Pengalaman Mengajar di Pedalaman Papua

papua

 

Embun Fajar

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres Timika II, Mimika (Papua)

 

Ketika diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS), saya ditempatkan di daerah pedalaman Papua, tepatnya di Kampung Timuka, Desa Atuka (masuk Kabupaten Mimika).

Awalnya saya merasa takut sebab ini adalah pertama kalinya saya ke pedalaman Papua. Saya berangkat dengan sebuah perahu kecil. Sepanjang perjalanan saya merasa ketakutan sebab pengalaman pertama kalinya pula saya naik perahu.

Setelah sampai di lokasi tujuan, rasa takut saya hilang sebab saya disambut ramah oleh masyarakat setempat. Mungkin sebelumnya kepala sekolah su-dah menginformasikan kepada warga bahwa ada guru baru yang akan datang. Sepanjang jalan, mulai turun dari perahu sampai di kompleks sekolah, masyarakat berjejer menyambut saya sambil berjabat tangan mengucapkan selamat datang. Rasanya saya seperti pejabat.

Keesokan harinya, saya langsung masuk kerja. Pertama kali saya ditempatkan di kelas 4. Saya bingung menghadapi salah satu siswa saya yang bernama Tina. Sudah duduk di kelas 4 tapi mengenal huruf saja belum bisa semuanya. Berbeda dengan siswa lain yang sudah bisa mengeja.

Sebulan terlewati, Tina belum kunjung berubah. Setiap hari ia hanya datang duduk diam memerhatikan seakan mengerti. Tetapi, ketika diberikan tugas, saya tidak bisa mengerti apa yang ia tulis. Jika saya bertanya, saya pun bingung dengan jawabannya.

Saya menceritakan soal Tina ini kepada Kepala Sekolah dan rekan guru yang lain. Tapi, mereka hanya menjawab enteng. “Adoo tidak usah! Sudah, Ibu. Anak itu memang dia tra tau apa-apa. Dia itu bodok besar.” Saya merasa kaget mendengar jawaban tersebut.

Tapi, saya tetap saja memikirkan Tina. Akhirnya saya mendekati Tina secara personal. Saya memanggil Tina bersama keempat temannya untuk tidur di rumah tempat saya tinggal. Saya mulai membimbing Tina dan keempat temannya yang juga belum lancar membaca. Setiap malam mereka selalu tidur di rumah dinas saya. Akhirnya mulai terlihat perubahan meski prosesnya lambat. Sedikit demi sedikit Tina sudah bisa mengeja.

Memamg terasa sulit mengajar di pedalaman Papua, apalagi bila mendapati siswa ‘luar biasa’ seperti Tina ini. Hari ini ingat, besoknya kadang lupa lagi. Sebelum tidur malam biasanya kami menyempatkan untuk mengobrol, baik ten-tang pengalaman-pengalaman mereka atau hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran. Hal ini membuat saya semakin dekat dengan mereka.

Sore hari ketika saya berjalan-jalan ke pantai, mereka sering menemani jika mereka ada waktu luang. Tidak setiap saat mereka bisa menemani sebab hampir setiap hari mereka pergi ke hutan mencari kayu bakar. Tergugah juga saya melihat anak-anak di sana. Pagi hari ke sekolah, siang sampai sore hari mencari kayu bakar di hutan.

Mereka juga sering membantu saya mengangkat air ke rumah karena segala aktivitas seperti memasak, mencuci, dan yang lainnya hanya menggunakan air hujan. Pagi hari sebelum berangkat ke sekolah, saya harus mengangkat air dulu dari penampungan. Begitu pula setelah pulang sekolah. Jika tidak hujan, maka saya tidak bisa mandi, masak, dan yang lainnya.

Suatu hari saya bertanya kepada Tina. “Tina, kamu su mandi tidak?”

“Nanti sa mandi kalau matahari dia ada datang. Dingin, Bu Guru.” Jawab Tina.

Kebiasaan anak-anak di sana memang kadang tidak mandi saat ke sekolah. Namun, anak-anak itu paling senang jika dimintai bantuan.

Suatu malam saya bercerita kepada Tina. Saya menyampaikan betapa pentingnya belajar membaca. Saya mengatakan bahwa jika nanti ia memiliki hand-phone, ia tidak akan bisa menulis atau membaca SMS andai tidak mampu mem-baca. Lalu saya memperlihatkan buku cerita, saya mengatakan bahwa buku cerita itu isinya tentang seorang pangeran dan putri raja. Kemudian saya memperlihatkan komik sambil berkata komik itu isinya lucu-lucu. Tina hanya terdiam memandangi buku cerita dan komik sambil melihat-lihat gambarnya. Saya mengatakan bahwa Tina tidak akan tahu jalan ceritanya jika ia tidak bisa membaca. Tina kemudian berusaha membaca komik yang saya berikan.

Paginya setelah shalat, seperti biasa saya bangun masak nasi dan lauk ala kadarnya. Kami kemudian makan bersama-sama. Setelah makan, mereka baru pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang saya membagikan mi instan kepada mereka.

Singkat cerita, tibalah waktu liburan. Saya berpisah dengan mereka karena saya ingin menghabiskan waktu liburan di kota. Saya hanya berpesan kepada para siswa saya agar belajar jika tidak ada kegiatan, terutama kepada Tina.

Setelah masuk sekolah, saya kembali bertanya tentang perkembangan Tina. Dan saya kaget luar biasa —hampir-hampir tidak percaya— ternyata Tina sudah menjadi anak yang paling pandai membaca di kelasnya. Perubahan yang sungguh luar biasa. Karena senangnya, keesokan harinya saya memberikan hadiah kepada Tina.

Malamnya Tina kembali menginap di rumah tempat saya tinggal.

“Tina, sekarang kamu sudah lancar membaca e.” Pancing saya.

Tina tersenyum malu sambil menjawab, “Iya, Bu Guru.”

“Bagaimana sampai kamu cepat pandai membaca?”

“Setiap hari sa belajar membaca. Sa mau pintar, Bu Guru.”

“Siapa yang ajarkan?” Tanya saya lagi.

Sa pu kakak, Bu Guru.”

“Wah, hebat ya! Nanti malam belajar lagi e biar jadi ranking 1.”

“Iya, Bu Guru.” Jawab Tina sambil tersenyum.

Peran keluarga memang sangat penting dalam perkembangan anak. Ketika dibekali pengetahuan tentang maksud dan tujuan belajar di sekolah, anak akan lebih mudah sadar untuk belajar. Lalu dengan sendirinya anak akan mencari tahu sendiri di luar jam sekolah karena ia memiliki tujuan yang sudah ditanamkan dalam dirinya. Dalam kaitan ini, perhatian dari guru sangat diperlukan untuk memotivasi mereka.

Motivasi untuk anak-anak Timuka amat penting mengingat banyak keter-batasan sarana yang ada di tempatnya. Bila di daerah lain di Indonesia anak-anak terbiasa belajar saat malam tiba, tidak demikian dengan saudara-saudara mereka di Timuka. Pada malam hari, anak-anak di sana biasanya tidak belajar. Bukan karena tidak mau, melainkan karena tidak ada penerangan sama sekali! Sebenarnya pernah ada bantuan pemerintah berupa pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang di setiap rumah. Sayangnya, bantuan itu dijual warga kepada pendatang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, setelah matahari terbenam, warga biasanya hanya menyalakan api di depan rumahnya sambil bermain. Di sini biasanya saya memanfaatkan lampu seadanya, mengundang anak-anak didik tercinta untuk belajar meski yang bisa ditampung beberapa anak saja.

Selain kendala lampu, orangtua juga sering membawa anak-anaknya keluar kampung sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran. Kehidupan penduduk di sana masih senang hidup berpindah-pindah. Terkadang mereka membuat tenda di pinggiran sungai lalu mereka tinggal di sana dalam waktu beberapa hari. Jika mereka tinggal di tempat lain, maka anak-anaknya pun tidak masuk sekolah. Di sini, peran guru amat penting dalam memahamkan para orangtua itu tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka.

Komentar

komentar