Merawat Upaya

Oleh: Nurul Aeni. 
Creative PSB Makmal Pendidikan dan Pembina Komunitas Media Pembelajaran (KOMED)

Ibarat membangun sebuah bangunan megah namun tidak dirawat dan juga tidak difungsikan. Lama kelamaan bangunan tersebut akan berlumut, keropos dan bersiap runtuh. Bersikeras menghindari kejadian semacam itu maka saya lebih suka membangunnya secara perlahan, mulai dari membuat sebuah ruangan kecil kemudian saya menatanya, merawatnya dan mengfungsikannya. Itulah sebuah upaya yang saya lakukan untuk membangun Komunitas Media Pembelajaran (KOMED), dimulai dengan membuat konsep sederhana yang berawal dari cita–cita besar, saya ingin mengumpulkan semua guru berkumpul dalam satu wadah yang dapat menjadikan mereka produktif dan kreatif membuat media pembelaran.

Tujuh orang guru memulai berikhtiar menfungsikan komunitas ini di pertengahan tahun 2014. Tujuh orang dari empat puluh orang guru yang diundang sempat membuat hati saya ciut dan pesimis, begitu sulit sekali mengumpulkan orang dewasa untuk mau meluangkan waktu berbaris dalam barisan yang sama dengan KOMED. Namun saya tidak ingin merobohkan harapan, terlebih lagi melihat binar semangat tujuh guru yang datang melawan hujan dan jarak yang harus mereka tempuh menuju basecamp kami di Pusat Sumber Belajar (PSB).

Kami melakukan aktivitas–aktivitas sederhana disetiap pertemuan yang dilakukan dua minggu sekali. Dengan mengundang salah satu fasilitator handal di bidang media pembelajaran, para guru belajar membuat beragam media pembelajaran. Suatu waktu guru–guru KOMED berlatih membuat media pembelajaran berupa boardgame yang dipandu fasilitator, mereka sangat menikmati setiap waktu yang mereka habiskan untuk membuat inovasi–inovasi boardgame, seperti saya melihat siswa-siswa bermain ular tangga saya juga melihat hal yang sama tatkala mereka membuat boardgame, sangat menyenangkan. Walau dengan peserta yang sangat minim, saya tetap berikhtiar menyelenggarkan pelatihan dan pendampingan media pembelajaran, pun dengan keterbatasan dana yang dimiliki untuk program ini. Hubungan saya dan para guru menjadi tambah mesra ketika sedang melakukan pendampingan, mengarahkan mereka untuk membuat media yang efektif dan efesien dengan secara pribadi, titik terbaik dari KOMED ini adalah ketika salah satu guru dampingan kami memenangkan lomba “Membuat Media Pembelajaran Edukatif dengan tema PHBS” se- Indonesia awal tahun 2015 lalu.

Prestasi yang dicapai salah satu guru dampingan merupakan salah satu katalis saya untuk pertumbuhan KOMED, di pertengahan tahun 2015 saya mulai menyebarkan undangan lebih banyak lagi ke beberapa sekolah sekitar PSB untuk mengajak mereka bergabung dan mau berbagi pengalaman di KOMED. Semenjak itu hampir dua puluh orang guru membuka tangannya lebar untuk bergabung dengan KOMED, namun sayangnya mereka tidak bersedia menggenggam, dihari–hari berikutnya jumlah peserta disetiap pertemuan hampir sama dengan jumlah pada awal–awal berdirinya komunitas ini.

Apa yang hampir tidak dimiliki setiap orang saat ini? Tentunya gawai. Saat itu juga saya mulai memoles wajah baru KOMED dengan muka digital salah satunya Whatsapp. Memulai sesuatu haruslah diawali dari pondasi yang baik, pun dengan Whatsapp KOMED. Saya mengundang beberapa guru yang aktif menggunakan media tersebut, walaupun merasa bersalah karena mendzalimi sebagian guru yang belum memiliki gawai. Tetapi seperti yang kita ketahui, untuk berubah dan berevolusi harus ada pengorbanan. Setelah adanya grup KOMED digital maka aktivitas pertemuan kami (kami biasanya menyebut kopi darat) mulai berkurang. Sebaliknya, Whatsapp begitu ramai dengan beragam aktivitas, ada yang sharing informasi, ada yang cuma menyapa dan bahkan ada satu atau dua orang guru yang bercanda, tetapi rutinitas yang selalu saya lakukan di setiap pagi adalah membagi informasi tentang praktik membuat media pembelajaran.

Kami bahkan menyepakati jadwal rutin yang dilakukan di grup Whatsapp KOMED. Pertama adalah kelas online, semacam pelatihan yang dikemas jarak jauh, si pemateri akan memberikan materinya serupa artikel atau gambar–gambar terkait, kemudian anggota KOMED akan bertanya apa yang belum mereka mengerti, semuanya dilakukan dengan melihat dan menempelkan jari di gawai. Kedua adalah book share, kami membuat jadwal untuk setiap anggota KOMED, temanya bebas dan kegiatan ini kami lakukan satu minggu sekali dengan orang yang berbeda. Ketiga adalah pengumpulan dokumentasi pembuatan dan penggunaan media pembelajaran di kelas, setiap minggu minimal setiap guru membuat satu media pembelajaran untuk digunakan di setiap KBM mereka dan mereka diharuskan memublikasi di grup Whatsapp. Publikasi ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi agar guru–guru lain juga terdorong menjadi kreatif membuat media.

Tiga kegiatan ini rutin dilakukan hingga akhir 2015, tidak terasa waktu berlalu dengan cepat. Setelah saya melakukan analisa berdasarkan dokumen–dokumen yang ada, saya membuat kesimpulan bahwa setiap guru mampu membuat media asalkan butuh pendampingan dan tentunya dorongan dan semangat. Suatu sore saya meluangkan waktu melihat dan merekap database KOMED, di sana banyak foto dokumentasi media–media pembelajaran yang dibuat oleh guru KOMED. Saya tersenyum geli dan cukup berpuas atas upaya yang saya lakukan selama ini, tetapi hati saya kembali ciut setelah mengingat bahwa hampir 30% anggota KOMED yang dulu sering kopi darat tidak aktif lagi, saya mencari–cari nomor ponsel mereka namun banyak dari mereka ganti nomor. Lantas saya tercenung, mungkinkah penggunaan media sosmed justru memberatkan sebagian guru. Untuk mengurangi kegalauan tersebut saya melakukan evaluasi KOMED dengan instrument form kuesioner evaluasi yang saya bagikan secara daring, saya ingin melihat dampak dan kebermanfaatan grup KOMED bagi mereka yang sudah bergabung.

Hasilnya di luar dugaan, dari total anggota KOMED yang tergabung di grup whatsapp hanya terdapat 36 % anggota aktif dan dari anggota aktif tersebut 81 % guru produktif membuat media pembelajaran. Angka 36 % anggota aktif ini jauh dari angka target yang saya saya tentukan, yaitu 50%. Walaupun saya cukup puas dengan angka 81% produktifitas guru, berbanding lurus dengan apa yang saya cita – citakan. Ini merupakan evaluasi untuk saya, agar segera menyusun strategi – strategi perbaikan ke depannya. Menurut para anggota KOMED, 52.4 % penggunaan whatsapp dalam setiap aktivitas KOMED lebih efektif digunakan ketimbang kopi darat atau facebook, hal ini didasarkan pada efesiensi waktu, jarak dan biaya. Penggunaan whatsapp menurut mereka lebih fleksibel, guru hanya meluangkan sedikit waktu untuk belajar dan melakukan pendampingan, begitu juga jarak yang jauh dan kondisi alam dan jarak yang jauh dapat dibatasi dengan adanya media whatsapp ini.

Sedangkan untuk setiap aktivitas KOMED diantara pelatihan media pembelajaran, kelas online, bookshare dan pendampingan media pembelajaran. Menurut para anggota 33 % pelatihan Media Pembelajaran dan 33 % kelas online lebih efektif memberikan mereka suntikan ilmu ketimbang aktivitas lainnya. Hal ini disebabkan kegiatan book share dan pendampingan belum jelas jadwal dan tujuannya.

Evaluasi ini merupakan alat berharga untuk perbaikan KOMED ke depannya, saya mulai menyusun kembali strategi – strategi untuk mengokohkan KOMED di masa depan. Merawat upaya yang sudah dilakukan selama ini lebih sulit ketimbang membangun sebuah ruangan, perlu konsistensi, kesabaran dan kemampuan memperbaharui sesuai dengan tantangan zaman.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.