Peran Perempuan dalam Memerangi Korupsi

Perempuan memiliki arti penting dalam sebuah keluarga. Ia memiliki lebih dari satu peran dalam satu waktu. Ia menjabat sebagai seorang anak, pelajar atau mahasiswa, mungkin juga sebagai wanita karir, seorang kakak bagi adik-adiknya, seorang istri bagi suaminya, bahkan menjadi seorang ibu yang memiliki kewajiban utama mendidik anak-anak. Menurut Zaim Elmubarok dalam bukunya Membumikan Pendidikan Nilai (2009) berkeyakinan bahwa sentral pendidikan nilai adalah keluarga. Sesungguhnya dapat dikatakan bahwa keluarga adalah tahap pertama lembaga-lembaga penting sosial; dan dalam tingkat yang sangat tinggi, ia berkaitan erat dengan kelahiran peradaban, transformasi warisan dan pertumbuhan serta perkembangan umat manusia. Baik dan buruknya kualitas generasi penerus bangsa, ditentukan oleh kualitas wanita yang melahirkannya.

Ironisnya, seiring dengan munculnya tren persamaan gender membuka peluang dan menuntut perempuan memiliki kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki. Perempuan kini terlibat aktif berpartisipasi dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan juga pendidikan. Tanpa disadari, partisipasi perempuan dalam hal tersebut membuka peluang-peluang korupsi.

Perempuan kerap kali menjadi korban menjadi korban sekaligus pelaku dalam aktivitas korupsi. Beberapa kasus yang terjadi di tengah masyarakat Indonesia adalah perempuan menerima uang yang tidak jelas sumbernya yang diberikan oleh suaminya, menerima uang ‘pemulus’ untuk bisnis atau pekerjaan yang digelutinya, meng-halal-kan berbagai cara untuk dapat tampil sempurna di hadapan rekan-rekannya dengan mementingkan material (perhiasan, pakaian, hingga gadget), bahkan hal-hal kecil seperti membayar petugas kecamatan untuk mempercepat proses pembuatan KTP.

“Korupsi merupakan kejahatan yang sangat unik. Korupsi itu kejahatan yang terencana, tidak kasat mata, namun sangat dekat dengan aktivitas keseharian kita,” demikianlah yang disampaikan Johan Budi dalam Seminar yang diselenggarakan komunitas Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) pada 11 Desember 2015 lalu. “Untuk memberantasnya tidaklah mudah. Dibutuhkan komitmen kuat yang didukung oleh lingkungan yang kondusif,” tambahnya.

Sebagai seorang perempuan, sudah sepatutnya berpartisipasi dalam mencegah perilaku korupsi. Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain mengajarkan dan mengenalkan anak-anak tentang perilaku korupsi dan bahayanya, membiasakan diri dan keluarga berbuat jujur, menjalankan peraturan sebagaimana meskinya, serta menanamkan rasa senantiasa dalam pengawasan Allah SWT setiap waktu.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.