Pelatihan Guru Kreatif dan Workshop Kurikulum 2013

Sebuah pepatah bijak mengatakan ‘Kalau ingin melihat kualitas suatu bangsa, lihatlah kualitas gurunya’, artinya bahwa keberadaan guru di sini sangat menentukan kualitas suatu bangsa, dan kualitas suatu bangsa bisa dilihat dari mutu para pendidiknya. Peningkatan mutu bermuara pada satu masalah utama, yaitu pendidikan. Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran guru, guru merupakan ujung tombak proses pendidikan. Untuk mewujudkan kualitas suatu bangsa, guru-guru perlu dibekali dengan pelatihan-pelatihan untuk meningkatkan kompetensinya.

Untuk menjawab tantangan ini, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa mengadakan Pelatihan Guru Kreatif dan Workshop Kurikulum 2013 di MI Al-Fatah, Cileungsi, Bogor pada 14–15 Januari 2015.

Pelatihan Guru Kreatif ini dimotori oleh Fauzan, trainer Dompet Dhuafa, dengan workshop Kurikulum 2013 yang disampaikan oleh Taufik Abdulah. Ruang pelatihan saat itu dipenuhi para guru MI Al-fatah, semangat mereka tercermin dari tingkat kehadiran dalam mengikuti pelatihan.

Pelatihan kali ini dibuka dengan diskusi seputar “Apa Kabar Pendidikan Indonesia?” Para peserta ditanya seputar kabar pendidikan di Indonesia dan jawaban yang mereka lontarkan sangat bervariasi. Ada yang menjawab, “Indonesia sedang galau”, “Indonesia berduka”, Indonesia punya harapan”. Jawaban-jawaban ini tentu disertai alasan yang menguatkan. Dari diskusi ini, trainer kemudian menampilkan beberapa fakta tentang kondisi pendidikan Indonesia, mulai dari usia anak sekolah yang menggunakan narkoba; merokok, pernah melakukan seks bebas dan melakukan aborsi. Trainer juga memaparkan seputar penderita penyakit AIDS yang kebanyakan berasal dari kalangan remaja, selain itu trainer juga memperlihatkan sisi lain Indonesia dari segi kompetensi. Para peserta terlihat terkejut ketika trainer menjelaskan bahwa bangsa Indonesia saat ini menduduki peringkat 121 dari 185 negara yang ada di dunia. Artinya Indonesia saat ini sedang berada dalam kondisi yang memprihatinkan dan tugas para gurulah untuk merubah kondisi ini menjadi lebih baik.

“Lalu bagaimana dengan proses pembelajaran yang ada di kelas bapak dan Ibu sekalian?”, tanya trainer melanjutkan diskusi. Beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran diutarakan saat diskusi selama pelatihan. Permasalahan besar yang kerap dialami oleh rekan guru MI Al-Fatah Cileungsi, Bogor ini diantaranya anak suka berbicara keras, menjahili temannya, dan juga suka tidur-tiduran di dalam kelas. Sikap anak didik ini tidak serta merta menjadikan guru menyerah untuk memperbaiki kondisi yang ada. Para guru juga belajar untuk tidak mengeluh, dan juga menjaga bicara karena salah bicara bisa jadi menyebabkan siswa tidak akan masuk sekolah lagi.

Pelatihan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini dimulai dengan yel yel penyemangat. Seperti “Guru Hebat” dijawab “saya”, “Siapa Guru Hebat?”, dan dijawab “Saya”. Trainer sangat menyadari bahwa guru-guru yang mewakafkan dirinya untuk menjadi pengajar merupakan guru-guru hebat. Perlu kebesaran hati menjadi pengajar yang berada di lingkungan yang tidak mudah.

Guru hebat itu mampu memberikan inspirasi kepada anak didiknya.

{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.