Penguatan Sekolah Didasarkan Pada Budaya dan Sistem Instruksional

Oleh: Abdul Khalim, GM Makmal Pendidikan.

 

Ada hal yang menarik ketika Agustus 2016 kemarin mencoba melakukan monitoring dan evaluasi di salah satu Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Untuk menuju ke sekolah tersebut butuh tenaga yang cukup ekstra karena akses jalannya yang belum begitu baik dan juga menanjak. Wilayah ini sebenarnya memiliki modal sosial yang cukup tinggi karena budaya gotong royong masyarakat masih terlihat kentara.

Berbicara mengenai sekolah ini memang terkesan masih jauh dari kata ideal, mengapa? Karena sekolah ini masih membutuhkan sentuhan perbaikan mulai dari proses pembelajaran, budaya sekolah sampai dengan manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah. Arah sebuah sekolah itu sendiri perlu dirumuskan oleh kepala sekolah yang merupakan fasilitator antara sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dan masyarakat sebagai lembaga pendidikan informal. Dialog yang produktif antara sekolah dengan masyarakat perlu dibangun agar setiap program untuk meningkatkan kualitas para peserta didik mampu dicapai.

Namun permasalahannya adalah dialog ini kadang buntu untuk wujudkan keselarasan pendidikan di sekolah dan masyarakat terutama orang tua peserta didik. Proses membangun komunikasi antara sekolah dan masyarakat ini memang butuh sebuah integritas (keselarasan kata dan perilaku) dari pemimpin sekolah dan juga para gurunya. Dengan demikian untuk membangun sekolah yang memiliki budaya dan program kekhasan kurikulum perlu adanya dialog agar ada kesamaan tujuan dalam melakukan pembelajaran di sekolah dan juga dimasyarakat.

Kepala sekolah yang memiliki kekuatan dialog dengan masyarakat biasanya akan mampu membawa sekolah menuju pada tujuan pembentukan perilaku positif siswa dan juga keunggulan prestasi akademik dan non akademik. Daya kreativitas dari seorang pemimpin sekolah ini nantinya mampu mengembangkan sekolah menjadi sekolah yang dicintai oleh siswa dan juga warga sekitarnya.

Dalam merumuskan rencana strategis sekolah pelibatan masyarakat adalah sebuah keniscayaan untuk membangun kepedulian terhadap setiap program sekolah.  Perumusan rencana strategis ini di dalamya terdapat visi, misi, dan tujuan sekolah yang kemudian diturunkan menjadi program sekolah.

Di awal program pendampingan sekolah yang dilakukan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, yang dikedepankan adalah menstimulasi peran kepala sekolah dalam merumuskan rencana strategis sekolah guna terciptanya budaya sekolah dan sistem instruksional yang diharapkan. Budaya sekolah yang dilihat adalah terkait dengan pembiasaan karakter siswa, guru dan juga kepala sekolah serta petugas sekolah lainnya. Sedangkan sistem instruksionalnya lebih ditekankan pada sistem kepemimpinan instruksional guru ke siswa yang mampu melakukan kreatifitas dalam transfer ilmu pengetahuan melalu metode dan media pembelajaran yang tersedia baik yang disediakan oleh pemerintah maupun yang tersedia di lingkungan sekolah. Sedangkan Kepemimpinan pendidikan lebih menekankan pada sisi konsultansi manajemen sekolah khususnya pada aspek kepemimpinan sekolah.

Perlahan tapi pasti bahwa suatu saat sekolah yang dipelosok Kabupaten Tasikmalaya ini akan menjadi model dan mampu memberikan pengaruh positif  minimal level kecamatan.

Komentar

komentar