pesisir Selatan making love di  kantin sekolahnya pasca Ujian Nasional (UN) dan ditonton teman-temannya sambil direkam (www. tribunnews.com, 12/5/2016), usai ujian siswi SMP digrebek sedang pesta seks dengan tiga teman pria di salah satu kamar wisma di Makassar (www.sindonews.com, 24/5/2016). Contoh lainnya lagi terkait budaya seks bebas di kalangan remaja adalah, perbuatan mesum yang dilakukan siswa SMA daerah Banyuasin yang dilakukan di ruangan  kelas. Sedangkan di kalangan mahasiswa budaya kumpul kebo ini juga sudah demikian memprihatinkan, sedikitnya 9 pasangan mahasiswa kepergok kumpul kebo di beberapa tempat kost di daerah Jember. (www.pojoksatu.id, 24-25/3/2015).

Ternyata budaya seks bebas yang marak di kalangan generasi muda Indonesia juga sama dengan yang terjadi di Barat. Sebagai salah satu contoh, di Yale University di Connecticut Amerika Serikat, sebanyak 44 persen mahasiswa terbiasa melakukan masturbasi setiap hari, sementara 57 persen diantara mereka rutin seks dengan pasangan dan seks bebas dengan siapa pun (www.pojoksatu.id, 15/10/2015).

Tentu perilaku negatif yang terjadi di lapangan tidak terbatas pada pornografi  dan free sex saja, namun juga budaya miras, narkoba, kekerasan, dan budaya-budaya negatif lainnya yang akrab dilakukan oleh kalangan muda-mudi saat ini. Budaya yang juga marak dilakukan oleh generasi muda Barat. Begitulah potret generasi hasil peradaban Barat.

Mengapa budaya generasi muda Indonesia hampir sama dengan generasi muda di Barat? Bukankah generasi muda itu adalah generasi muda Indonesia, bukan generasi muda Barat? Hal ini terjadi karena kepribadian generasi muda saat ini dibentuk dan dipengaruhi oleh paham-paham Barat. Paham-paham Barat itulah yang disebut tsaqofah Barat, yang kita kenal dengan Liberalisme.

Tsaqofah, menurut Abu Yasin dalam kitab Usus at-Ta’lim al-Manhaji, mencakup akidah dan segala sesuatu yang terpancar dari akidah, baik berupa hukum, berbagai solusi, sistem, serta ilmu pengetahuan yang dilandasi akidah tersebut, seperti riwayat-riwayat dan sejarah umat.  Tsaqofah inilah yang merupakan tulang punggung peradaban sebuah umat atau bangsa. Setiap umat atau bangsa di dunia ini memiliki tsaqofah masing-masing, yang dengan itu peradaban mereka bisa tegak, eksis, khas dan berbeda dengan umat atau bangsa lainnya.

Tsaqofah Liberalisme adalah tulang punggung penegak peradaban masyarakat Barat. Masyarakat Barat bisa tegak dan kuat peradabannya dengan tsaqofah ini. Sedangkan masyarakat Sosialis, peradabannya berdiri tegak dengan tsaqofah-nya yang khas, tsaqofah Sosialisme. Bangsa Romawi dan Persia yang pada jaman dulu berjaya pun sama, peradaban mereka berdiri diatas tsaqofah khas Romawi dan Persia. Dan umat Islam juga memiliki peradaban Islam yang khas dan dapat tegak hanya dengan Tsaqofah Islam. Tsaqofah Islam inilah yang merupakan tulang punggung peradaban Islam.

Tsaqofah Islam, ia adalah tulang punggung yang saat ini hilang dari “tubuh” umat Islam. Maka, Ibarat tubuh manusia, ketiadaan tsaqofah Islam -yang merupakan tulang punggung peradaban- menyebabkan peradaban Islam tidak bisa berdiri tegak. Peradaban Islam pun ambruk, seperti ambruknya tubuh yang tidak mempunyai tulang punggung.

Saat ini umat Islam “mencangkok” tulang punggung dari umat lain (Barat). Peradaban umat Islam pun akhirnya dapat tegak, namun sayang peradaban yang tegak itu bukan miliknya, karena peradabannya mirip dengan umat lain (Barat) yang tulang punggungnya telah dicangkok tersebut.

Ya, sebagian umat Islam saat ini mempelajari, mengadopsi dan menerapkan serta menyebarkan tsaqofah asing yang bukan berasal dari Islam, yakni tsaqofah Barat. Atau yang dikenal dengan tsaqofah Liberalisme atau Sekulerisme. Tsaqofah itu menyebar dan menjadi “way of life” baru bagi umat Islam. Penyebaran tsaqofah asing itu salah satunya secara pesat berkembang lewat pendidikan, lebih spesifik lagi lewat penerapan kurikulum sekuler.

Pendidikan memang merupakan strategi efektif untuk menanamkan suatu tsaqofah. Lihatlah kurikulum pendidikan kita yang telah berhasil menjauhkan generasi dari Islam, dan di saat yang sama telah sukses mendekatkan mereka pada nili-nilai, paham-paham dan budaya sekuler, materialis, hedonis dan permisif, dan berhasil menjadikan Islam sebagai agama yang hanya mengurusi akhirat dan menjadi gagasan kebaikan saja. Belajar IPA, siswa dijejali dengan teori evolusi dan generatio spontanea. Belajar IPS, siswa “dicuci otaknya” dengan teori dan paham sosial, politik, dan ekonomi ala Barat. Belajar sejarah, siswa disuapi dengan doktrin manusia purba dan sejarah-sejarah bermuatan nilai-nilai kufur. Belajar matematika, siswa dibiasakan dengan penghitungan ribawi. Sementara pelajaran yang memuat tsaqofah Islam diminimalisir, bahkan dihilangkan. Kalau pun masih ada pelajaran agama, ia sudah disetting hanya sebatas pengetahuan belaka. Bahasa Arab pun, yang merupakan bahasa untuk memahami Islam, tidak dijadikan muatan (wajib) dalam kurikulum nasional.

Jadilah umat Islam saat ini jauh dan merasa asing dengan tsaqofah-nya sendiri. Umat Islam saat ini sudah tidak mempunyai peradaban yang khas seperti pada jaman kekhilafahan Islam. Peradaban umat islam tenggelam oleh peradaban Barat. Maka wajar saja apabila generasi umat Islam saat ini memiliki budaya yang sama dengan generasi Barat.

Bagaimana dengan sekolah kita? Apakah kurikulumnya menyokong pilar-pilar peradaban Islam, atau sebaliknya? Semoga sekolah kita menjadi lembaga pencetak generasi peradaban Islam, bukan sebaliknya. Ingatlah perkataan Imam Malik, bahwa generasi terakhir umat ini tidak akan menjadi baik (shaleh), kecuali dengan apa-apa yang menjadikan generasi pertamanya baik. Mari hadirkan kembali tsaqofah Islam yang telah hilang tersebut dalam  diri umat, sehingga akan terlahir kembali peradaban Islam yang gemilang. Insya Allah.

 

Zayd Sayfullah
Manajer Makmal Pendidikan
Trainer TOPs [Trainer Transformasi dan Optimasi Performa sekolah]

 

Komentar

komentar