Orang Tuaku Guru Pertamaku

IMG-20161125-WA0005

Oleh: Masduki

Kisah ini terispirasi oleh sosok yang paling berjasa dalam hidupku, membesarkan dan yang pertama kali melatakan prinsif-prinsip dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai seorang guru Sekolah Dasar. Mereka adalah kedua orang tuaku sekaligus guru pertama dalam hidupku. Tanpa bermaksud ingin menyobongkan diri , apalagi bersifat ria,tulisan  ini hanya sekelumit  ungkapan rasa terimakasih yang tak terhingga buat ke dua orang tuaku yang senantiasa  menanamkan berjuta kebaikan bagi kami anak-anak nya.  Ihklas, kerja keras, disiplin, jujur , dan pantang menyerah adalah  filosofi hidup  yang selalu mereka tanamkan.

Kumandang azan magrib menggema  di sekeliling rumahku, memanggil semua umat Islam untuk bersyuzud pada sang Maha Agung penguasa jagat raya. Seperti kebiasaan penduduk di lingkungan tempat tinggalku yang seratus persen memeluk agama Islam,  pada umumnya, ketika malam jumat tiba kebiasan yang secara turun temurun  dilaksanakan adalah membaca kitab Suci Al-Quran setelah menjalankan ibadah solat magrib. Begitu juga dengan ku setelah menjalankan solat magrib, ku ambil kitab suci Al-quran yang sudah berubah warna  karena dimakan waktu, maklum saja Al-Quran itu yang dulu sering di gunakan ayah dan Ibu untuk mengajari kami  mengaji semasa  kecil. Ketika baru saja Al-quran itu  ku raih dari atas meja, tiba-tiba, seperti ada sesuatu yang jatuh dari  helaian Al-Quran itu. Hal ini sontak membuatku sedikit kaget ,dengan reflek tanganku mengambil benda itu.

Suhanallah, ternyata benda itu adalah Photo keluargaku 37 tahun silam, lama ku pandangi satu-satunya photo kenangan itu dengan seksama, entah kenapa tiba – tiba ingatanku menerawang ke masa  lalu, semuanya terekam jelas dalam benaku. Ketika waktu itu, ayah dan Ibu dengan sabar dan telaten mengajari kami huruf demi huruf, ayat demi ayat dan surat demi surat yang ada pada Al-quran itu. Ketika ayah dan ibuku mengajari kami doa doa pendek, Ketika ayah dan ibuku mengajari kami  menghafal perkalian, padahal  waktu itu, hanya diterangi lampu cempor seadanya. Ayah dan Ibuku memang guru pertama ku, peletak pondasi dalam mengarungi bahtera kehidupan, Mereka adalah guru yang yang tak pernah mengeluh dan  selalu mengajari  kami dengan sejuta kebaikan. Dan satu hal  yang paling teringat betul dalam benaku  adalah petuah-petuah  bijak yang selalu mereka berikan pada kami setelah  selesai mengaji, kerjakan sesuartu dengan ikhlas, bersikaplah jujur dan teruslah berusaha. Sebuah filosofi hidup yang sederhana namun syarat dengan makna.

Ayahku adalah seorang guru madrasah dengan gaji yang  tidak seberapa, sementara  jarak tempuh antara rumah dengan sekolah tempat Ia mengabdi cukup  jauh kira – kira 7 km. semuanya  Ia lakukan dengan berjalan kaki, tak pernah ada kata mengeluh  ketika Ia melaksakan tugas mulia itu. Cerminan ketuguhan hati seorang guru dalam menjalankan tugas mulianya.

Bisa kita bayangkan, berapa besar gaji guru waktu itu, untuk menyekolahkan kami bertiga ke tingkat SLTA pun, beliau rela bersusah payah, mencari penghasilan lain dengan menanam padi di sawah dengan luas yang tak seberapa. namun dibalik kehidupa ekonomi keluarga kami yang pas pasan bahkan  kekurangan  terselip cita-cita besar ke dua orang tua ku. Mereka menginginkan kehidupan kami kelak lebih baik. Untuk membantu menyokong ekonomi kelurga, ibu memafaatkan keterampilan yang Ia miliki  dengan membuat emping meninjo, lagi-lagi semua Ia lakukan dengan Ikhlas.

Mungkin karena terobsesi dengan sikap dan prilku gigih bapak, sejak kecil saya bercita – cita menjadi guru SD. Meski pun saya sadar , tingkat kesejahtraan guru SD waktu itu jauh dari kata cukup. Tapi karena dorongan hati penulis berisi kukuh untuk melanjutkan pendidikan keguruan.

Seiring berjalannya waktu ijajah SPG pun berada dalam genggaman tangan, yang terbersit dalam fikiran penulis waktu itu adalah ingin segera mengamalkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku sekolah.  Setali tiga uang ,kebetulan paman adalah seorang kepala sekolah di suatu daerah terpencil di pulau Sumatra, beliau mengajaku  untuk membantu mengajar di sekolah yang Ia pimpin, tentu saja  dengan menjadi  guru sukarelawan . Laksana gayung bersambut , tanpa pikir panjang, tawaran yang diajukan paman segera saya terima , tentu saja dengan restu kedua orang tua. Satu tahun sudah penulis mendarma baktikan diri menjadi seorang guru sukarelawan di pulau Sumatra, hingga suatu siang  penulis menerima sepucuk surat  yang berisikan permintaan agar penulis kembali pulang ke rumah karena ada seleksi penerimaan CPNS bagi lulusan SPG. Seketika penulis tolak semua permintaan bapak dengan alasan penulis baru setahun lulus, artinya pelung untuk lulus seleksi sangat kecil, karena waktu itu yg lulus 3 bahkan 4 tahun pun belum diangkat jadi PNS. Lagi lagi dengan keras hati bapak memaksakan penulis untuk pulang dengan mengirimkan sejumlah uang untuk sekedar ongkos pulang. Meskipun dengan perasaan ragu akhirnya penulis menuruti kemaunya, karena walau bagaimanapun  orang tua pasti menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Lagi-lagi  betapa luar biasanya perjuangan ke dua orang tuaku, ternyata semua persayaratan untuk mengikuti tes sudah Ia lengkapi. Dengan iringan doa ke dua orang tua penulis mengikuti seleksi CPNS, dan alhamdulilah dengan tidak disangka dinyatakan lolos. Rasa bangga dan bahagia sudah tidak bisa dilukiskan dengan kata, karena obsesi yang tertancap kuat dalam sanubari untuk menjadi seorang guru sekolah dasar kini sudah di depan mata.

Pertama kali penulis mendapatkan tugas mengajar sebagai PNS di suatu kecamatan yang jaraknya cukup jauh dari rumah, namun semuanya bukanlah suatu kendala yang berarti , semua penulis lakukan dengan ihlas dan rasa tanggung jawab. Dua tahun sudah penulis mengabdikan diri di menjadi guru SD di tempat tugas itu, hingga suatu saaat lagi lagi perjuangan ayah yang luar biasa berhasil mengajukan mutasi ke sekolah yang cukup dekat dengan rumah. Di tempat tugas inilah penulis berupaya memajukan sekolah tersebut, bahkan suatu ketika penulis dipercaya oleh kepala sekolah untuk mengikuti seleksi guru berprestasi tingkat kecamatan dan berhasil lolos ke tingkat kabupaten meskipun hanya menepati peringkat ke 3. Kerja keras, ihlas, dan pantang menyerah yang selama ini diajarakan ke dua orang tua membuat penulis terus berupaya melakukan yang terbaik demi membahagiakan mereka. Suatu ketika penulis diminta untuk pindah ke sekolah yang lebih maju yang berada di pusat kota kecamatan. Disini tentu saja penulis merasakan perkembangan yang luar bisa, rasanya sangat bahagia ketika sekitar dua ratus pila terjejer rapi di lemari kacar, sebagai bukti nyata kerja nyata keras penulis bersama guru yang lain dalam melakukan pembinaan terhadap siswa.

Tepat di akhir tahun 2013, penulis kembali dajukan untuk mengikuti seleksi guru berprestasi . tentu saja orang yang pertama diminta restu  adalah ke dua orang tua, lagi – lagi dorongan dan doa orang tua menjadikan motivasi utama bagi penulis untuk melakukan yang terbaik. Dengan izin Alah  tentunya penulis berhasil menjadi wakil propinsi Banten untuk mengikuti seleksi guru berprestasi di tingkat nasional. Nyaris antara percaya dan tidak penulis bisa berkumpul  dengan guru guru hebat dari seluruh penjuru Indonesia. Suatu anugrah terbesar yang tidak pernah  terbayangkan sebelumnya. Apalagi ketika  kami peserta lomba  diundang untuk mengikuti upacara peringatan HUT RI di Istana negara,  yang selama ini hanya penulis saksikan lewat layar  kaca,  Begitu bendera merah putih berkibar berkibar,  air mata menetes dengan sendirinya, bayangan sosok kedua orang tua berkelebat di depan mata,  karena doa-doa orang tua, bisa mengantarkan penulis ke istana Negara. Ingin rasanya menumpahkan semua kegembiraan di depan mereka, Perjuangan dan jerih payah orang tua yang luar bisa serasa tak pernah sia – sia.

Waktupun berjalan seperti biasa, penulis melakukan aktifitas seperti biasa mengajar dan membimbing siswa. Hingga suatu ketika penulis mendapat email dari kementrian pusat bahwa penulis diikutsertakan dalam pertukaran guru ke Negara China dan Hongkong, sesuatu yang sama sekali tak terbayangkan, maklumlah gaji seorang guru SD belum tentu cukup untuk bayar pesawat dan liburan ke negeri orang. Lagi-lagi ungkapan sujud syukur terucap tiada henti, atas semua anugrah yang Allah berikan, dan semua karena jasa guru pertamaku merekelah yang selalu mengajari untuk selalu menjalankan tugas dan kewajiban dengan iklas, dan terus bekerja keras.

Penulis  merasakan betapa besar jasa orang tua, mereka adalah guru pertama. Semangat, motivasi dan semua petuahnya tertancap kuat dalam dada, Tapi kini, mereka telah tiada, Allah telah memanggil mereka untuk selama-lamanya. Hanya untaian doa yang selalu ku panjatkan setiap selesai menjalankan solat. Semoga mereka damai di alam sana, amin yaa rabal alamin.

Bagi pembaca semuanya, jangan takut untuk bermimpi siapa tahu sauatu saat mimpi itu jadi kenyataan, teruslah berkarya mencerdaskan anak bangsa dengan penuh keihlasan niscaya sejuta kebiakan akan di dapat dan berbaktilah pada kedua orang tua kita.

#Humanesia #SekolahLiterasiIndonesia #MakmalPendidikan

Komentar

komentar