Merajut Asa di Jalan Berlumpur

lumpur

Teng… teng… teng… Lonceng sekolah berbunyi dan waktu menunjukan pukul 10.00 WIB. Bukan pertanda waktu istirahat, melainkan waktunya pulang. Tiap Jumat, seperti biasanya kami pulang pukul 10.00 WIB, kami pulang bersama-sama, hal tersebut seperti telah menjadi agenda rutin mingguan saya bersama para siswa kelas IV MI Cibengang. Ya, MI Cibengang merupakan tempat belajar kami untuk menggapai asa. Agenda mingguan saya bersama anak-anak adalah berkunjung atau bersilaturahmi ke rumah salah satu siswa kelas IV. Pada kesempatan kala itu kami berkunjung ke rumah Zidan. Sudah tiga hari Zidan tidak masuk sekolah, kabarnya ia demam tinggi.

Namun sayang tidak semua murid kelas IV ikut menjenguk Zidan. Macam-macam alasan mereka, tapi yang lebih banyak karena rumah Zidan cukup jauh. Saya jadi penasaran, seberapa jauhkah dari sekolah ke rumah Zidan. Rasa penasaran terus menerus berputar di kepala.

Ayo pak… aayo… cepetan.

Kegaduhan mulai menyeruak di dalam kelas, karena ada siswa yang sudah tidak sabar untuk segera memulai perjalanan menuju rumah Zidan.

“Iya… iya… sebentar, sabar ya… bapak mau ambil tas dulu,” jawabku mereka.

Tak ada lima menit untuk mengambil tas dan beberapa perlengkapan untuk Shalat Jumat, saya ditinggal oleh beberapa siswa yang sudah jalan duluan menuju rumah Zidan. Semakin penasaran: “Apakah benar rumah Zidan jauh?”

Tak lama kemudian, saya dan beberapa siswa memulai perjalanan menuju rumah Zidan. Gerimis rintik menemani perjalanan kami semua, terlihat kecemasan di wajah anak-anak ketika hujan turun.

Pak ayo cepetan keburu hujan,” teriak seorang anak.

Lalu hujan besar turun, dengan cepat semua berlari dan semua berhamburan. Tinggal saya seorang diri tertinggal di belakang mereka.  Namun, ada sebagaian yang masih menunggu saya. Hujan berubah menjadi gerimis dan perlahan berhenti, kami melanjutkan perjalanan. Hujan membuat jalan menjadi licin dan nampaknya kami harus lebih berhati-hati ketika melangkah. Jalan yang kami lewati sangat berbatu, berlumpur, dan berbukit-bukit. Kini rasa penasaran saya mulai sedikit terjawab, tak terasa ternyata sudah 30 menit kami berjalan menuju rumah Zidan namun belum sampai jua ke tempat tujuan. Perjalanan kami lewati dengan obrolan-obrolan kecil mengenai pelajaran di kelas. Tawa dan canda menemani obrolan kami, padahal jalan yang kami lewati tak mudah untuk dilewati anak-anak. Dataran tinggi berlumpur sisa hujan semalam membuat sulit kami lewati dan sampai-sampai alas kaki yang kami pakai harus dilepas, celana harus dilipat untuk mempermudah perjalanan.

Tak terasa satu jam sudah kami berjalan melewati jalan yang naik, turun, dan berlumpur. Namun belum sampai juga di rumah Zidan. Mungkin inilah jawaban dari alasan-alasan mereka yang tidak mau untuk ikut menjenguk Zidan. Langkah ini tiba-tiba terhenti sejenak untuk mengambil nafas yang sudah mulai terengah-engah. Hebatnya tak ada sedikit pun rasa lelah di wajah murid-murid saya, bahkan mereka tetap semangat untuk melanjutkan perjalan.

“Pak ayo jalan lagi, kenapa berhenti?” Seorang siswi memberikan semangat kepada saya untuk meneruskan perjalanan ke rumah Zidan. Serasa tak sangup lagi kaki ini untuk melangkah, satu jam lebih kaki ini berjalan melewati jalanan yang tak biasa dan ini pertama kali saya melakukan perjalanan bersama anak-anak. Saya tersadar ternyata tak mudah perjuangan mereka setiap hari menuju sekolah, dan tak sedikit pun terlukiskan lelah di wajah mereka sesampainya di sekolah. Mungkin inilah tekad mereka untuk merajut sebuah asa demi masa depan, nilai positif tersendiri untuk anak didik kami. Dan mungkin dapat memberikan motivasi khususnya bagi saya dan mungkin bagi orang lain.

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.