PAUD yang Dirindukan (2-Habis)

Oleh: Rina Fatimah, Direktur Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa.

PRINSIP pembelajaran di TK/PAUD berpegang pada prinsip kesiapan. Berdasarkan tugas perkembangannya, anak-anak usia 4 tahun boleh diperkenalkan huruf dan konsep berhitung melalui permainan yang menyenangkan. Usia 5 tahun – 6 tahun sebagai usia persiapan masuk sekolah dasar, anak-anak ditingkatkan kesiapannya melalui konsep-konsep berhitung yang lebih luas lagi seperti membilang, konsep perbandingan, merangkai huruf menjadi kata. Proses pembelajarannya tetap melalui permainan-permainan yang menyenangkan.

Sebelum anak-anak diperkenalkan dengan permulaan kegiatan menulis, anak-anak perlu meluweskan otot-ototnya dengan mengoptimalkan kemampuan motorik halus dan kasar melalui aktivitas kolase, meronce, menjahit, bermain lilin malam. Perkembangan motorik kasar bisa dilakukan dengan kegiatan melompat, berlari, menangkap bola. Begitupun dengan kemampuan berhitung, anak-anak terlebih dahulu diperkenalkan dengan konsep besar-kecil, banyak-sedikit, panjang-pendek, dan seterusnya.

Selain perkembangan motorik halus dan kasar yang perlu dioptimalkan, aspek perkembangan emosi dan sosial juga perlu diberikan porsi sesuai dengan perkembangan anak. Terkadang ditemukan anak yang masuk sekolah dasar memiliki kemampuan calistung yang bagus, namun belum mandiri, belum bisa diajak kerjasama, belum bertanggungjawab, egosentrik, dan mudah menyerah.

Wujud Kualitas PAUD

Target pemerintah untuk meningkatkan APK PAUD dinilai cukup berhasil jika dibandingkan dengan negara-negara di asia tenggara, akan tetapi sisi kualitas menjadi terabaikan. Pembelajaran calistung secara langsung seperti kasus diatas belum bisa diantisipasi. Fokus tulisan pada sub bab ini tentang menata kembali kualitas layanan pendidikan anak usia dini: TK/PAUD.

Pemenuhan kuantitas anak-anak Indonesia menikmati pendidikan sejak usia dini belum cukup. Bagaimana dengan kualitasnya? Semenjak digalakkan pendidikan anak usia dini oleh pemerintah, di tahun 2014 terdapat 188 ribu lebih PAUD yang sebagian besar dikelola swadaya oleh masyarakat. Banyak guru PAUD bukan berpendidikan guru TK. Guru sebagai komponen yang bertanggung jawab atas pencapaian kualitas pembelajaran, maka guru menjadi perhatian utama untuk ditingkatkan kompetensinya.

Menjadi guru PAUD/TK tidak sama dengan guru di SD. Guru TK/PAUD harus mengenal karakteristik anak usia dini. Bagi anak usia dini, dunia main adalah dunianya. Main menjadi sarana untuk anak belajar. Dengan bermain, anak-anak akan bertambah pengalaman dan pengetahuannya. Melalui bermain anak-anak akan memperoleh pembelajaran yang mengandung aspek sosial, emosi, kognitif, dan fisik.

Froebel, bapak kindergarten dunia, menjelaskan adanya hubungan kuat antara bermain dan belajar. Melalui bermain, anak-anak sebenarnya sedang belajar. Melalui bermain, anak-anak dapat berinteraksi dengan lingkungannya. Tantangannya adalah sejauh manakah kemampuan guru menciptakan pembelajaran melalui berbagai macam bentuk permainan.

Guru PAUD/TK perlu menguasai keterampilan berkomunikasi yang tepat untuk anak usia dini. Penguasaan keterampilan ini akan berdampak pada perkembangan bahasa karena bahasa sebagai dasar kemampuan anak untuk meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Tidak mudah mengajak anak untuk berkomunikasi. Guru seringkali menemukan kesulitan mengajak anak-anaknya untuk berbicara atau mengungkapkan sesuatu.

Oleh sebab itu, guru perlu menciptakan kondisi agar anak siap berkomunikasi yakni dengan memberi salam, menyapa, dan sentuhan sayang. Saat berbicara, guru perlu menempatkan posisi tubuhnya sejajar dengan anak. Kata-kata yang diucapkan mengandung kalimat positif, mengandung penghargaan kepada anak, dan menggunakan gerakan serta mimic ketika menyampaikan sesuatu.

Ketersediaan lingkungan fisik yang kondusif juga diperlukan. Lingkungan diperlukan untuk memberikan rangsangan untuk tumbuh kembang anak. TK/PAUD perlu menyediakan lahan wahana bermain siswa baik di dalam maupun di luar kelas. Bahan main untuk menstimulus sensorimotor anak seperti membedakan kasar dan halus, bak pasir, lilin malam dan lain-lain. Stimulus perkembangan bahasa anak melalui aktivitas bermain peran. Alat bermain yang diperlukan seperti boneka, telpon, seragam profesi, alat dapur khusus untuk anak. Stimulus perkembangan kognitif anak melalui media main pembangunan seperti balok.

Memimpikan Indonesia ke depan diisi oleh generasi-generasi unggul dan berkualitas. Anak-anak hari ini adalah pemilik masa depan bangsa. Di tangan merekalah diteruskan sejarah kehidupan bangsa Indonesia. Memberikan perhatian besar terhadap pendidikan anak usia dini menjadi penting. Masa-masa anak disebut sebagai golden age. Karena Masa-masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar-dasar pengembangan fisik, bahasa, social-emosional, karakter, dan konsep diri. Komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses layanan pendidikan usia dini terutama di tingkat TK/PAUD dinilai sudah tepat. Yang tersisa, menunggu komitmen pemerintah untuk membenahi kualitas layanan pendidikan anak usia dini. []

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.