Pengalaman Berharga Sang Pustakawan

Tak pernah terlintas sedikit pun di benak saya untuk menjadi pustakawan.

Sebenernya cita-cita saya adalah menjadi pengamat sepak bola. Cita-cita ini kandas karena tidak ada sekolah untuk menjadi pengamat sepak bola. Pada akhirnya sewaktu duduk di bangku SMK, saya mencoba jurusan Otomotif.

Setelah lulus SMK, saya ingin bekerja di perusahaan. Sayangnya, pada saat saya lulus, perusahaan di tempat tinggal saya banyak yang tutup. Sebagian perusahaan yang tersisa pun mengurangi jumlah kar-yawannya. Akhirnya saya memutuskan untuk kuliah ekstensi sambil mencari-cari kerja untuk biaya kuliah.

Hampir empat bulan lamanya saya menganggur sampai mendengar adanya lowongan menjadi pustakawan di SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan). Awalnya saya minder lantaran perpustakaan bukanlah dunia saya. Tapi, saya kemudian berubah pikiran. Apa salahnya bila saya mencoba sesuatu yang baru. Alhasil, saya diterima di sana.

Ketika pertama kali masuk kerja, saya masih canggung. Jelas saja, pekerjaan ini dunia baru bagi saya. Untungnya saya terbantu dengan keramahan para guru, siswa, dan Pendamping Sekolah. Proses adaptasi saya pun berjalan lancar.

Ternyata menjadi pustakawan itu menyenangkan. Kendati demikian, ada kondisi yang membuat saya terkadang jengkel. Pertama, saat anak-anak membaca buku namun tidak mengembalikannya ke tempat semula. Buku-buku pun berhamburan begitu saja. Kedua, beberapa siswa ada kalanya ribut di perpustakaan. Walau sudah ditegur, tetap saja mereka ribut.

Namun, saya akhirnya sadar, semua pekerjaan itu punya risiko tersendiri, baik besar maupun kecil, tinggal bagaimana kita ikhlas menjalaninya atau tidak. Apalagi bila yang dihadapi anak-anak yang masih butuh perhatian dan bimbingan orang dewasa.

Kebanggaan lain menjadi pustakawan SDN 6 Sungai Danau adalah adanya pendampingan sekolah oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Walau bukan guru, saya pun dilibatkan untuk mengikuti pelatihan-pela-tihan yang diadakan. Mungkin ini masih terkait erat dengan tema besar program, yakni Sekolah Cerdas Literasi.

Pelatihan yang diberikan sangatlah berguna bagi para guru di sini. Selama ini ilmu yang didapatkan para guru masih terbatas. Contohnya tentang manajemen kelas yang baik. Yang membekas buat saya adalah kemampuan para trainer yang sangat pintar dan bersahabat. Materi yang disampaikan dengan mudah dimengerti oleh saya.

Semoga kegiatan pelatihan semacam ini terus berlanjut agar pendidikan di daerah-daerah seperti Tanah Bumbu tidak tertinggal jauh dengan pendidikan di kota-kota besar di Indonesia. Dan semoga pula pemerintah ikut terinspirasi untuk melakukan pelatihan-pelatihan kepada guru-guru agar pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

 

Noor Irfansyah

Pustakawan SDN Sekolah Cerdas Literasi 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan)

Komentar

komentar