Pendidikan Bukan Pilihan Utama Bagi Orangtua

pendidikan-bukan-pilihan-utama-bagi-orangtua

Nelson Mandela pernah berkata, pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk digunakan merubah dunia. Namun tidak semua pendidikan jadi utama, seperti halnya bagi Buruh Migran Indonesia (BMI) yang tinggal di Sebatik, Malaysia memilih mendidik anaknya jadi buruh kelapa sawit.

SABRI, Sebatik

Melihat kondisi anak sekolah di perbatasan yang tak pernah surut dari perbincangan masyarakat, dan dengan berbagai fenomena yang dialami langsung BMI yang bekerja kelapa sawit di Sebatik Malaysia. Dengan adanya sekolah tapal batas, para BMI sudah ada yang menyekolahkan anaknya dan masih ada yang tetap mendidik anaknya menjadi petani kelapa sawit.

Pada 2015 lalu, Radar Nunukan (Radar Tarakan Group) sempat mengikuti proses perjalanan anak BMI yang bersekolah di Sekolah Tapal Batas Desa Sei Limau, Kecamatan Sebatik Tengah. Dengan kehidupan sehari-harinya melintasi perbatasan untuk mendapatkan pendidikan.

Melihat kondisi jalan yang dilalui penuh dengan bebatuan. Tak hanya itu, bukit tinggi serta luasnya pekerbunan kakao dan kelapa sawit milik warga menjadi tantangan yang harus dilalui. Karena, jalan tersebut merupakan rute satu-satunya yang aman.

Sejak berdirinya sekolah tapal batas pada 2014 lalu, sekolah tersebut diharap mampu menampung para anak BMI yang tak bisa mengenyam pendidikan. Kepala Sekolah Tapal Batas, Hj. Suraidah melakukan segala cara demi mempengaruhi para orangtua agar rela menyekolahkan anaknya. Namun, masih banyak juga yang belum mau menyerahkan anaknya untuk diberikan pendidikan.

Seperti yang terjadi di Kampung Bernyoko, Sebatik Malaysia. Di kampung ini masih banyak anak-anak Indonesia yang belum merasakan bangku sekolah. Karena pemahaman BMI terhadap pendidikan masih tergolong rendah. Daerah yang bisa dikatakan terisolasi dari aktivitas yang namanya pendidikan.

“Saya sudah sampai di Kampung Bernyoko, memang masih banyak anak-anak yang belum bersekolah. Kasihan jika hanya diajarkan berkebun kelapa sawit,” kata guru Sekolah Tapal Batas, Achmad Salido kepada Radar Nunukan, Sabtu (30/7).

Warga Negara Indonesia (WNI) di tempat tersebut dianggap tidak sadar kalau sebenarnya mereka sedang dieksploitasi. Ruang gerak untuk mengenalkan anak-anak mereka terhadap pentingnya pendidikan dibatasi.

Beberapa warga di Kampung Bernyoko mengaku, sejak bermukim di tempat tersebut, dari generasi ke generasi tidak mengenal yang namanya pendidikan. Para orangtua secara tidak sadar tengah melakukan pengkaderan terhadap anak-anaknya untuk menjadi buruh kelapa sawit sejak kecil.

Kebiasaan itu yang dilakukan secara turun temurun. Jika ada yang memiliki anak kecil, biasanya akan menyewa seseorang yang bisa menjaga dan mengurusi anaknya. Karena ia harus berangkat kerja ke kebun kelapa sawit dari pukul 5.00 pagi sampai jam 17.00 sore.

“Kasihan kehidupan BMI di Sebatik Malaysia ini, benar-benar dijauhkan dari dunia pendidikan,” curhat Achmad kepada media ini.

Dia kembali bercerita, ketika nanti anak para BMI sudah besar, akan diajari untuk memungut biji kelapa sawit. Bahkan ketika usia 14 tahun sudah diajar untuk ikut menombak kelapa sawit. Kebiasan ini secara terus menerus dilakukan. Sehingga dari anak-anak mereka ini tidak terlintas satu pun pikiran untuk bersekolah. Karena memang mereka tidak mengenal apa yang namanya sekolah.

Kepala Sekolah Tapal Batas, Hj Suraidah bersama guru lainya sudah beberapa kali melakukan sosialisasi terhadap para WNI yang tinggal di Kampung Bernyoko. “Alhamdulillah saat ini sudah ada lima anak yang ingin bersekolah dari puluhan anak yang ada di kampung tersebut,”aku Suraidah.

Hingga saat ini masih banyak orang tua yang masih belum terbuka pikirannnya untuk menyekelohkan anaknya. Kengganan itu dipicu akses jalan yang masih terbatas serta jarak antara sekolah tapal batas dengan Kampung Bernyoko sekitar 10 kilometer (Km).

Selain itu, jalannya masih setapak yang hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua. Belum lagi medan jalannya yang mendaki dan menurun serta tekstur tanahnya yang lembek. Juga harus melewati sungai. Ketikat musim hujan tiba, anak-anak ini sangat sulit melalui jalan tersebut. Karena jalanan yang licin dan arus sungai yang dilewati sangat deras.

Memujuk para orangtua untuk menyekolahkan anaknya tak henti-hentinya dilakukan Achmad bersama kepala sekolahnya, membuka pikiran para orangtua bahwa pendidikan itu sangat penting untuk masa depan. Melalui pendidikan maka semua akan bisa berubah. (***)

Komentar

komentar