Pertahankan Budaya Leluhur Bangsa agar Tidak Punah

pertahankan-budaya-leluhur-bangsa-agar-tidak-punah

 

Oleh: Sabri

Peringati HAN dengan Permainan Tradisional

Di zaman modern saat ini kehidupan tentu sangat berbeda dengan beberapa tahun lalu, di mana masa kecil sang anak disuguhi dengan permainan tradisional. Namun, saat ini permainan itu beralih ke permaian modern. Berbeda dengan anak-anak di perbatasan, walaupun hidup di zaman modern tetap mempertahankan budaya leluhur dengan memainkan permainan tradisional tiap harinya.

Tepat 23 Juli 2016 merupakan Hari Anak Nasional (HAN) dengan tema “Akhiri Kekerasan pada Anak”. Banyak cara untuk memperingati HAN 2016, di Pulau Sebatik tepatnya di Sekolah Tapal Batas, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah banyak permainan tradisional yang dilakukan dalam memperingati HAN 2016.

Dengan tema akhiri kekerasan pada anak, sebaiknya para orangtua yang masih mementingkan kesibukan masing-masing lebih peduli pada anaknya. Tidak melakukan pengawasan terhadap anak dapat berakibat buruk, dengan mudah terlibat hal negatif seperti, tawuran dan hal buruk lainnya. Sehingga, ke depan cenderung menjadi generasi yang menodai nilai-nilai sosial agung yang telah diilhamkan dalam setiap jiwa manusia.

Ditambah dengan perkembangan dunia digital saat ini permasalahan anak menjadi sangat kompleks. Sebab, perkembangan dunia digital menambah variabel baru dalam mempengaruhi proses sosialisasi anak. Yang paling dekat dan sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari saat ini adalah tontonan dan games digital ataupun onlineyang sering dimainkan anak-anak.

Dua hal ini sangat akrab dalam kehidupan bermasyarakat saat ini. Sayangnya, kemunculannya tidak terlalu ditanggapi serius para orangtua. Bahkan, tidak jarang mereka ikut mendukungnya. Mereka merasa biasa-biasa saja ketika sang anak memperagakan beberapa adegan dan penampilan dari apa yang ditontonnya. Salah satu adegan yang santer saat ini adalah memperagakan aksi-aksi brutal dalam sinetron yang ditayangkan televisi nasional.

Bahkan, tidak jarang mereka saling beradu fisik dengan sesamanya dan membagi diri dalam geng-geng yang ada di sinetron tersebut. Sampai ada yang bercita-cita untuk menjadi anggota geng motor.

“Sebelum anak-anak di perbatasan disuguhi dengan game digital, permainan tradisional harus lebih cepat diperkenalkan karena sisi negatifnya lebih kurang dibanding permainan online,” kata salah seorang guru Sekolah Tapal Batas, Achmad Salodo kepada Radar Nunukan, Minggu (24/7).

Melalui momen HAN 2016 ini, Sekolah Tapal Batas mencoba menghilangkan pikiran para anak-anak dari permainan digital maupun online. Karena dampak dari permainan modern bisa membatasi anak untuk belajar bersosialisasi dengan anak–anak sebayanya.

Menurutnya, permainan online membuat anak-anak banyak tersita untuk games digital ataupun online yang cenderung membuat seseorang untuk cenderung mementingkan diri sendiri. Sebab, aktivitasnya pada ruang–ruang sempit lagi terbatas interaksinya. Akhirnya, tidak ada lagi pembiasaan bekerjasama dengan ank-anak lainnya untuk saling memahami satu sama lainnya.

Untuk itu, agar anak-anak ini tetap bisa bersosialisasi dengan rekannya. Maka permainan tradsional yang telah diwariskan sejak turun temurun harus selalu dimainkan sang anak. Dalam kesempatan ini, anak di perbatasan memiliki kesempatan untuk bermain permainan tradisional seperti bentengan, engklek, kucing dan tikus, kasti dan yang lainnya.

“Kami bersama guru-guru yang lain sengaja memainkan permainan tradisional kepada anak-anak dan sangat terlihat kekompakannya jika permainan ini dimainkan,” ujar Achmad sapaan akrabnya.

Mungkin bisa dibandingkan dengan permaian modern saat ini seperti, Far cry, Mortal Kombat X, Alien Shooter, bahkan saat ini yang tengah populer adalah game Pokemon Go. Bisa dikatakan permainan seperti ini membuat anak-anak cenderung tidak mengenal teman sebayannya, karena harus fokus pada smartphone miliknya.

Untuk itu, dia sangat berharap permainan tradisional ini bisa dipertahankan di tanah air tercinta ini, khususnya di Pulau Sebatik. Karena permainan tradisional bisa digunakan untuk melatih anak dalam bersosialisasi, juga merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia. Para orangtua terdahulu telah membuktikan akan sikap sosial yang dibangun lewat permainan-permainan sederhana ini.

Kekerabatan antartetangga yang dibangun lewat permainan tradisional, begitu erat. Selain itu dari segi ekonomi, permainan tradisional juga tidak membutuhkan biaya besar. Bahkan, ada yang sama sekali tidak membutuhkan biaya. Karena bahannya bisa didapatkan bebas di alam.

“Saya jadi teringat masa-masa saat diajak teman-teman untuk mencoret-coret tanah karena hendak bermain engklek,” ungkapnya di sela-sela pembicaraan bersama guru yang mengabdi di di pulau terluar Indonesia ini kemarin.

Sehingga seperti apa generasi bangsa ke depannya, sangat ditentukan oleh pembiasaan hari ini. Apa yang ditontonnya, permainan apa yang dimainkannya, kepada siapa dia bergaul, dan pendekatan apa yang diberikan orang tua kepada anaknya sangat mempengaruhi masa depannya.

“Mulai saat ini permainan tradisional harus tetap dimainkan oleh anak-anak di perbatasan agar budaya leluhur tidak ditelan zaman,” harapnya. (***/eza)

Sumber: http://kaltara.prokal.co/read/news/5074-pertahankan-budaya-leluhur-bangsa-agar-tidak-punah

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.