Merancang Visi-Misi Sekolah

guru1

Oleh: Dzulkifli

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 003 Sangatta Utara, Kutai Timur (Kalimantan Timur)

Pada pelatihan tahap kedua di tahun ketiga program pendampingan di SDN 003 Sangatta Utara, Kutai Timur (Kalimantan Timur), para guru dibekali tentang analisis SWOT dan perumusan visi-misi.

Materi ini dibawakan oleh Bapak Ahmad Fauzan, trainer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Mengingat pentingnya materi ini, Kepala SDN 003 Sangatta Utara, Bapak Jamaluddin, sangat antusias mendiskusikannya. Sebab, visi-misi yang lalu, menurut beliau, masih perlu adanya revisi.

Merumuskan visi-misi bagi sebuah lembaga sa-ngatlah penting lantaran akan menentukan wajah suatu lembaga pada masa depan. Dengan adanya visi-misi, arah kegiatan di sekolah menjadi terarah. Oleh karena itu, peran kepala sekolah sebagai manajer bagi guru-guru di sekolah adalah harus selalu memantau dan mengontrol agar visi-misi itu tercapai. Sebab, visi-misi yang ada terkadang sudah cukup baik, namun dalam pelaksanaannya tidak dikontrol sehingga tidak menutup kemungkinan hanya menjadi macan kertas alias tak berarti apa-apa.

Saya sangat senang tatkala Pak Jamaluddin menerbitkan surat keputusan yang intinya memberikan mandat kepada saya untuk mambantu sekolah merumuskan visi-misi baru sekolah. Tentu saja kepercayaan ini kesempatan emas buat saya untuk memasukkan program-program yang sejalan dengan Makmal Pendidikan. Walau nantinya hasil rumusan ini harus dimusyawarahkan dulu ke seluruh dewan guru agar semua menyetujui dan mau berkomitmen untuk melaksanakan dan menyukseskannya.

Salah satu rumusan yang telah saya buat, pada misi misalnya, saya menulis “Mengembangkan budaya cerdas literasi di sekolah”. Dengan usulan ini saya menginginkan pihak sekolah menerapkan budaya literasi yang nantinya sangat bermanfaat bagi para siswa maupun para guru, di tengah minimnya budaya ini di Indonesia secara umum dibandingkan negara-negara lain. Maka, dengan komitmen para guru untuk menjalankan misi ini di sekolah, akan berkurang gejala aliterasi (keterampilan membaca kurang) dan iliterasi (minat membaca rendah) di Indonesia yang begitu parah.

 

Awalnya saya masih agak kesulitan mengenai poin apa saja yang mesti dijadikan bahan rumusan yang langsung mengena pada masalah. Setelah beberapa hari memikirkan, di sekolah dampingan ini ada satu program krusial yang belum berjalan sama sekali, yaitu kelas membaca berikut program turunannya. Sejak tahun pertama program pendampingan, tema sentral yang dicanangkan sebenarnya adalah Sekolah Cerdas Literasi. Namun, entah mengapa, saya merasa program tersebut belum tampak berjalan optimal.

Dengan mengacu pada penilaian saya tersebut, ditambah diberikannya kepercayaan untuk merumuskan visi-misi yang baru sekolah, saya memutuskan untuk menuliskan satu poin penting ini dalam salah satu klausul visi dan misi sekolah. Harapannya, ‘perjuangan’ saya untuk menggolkan klausul tersebut dapat disetujui oleh seluruh dewan guru. Tentunya ini akan menjadi entry point buat saya untuk menjalankan program tersebut. Tidak lupa saya juga harus merumuskan indikator yang tepat pada klausul tersebut sehingga arahnya menjadi jelas tentang apa yang harus dilakukan.

Komitmen bersama juga menjadi penting agar seluruh visi-misi sekolah dapat diimplementasikan dengan baik. Visi-misi layaknya sebuah konstitusi bagi sebuah negara. Dengan adanya sebuah konstitusi, arah dan tujuan menjadi jelas. Begitu pula halnya sebuah sekolah; sekolah harus mempunyai pedoman yang mampu mengarahkan semua warganya untuk mencapai tujuan bersama.

Komentar

komentar