“Perjalanan Rasa” Menjadi Pendidik

Oleh: Benning Rizahra

Guru Konsultan Pendidikan, Sekolah Literasi Indonesia Penempatan Kuningan, Jawa Barat

 

Berkecimpung di dunia pendidikan merupakan takdir yang telah Tuhan gariskan untuk saya. Garis-Nya begitu nyata terasa, saya menganggap hal tersebut sebagai rasa cinta-Nya pada saya. Pendidikan seperti yang kita tahu merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang dan sebagai salah satu penentu keberlangsungannya sebuah bangsa.

Saya yang mengambil studi di bidang pendidikan sebelumnya tak memiliki pertimbangan yang matang atau punya tujuan tertentu ketika memilih jurusan tersebut. Tidak sama sekali. Pada saat itu saya hanya tertarik pada program bahasa Inggris di universitas tempat saya mendaftar yakni Universitas Kuningan. Saya juga tidak merasa terpaksa ketika mengambil jurusan tersebut karena saya termasuk orang yang suka dengan belajar-mengajar. Teringat jelas, ketika kecil saya suka bermain “sekolah-sekolahan” di mana saya berperan menjadi guru. Dukungan orangtua membuat saya makin memantapkan diri untuk terjun di dunia mengajar, dan membuat saya semangat dalam menjalani pendidikan hingga akhirnya saya dinyatakan lulus cumlaude pada 2014 lalu.

Setelah lulus saya mulai berpikir mau ke mana hidup ini. Teman-teman yang lain sibuk mencari pekerjaan untuk menjadi guru, berbeda dengan saya yang suka dengan organisasi. Sehingga saya belum berminat menjadi guru.

Selama berorganisasi saya mendapat banyak bekal, salah satunya tentang kesejahteraan guru yang tidak terjamin. Gaji guru yang jauh dari kata layak tidak sebanding dengan kewajiban yang telah diemban. Jauh dari kata adil.  Saya banyak mendengar menjadi guru itu jauh dari rasa “bahagia”.

Dari hal tersebut, saya memutuskan untuk tidak menjadi guru. Walaupun uang bukan hal  yang utama tapi hidup bahagia adalah suatu hal yang harus saya raih. Sehingga saya juga bisa membahagaiakan orang lain. Apabila kesejahteraan tidak terjamin, mau jadi apa saya kedepannya. Ada orangtua yang harus saya pikirkan masa depannya, ada saudara, tetangga, sahabat, teman, dan semua orang yang kelak harus saya bahagiakan.

Niat saya untuk tidak menjadi guru saya sampaikan kepada orangtua. Mereka kebingungan dan khawatir dengan masa depan anaknya. Mungkin dibenak mereka menjadi guru adalah jaminan untuk mempunyai masa depan yang baik, apalagi jika sampai bisa menjdi Pegawai Negri Sipil (PNS. Walaupun sebenarnya banyak hal yang menjamin kebahagian tanpa harus  menjadi PNS.

Zaman sekarang, butuh waktu yang lama untuk seorang guru honorer bisa menjadi  PNS.  Lalu apakah saya masih harus menunggu waktu yang lama untuk membahagiakan mereka? TIDAK!!! Langkah saya semakin matang untuk tidak menjadi guru.

Tuhan menggariskan hidup saya memiliki pengalaman yang luar biasa setelah saya lulus dari studi saya. Saya mengikuti program pengabdian ke pelosok. Ini  salah satu hal yang saya sukai, beradaptasi dengan lingkungan baru, orang baru, tugas baru, dan lain-lain. Ditambah dengan berkesempatan ke pelosok-pelosok negeri yang saya sering lihat dari  kegiatan-kegiatan relawan di media. Dan program yang membuat saya tertarik adalah Sekolah Guru Indonesia yang dulu merupakan bagian dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Terdapat kata “guru” membuat saya sedikit ragu untuk mengikuti program tersebut karena  saya sudah memutusakan untuk tidak menjadi guru. Namun saya ambil hal positif dari proram tersebut yaitu jika  lolos saya berkesempatan mengabdi di pelosok negri.

Saya pun mendaftar dan akhirnya dinyatakan lolos seleksi tahap 1. Selanjutnya saya harus pergi ke Bogor untuk mengikuti seleksi tahap 2, dan dinyatakan lolos untuk mengikuti pembinaan. Rasa galau mengganggu karena saya harus meninggalkan kota Kuningan dan segala kenangan yang ada. Sempat terpikir untuk mundur karena saya sedang menikmati  segala kesibukan di organisasi. Namun, rekan-rekan dan keluarga saya mendukung untuk melanjutkan program ini sebagai bekal hidup.

Dengan berat hati, saya meninggalkan mereka semua. Sesampainya di Bogor, saya bertemu dengan orang-orang pilihan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Karena saya orang yang senang dengan suatu hal yang baru, akhirnya sedikit demi sedikit rasa sedih itupun terobati.

Di Bogor, saya hidup di asrama. Saya menjalani aktifitas yang cukup jauh dari “gaya hidup” sebelumnya. Namun ada hal yang membuat saya harus tetap menggeluti program ini, karena ini baik untuk diyakini.

Proses belajar mengajar dilakukan selama dua bulan. Saya belajar banyak hal yang berkaitan dengan pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Ya, seperti tridarma perguruan tinggi. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan selama program pendidikan ini. Ada pula program magang diamana kita mengajar di salah satu sekolah. Baru disini saya bisa merasakan secara langsung bagaimana membuat persiapan yang matang untuk mengajar dan mengelola kelas  dengan baik. Anak-anak yang susah diatur membuat saya cukup kelelahan dan harus memutar otak untuk membuat mereka fokus terhadap pembelajaran.

Semakin kuat keputusan yang saya ambil untuk tidak jadi guru, semakin besar tanggungjawab yang harus diambil. Namun tidak ada jaminan terhadap kesejahteraan saya  jika kelak menjadi seorang guru.

Selanjutnya, program yang diberi nama SHARE (SGI Help and Care) semacam Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semasa kuliah kami laksanakan di Tasikmalaya. Pengalaman yang luar biasa berjalan kaki jauh sampai rela bermalam. Kondisi ekonomi, fasilitas, dan lain-lain yang masih jauh dari sentuhan kota, bisa dibilang jauh dari “sentuhan kota”.

Selama SHARE kami menjalani program terkait Parenting. Kami saling berbagi tentang pola asuh anak kepada orangtua disana. Kami juga sering pergi ke sekolah. Di sekolah kami melihat anak-anak yang hormat kepada kami. Berkunjung ke rumah para siswa juga menjadi kewajiban kami setiap hari.

Ternyata banyak diantara mereka yang jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh. Mereka melewati hutan-hutan, jalan yang yang berlumpur, dan segala kesulitan lainnya. Namun, anak-anak ini begitu ceria di sekolah walaupun jarak tempuh untuk ke sekolah yang jauh.  Kejadian ini, harus difasilitasi dengan guru yang lebih semangat. Mendidik mereka untuk menjadi generasi bangsa yang baik. Sangat disayangkan apabila guru tidak maksimal dalam mendidik ketika semangat mereka begitu besar. Mereka adalah aset bangsa yang sudah punya semangat tinggi, tinggal diberikan wawasan keilmuan dan bagaimana menyikapi hidup. Dari sini, mulai timbul rasa ingin mendidik bagi saya, tidak ingin menyia-nyiakan semangat mereka yang menggebu.

Program ini dilanjutkan dengan penempatan satu tahun di pelosok negeri. Saya ditempatkan di kabupaten Cianjur, tepatnya di MI Al-Ikhlas, Kampung Gunung Putri, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur. Saya adalah perwakilan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dalam mendampingi sekolah untuk menjalankan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) yaitu sebagai Guru Konsultan di sekolah ini.

Disini saya bertugas selama satu tahun dengan mandampingi kepala sekolah untuk menjalankan program sesuai yang diharapkan. Kegiatan pengelolaan sekolah membuat saya tidak bisa selalu bersama anak-anak. Namun, disini saya kembali jatuh cinta. Melihat semangat anak-anak dalam belajar, guru yang terus berusaha untuk menjadi guru yang  mampu memberikan pembelajaran kepada anak-anak dengan lebih baik.

Salah satunya, budaya salam yang kita sama-sama laksanakan. Setiap pagi disaat saya datang ke sekolah, anak-anak selalu berlari untuk berebut mengucapkan salam. Ada perasaan yang tidak karuan mengampiri hati saya. Rasa bahagia, sedih, bangga, dan yang lainnya bercampur menjdi satu.

Sesekali saya bermain, olahraga, dan bercanda bersama anak-anak, sehingga membuat saya semakin dekat dengan mereka. Mengenali mereka yang jujur setiap apapun itu, selalu ceria, dan  tidak menyimpan dendam, membuat saya semakin jatuh cinta dengan mereka.

Namun, terkadang saya masih mendengar sedikit keluhan tentang hak guru yang tidak sesuai dengan kewajibannya, walaupun ada keluhan, mereka selalu berusaha menjadi guru yang baik. Selain itu, dengan hak yang mereka dapatkan, mereka terlihat hidup bahagia, dan berkecukupan, walaupun kalau dipikir-pikir itu tidak akan cukup.

Apa yang sebenarnya membuat mereka cukup dan bahagia? Padahal hak yang mereka dapatkan tidak sebesar dengan tanggung jawab dan kewajiban mereka. Pertanyaan itu menggelayuti pikiran saya setiap waktu. Apa sebenranya? Ikhlas dan tanggungjawab! Ikhlas dan tanggungjawab kuncinya. Ya, jawaban atas pertanyaan itu akhirnya saya didapatkan. Ikhlas mengabdikan diri, jiwa, dan raga untuk mendidik anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa dengan dilandasi agama. Mereka kelak jadi pemimpin bangsa dimana anak cucu kita tinggal. Dengan ikhlas ini, keberkahan selalu menghampiri guru-guru melalui ucapan salam yang setiap hari diucapkan beratus-ratus anak, juga disebutkan dalam setiap doa-doa anak yang berterimakasih kepada gurunya. Menjalankan tanggungjawab sebagai manusia yang berguna, yakni menjadi pendidik bagi aset bangsa adalah hal yang membanggakan.

Dari sini, saya mulai menyadari apa tugas saya. Walaupun bukan guru, saya mempunyai tugas yang besar yaitu sebagai pendidik. Semua itu tentang  saya harus bertanggungjawab atas pendidikan anak-anak bangsa ini. Materi bukan jaminan untuk bahagia, keberkahan hiduplah yang akan membuat saya bahagia.

Semua perjalanan yang saya alami membuat saya semakin jatuh cinta menjadi pendidik dan membuat saya semakin tahu harus berbuat apa untuk menjalankan hidup. Jadi manusia bermanfaat adalah tujuan hidup saya. Tidak harus banting tulang berlebihan untuk bahagia dan berbagi, cukup jadi orang yang bermanfaat serta peduli terhadap bangsa dan agama.  Melaksanakan tugas pendidik bukan sebagai profesi (mengharapkan bayaran) namun kebutuhan batin dan tugas sesama manusia. Untuk mendidik tidak harus menjadi guru, tetapi menjadi guru harus menjadi pendidik.

Komentar

komentar