Pesantren Literasi di Dahu

Oleh: Siti Sahauni

Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia

Penempatan Bantarwaru Kec. Cinangka Kab. Serang-Banten

Serang – Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengangkat tema Ramadhan berbasis literasi. Tahun ini program yang diangkat adalah Pesantren Literasi (Sanrasi). Secara umum gerakan Pesantren Literasi tidak hanya menitikberatkan pada sisi spiritualnya saja. Namun juga dibumbuhi dengan kegiatan yang berbau literasi. Misalnya memasukan pembiasaan literasi seperti membaca, menulis, dan berbicara.

Pesantren Literasi di Dahu sudah berlangsung sejak memasuki awal Ramadhan. Kegiatan ini dinamakan ‘Gema Ramadhan Dahu’. Di dalamnya berisi 6 kegiatan. Diantaranya adalah One Day One Ayat, Dahu Mengaji, Ngabuburit Asyik, Ramadhan Berbagi, Buka Bersama, dan Nuzulul Qur’an.

Setelah serangkaian kegiatan tersebut terlaksana. Rabu (22/06), Nuzulul Qur’an menjadi puncak acara kegiatan Gema Ramadhan Dahu.  Pada peringatan acara tersebut tidak hanya melibatkan anak-anak. Yang menjadi peserta dalam perlombaan Pildacil, Adzan, Fashion Show, Hafidz, Cerdas Cermas dan Menggambar dan Mewarnai Kaligrafi. Namun juga semua komponen yang ada dalam masyarakat. Dalam hal ini adalah membantu terlaksananya acara. Dengan semangat bergotong royong mengumpulkan uang untuk membeli hadiah.

Jakman Kusnadi, tokoh masyarakat Kampung Dahu menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan selama Ramadhan oleh Guru Pendamping Sekolah Guru Indonesia. Dan panitia kecil yang ikut dilibatkan. Alasannya adalah agar kegiatan yang seperti ini akan diteruskan di tahun-tahun berikutnya.

“Saya senang sekali melihat perkembangan masyarakat di Dahu. Semenjak adanya  Guru Pendamping Sekolah Guru Indonesia mereka menjadi anak-anak yang berani tampil di depan umum. Sepekan terakhir ini saya perhatian diam-diam dari rumah, anak-anak yang datang tak pernah mengeluh. Mereka masih antusias mengikuti kegiatan Gema Ramadhan Dahu. Dan yang paling anak-anak menghabiskan waktu Ramadhannya dengan hal positif.” Papar Jakman saat memberikan sambutan di penutupan acara Peringatan Nuzulul Qur’an dan Gema Ramadhan Dahu.

Pengakuan Jakman Kusnadi ditanggapi positif oleh masyarakat yang berkumpul pada saat penutupan acara Nuzulul Qur’an di Masjid Al-Mubarok. Maseni (38), salah satu dari orangtua anak yang ditunjuk sebagai juri mengakui hal yang sama. Anaknya semakin hari berbeda dari kebiasaanya. Kini anaknya semakin rajin beribadah dan patuh pada kedua orangtuanya.

“Alhamdulillah sekarang Siva nggak malu kayak dulu. Dan dia juga mau kalau disuruh sama saya supaya belajar ke rumah bu Uni dan bu Fitri.” Ungkap Maseni usai menjadi juri Fashion Show.

Kegiatan ini bukan hanya menanamkan hal baik-baik pada anak. Tetapi juga menjadi sebuah kebiasaan yang ke depannya tidak hanya sekali dua kali mereka melakukan tetapi berkesinambungan. Diadakanya acara seperti ini tidak hanya memberikan dampak pada kemampuan berpikir anak tetapi kerelegiusan kepada pencipta-Nya.

“Tujuan diadakanya kegiatan ini tidak hanya menambah khasanah di bidang pengetahuan agama saja tetapi juga diseimbangkan dengan kemampuan di bidang umumnya,” tambah Fitri Ayu Indriasari selaku ketua pelakasana menutup kegiatan Pesantren Literasi.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.