Peringatan HUT RI ke-71 di Sekolah Tapal Batas

tapalbatas

Kemerdekaan hanya milik mereka orang-orang Indonesia yang berada di wilayah NKRI. Mungkin ungkapan ini yang cocok untuk menggambarkan kisah para TKI yang ada di wilayah Bergosong dan Bernyoko Malaysia. Mereka yang bekerja sebagai buruh kelapa sawit di negeri Jiran. Pasalnya tidak ada jatah libur bagi mereka selain hari Minggu. Mereka akan terus dituntut untuk bekerja selama 6 hari kerja dalam seminggu. Tidak peduli perayaan apapun yang sedang diperingati oleh negaranya. Selain hari Minggu, mereka tidak boleh libur ataupun mengambil jatah cuti. Sebab ketika mereka melanggar atau ketahuan oleh perusahaan, bisa berdampak yang tidak bagus terhadap keberlanjutan pekerjaan mereka nantinya.

Tujuh puluh satu tahun sudah usia bangsa Indonesia. Sebuah usia yang seharusnya sudah mapan jika ditinjau dari ukuran angka. Hari ini, seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan segala kemeriahan dan pernak perniknya, semua ditampilkan dalam perayaan dan peringatan hari bersejarah ini. Sebagai sebuah bentuk penghargaan atas jasa para founding father kita yang telah memperjuangkan dan merebut kemerdekaan dari penjajah yang menindas. Pengorbanan yang telah mereka lakukan patut untuk dihargai. Menghargai dan memperingatinya sebagai wujud kepedulian kita terhadap bangsa tercinta ini. Melalui perayaan ini, kita hendaknya bisa mengingat kembali perjuangan para pendahulu dan membangkitkan semangat nasionalisme untuk melanjutkan dan mengisi kemerdekaan. Setiap kita mempunyai hak yang sama untuk mengisi dan memperjuangkannya. Sebab sadar atau tidak, perjuangan itu merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap individu.

Hari ini Sekolah Tapal Batas turut merayakan dan memperingati hari bersejarah lahirnya bangsa Indonesia. Bukan hanya sekedar upacara pengibaran bendera merah putih saja, namun juga beberapa agenda pendukung lainnya. Ada lomba-lomba, nonton bareng film Naga Bonar jadi 2 yang turut memeriahkan peringatan HUT RI ke-71 di Sekolah Tapal Batas. Lomba-lomba yang menumbuhkan pengetahuan terkait wawasan kebangsaan dan keagamaan serta permainan-permainan yang memupuk jiwa sosialisasi anak. Permainan yang melatih anak untuk kompak, saling kerjasama, saling adu strategi, saling menghargai dan berjiwa besar untuk menerima kemenangan yang tertunda. Sedangkan acara nonton bareng, ditujukan untuk memupuk semangat nasionalisme anak di daerah perbatasan yang aksesnya masih terbilang terbatas juga.

Upacara bendera yang dilaksanakan di Sekolah Tapal Batas tahun ini berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Ibu Hj Suraidah selaku pendiri Sekolah Tapal Batas. “Hari ini perayaannya lebih meriah. Tahun sebelumnya upacara benderanya hanya dilaksanakan oleh staf dewan guru dan siswa-siswi saja. Sedangkan tahun ini, masyarakat dan orang tua siswa dilibatkan dalam perayaan dan pelaksanaan upacara bendera di sekolah ini”, tuturnya. Selain itu diikuti pula oleh anggota TNI Pengaman Perbatasan (Pamtas) Bukit Keramat yang sekaligus bertindak sebagai Pembina upacara. Juga dihadiri oleh mahasiswa KKN Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), Komunitas Jendela Nusantara (KJN), dan Guru Konsultan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa yang tengah melakukan pendampingan sekolah di Sekolah tapal Batas.

Upacara hari ini berlangsung cukup hikmad, walaupun peralatan dan perlengkapannya cukup sederhana. Lapangan upacaranya tidak begitu luas. dan permukaan tanahnya tidak begitu rata. Kami mengkondisikan seadanya, disesuaikan dengan letak dan posisi lahan yang ada di samping sekolah. Ada rangka rumah yang berdiri di tengah-tengah lapangan upacara hari ini. Sempat diusahakan untuk di geser, namun terbilang susah karena tiang-tiangnya tertancap kokoh di tanah. Sehingga rangka tersebut dibiarkan tetap pada posisinya. Sampai akhirnya didapatkan ide agar tiang untuk pengibaran bendera nantinya dibuat dari sebatang bambu yang diikatkan pada salah satu tiang rangka rumah tersebut.

Walaupun cuaca pagi ini tidak begitu cerah, tidak menyurutkan semangat peserta upacara. Kebetulan semalam, hujan mengguyur desa Sungai Limau yang juga mengakibatkan lapangan upacara becek dan menyisakan tanah pada alas kaki. Sempat ada perasaan pesimis akan perayaan hari ulang tahun RI hari ini di sekolah tapal batas. Terutama tentang keikutsertaan orang tua dan masyarakkat. Sebab ini pertama kali mereka dilibatkan, belum lagi cuaca pagi yang kurang bersahabat. Namun itu ternyata hanya asumsi kami saja, sebab mereka tidak begitu memedulikan cuaca. Terlihat para orang tua siswa dan masyarakat berduyung-duyung dating dan sangat antusias mengikuti semua rangkaian pelaksanaan upacara peringatan HUT RI ke-71 yang dilaksanakan di sekolah tapal batas. Terlihat juga semangat tiga orang siswa kelas tiga yang bertindak sebagai penggerek bendera. Walaupun mereka baru pertama kalinya tampil, tidak membuat mereka gugup. Gumpalan tanah yang melengket di dasar sepatu mereka pun tidak terlalu dihiraukan. Padahal semua sepatu dari mereka telah berubah menjadi sepatu hak.

Upacara peringatan HUT RI tahun ini begitu berarti bagi saya, karena bisa merasakan dan melewatinya di daerah perbatasan RI-Malaysia. Termasuk ketika bisa melihat semangat masyarakat, orang tua, dan para siswa yang begitu menjiwai pelaksanaan upacara hari ini. Padahal perlengkapan dan kondisi lapangannya sangat sederhana. Hanya saja ada yang terasa kurang bagi saya dalam pelaksanaan upacara bendera hari ini. Saya tidak bisa melihat ekspresi semangat yang serupa dari para orang tua siswa yang tinggal di Bergosong dan Bernyoko Malaysia. Mereka tidak bisa mengikuti upacara bendera karena bertepatan dengan hari kerja mereka. Padahal sebelumnya kami telah menyampaikan ajakan untuk ikut serta dan hadir dalam perayaan melalui anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah ini. Cukup miris juga bagi saya ketika mengetahui ada warga Negara Indonesia yang tidak bisa merayakan hari kemerdekaannya hanya karena tengah bekerja mengumpul ringgit di negara tetangga. Atau mungkin karena belum adanya aturan jelas yang menyentuh permasalahan ini. Padahal peringatan HUT RI ini bagian dari upaya membangkitkan semangat nasionalisme dalam bekerja dan berkarya untuk mengisi kemerdekaan.

 

Dirgahayu RI ke-71!

Achmad Salido (Guru Konsultan YPnDD)

Komentar

komentar