Mewujudkan Guru Trainer

trainer

Oleh: Dzulkifli

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 003 Sangatta Utara, Kutai Timur (Kalimantan Timur)

Guru trainer. Satu istilah yang mungkin belum lazim terdengar. Ini kombinasi dari dua profesi yang berbeda: guru dan trainer.

Sepintas mungkin agak kontradiktif, tapi bisa saja ini terjadi. Di satu sisi, seseorang adalah guru sebagai profesinya, dan pada kesempatan tertentu ia juga se-bagai trainer yang membagi ilmu dan pengetahuan-nya ke banyak orang. Ilmu dalam hal apa pun, teru-tama tentang dunia pendidikan, bisa dibagikan untuk guru lain. Di sini para guru tidak hanya dituntut untuk bisa mengajar dan mendidik, tapi juga bertugas untuk menginspirasi dan memotivasi guru-guru lain tentang pendidikan.

Inilah yang ingin dibentuk oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa di sekolah-sekolah dampingannya yang tersebar di seluruh Indonesia. Salah satunya adalah di SDN 003 Sangatta Utara, Kutai Timur.

(Kalimantan Timur). Sekolah dasar yang terletak di Pulau Borneo ini telah tiga tahun mendapatkan program pendampingan. Dan pada tahun ketiga ini, dititikberatkan untuk menjalankan program guru trainer.

Pada pertengahan April 2014, saya sebagai Pendamping Sekolah pada tahun ketiga program berinisiatif untuk melaksanakan kelas trainer tersebut. Agak bingung awalnya, bagaimana harus memulai. Pilihan pertama, saya berkoordinasi dengan kepala sekolah. Dari hasil koordinasi tersebut, kepala sekolah merekomendasikan untuk membuat jadwal.

Jadwal telah saya buat, koordinasi kedua pun saya lakukan. Setelah disetujui, saya masuk ke langkah berikutnya. Saya perlu memastikan para guru untuk care dengan agenda ini. Dan tentu harapan besarnya semua guru berpartisipasi dalam kelas trainer. Sebab, sebelumnya terdengar sayup-sayup celotehan dari guru, “Ah, Pak Dzul nambah-nambah kerjaan saja.” Memang ini celetukan satu oknum guru, tapi tetap saja sebuah tantangan bagi saya. Saya harus pandai-pandai mengomunikasikan pentingnya kegiatan ini.

Dalam penjadwalan, saya mengatur para guru untuk tampil tiga kali dalam sepekan, yakni Senin, Rabu, dan Sabtu. Dalam satu hari, tampil dua orang guru un-tuk berlatih. Saya juga menyampaikan ke mereka bahwa jadwal ini fleksibel; arti-nya, bagi guru yang telah siap, silakan tampil. Kesiapan mereka bukan sekadar soal waktu, melainkan juga slide yang mesti dipersiapkan agar mereka tampil layaknya seorang trainer.

Hari pelaksanaan pun tiba. Ibu Gemi Lestari tampil sebagai yang pertama pada hari itu. Sebelumnya, beliau telah menginformasikan kepada saya tentang ke-siapannya. Menyusul Ibu Gemi, tampil guru-guru lainnya pada hari-hari berikutnya sesuai jadwal. Sungguh pemandangan yang tidak biasa setelah pembelajaran di kelas. Satu per satu guru menampilkan kemampuannya dalam mempresentasikan materinya yang telah mereka siapkan.

Guru-guru itu mampu tampil layaknya trainer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Interaksi dengan peserta cukup luwes. Semua ini tentu dihasilkan secara berproses, tidak seketika. Practice makes perfect, begitu kata pepatah.

Kendala jelas ada, salah satunya kesiapan guru dalam mßembuat materi pre-sentasi dengan PowerPoint. Pasalnya, kemampuan sebagian guru tersebut dalam menggunakan komputer masih belum mumpuni. Lagi-lagi, sebuah tantangan bagi saya. Untuk mengatasinya, saya menyarankan mereka agar slide-slide terdahulu yang pernah diberikan oleh Makmal Pendidikan dipelajari dan diedit seperlunya (sebagai pembelajaran) sehingga bisa menjadi bahan persentasi para guru.

Kelas trainer jelas bukan program mengada-ada atau sekadar mencari-cari kegiatan bagi guru. Bagi guru yang paham, mereka akan menyadari bahwa dari kegiatan ini mereka diajak untuk bertransformasi dan ‘naik kelas’. Dari sekadar guru menjadi trainer yang menginspirasi banyak orang.

Komentar

komentar