Menulis Cerita, “Bermain” Kosakata Sambil Berimajinasi

Language is just a matter of habit, ungkapan yang cukup familiar di penglihatan dan pendengaran kita, bukan? Secara sederhana, ungkapan tersebut bisa diartikan  bahwa bahasa itu adalah kebiasaan. Betul, baik dengan cara praktek bicara ataupun menulis secara rutin merupakan salah satu cara menguasai sebuah bahasa. Apapun bahasanya. Itulah kandungan yang tersirat.

Kita ketahui bahwa dalam belajar mata pelajaran bahasa semisal bahasa Indonesia, bahasa Inggris, ataupun bahasa-bahasa daerah lainnya, di tingkat Sekolah Dasar, terutama tingkat Sekolah Menengah Pertama dan juga menengah Atas sudah diperkenalkan four language skills, yaitu empat kemampuan berbahasa diantaranya listening, speaking, reading, dan writing. Khusus untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama dan Atas, sudah diperkenalkan dan juga mempelajari beberapa Genre (jenis teks). Jadi, di sekolah formal, para peserta didik sebetulnya sudah dibekali empat kemampuan berbahasa, tinggal lalu kemudian mengembangkannya di jenjang berikutnya. Lebih-lebih jika mereka melanjutkan perkuliahan di pendidikan bahasa ataupun sastra, akan lebih terlatih dan mendapatkan keilmuan tentang kebahasaan tentunya.

Berkaitan dengan salah satu dari empat kemampuan berbahasa di atas yaitu writing (menulis), Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) secara rutin belajar dan berlatih menulis. Ya, mereka berlatih menulis artikel dan cerita. Karena sebagian dari mereka adalah pendidik, maka lebih spesifik menulis cerita anak. Cerita anak yang berhikmah dan mempunyai pesan pendidikan agar bisa di ceritakan kembali kepada peserta didik di sekolah  dan anak-anaknya di rumah.

Proses pembuatan cerita tersebut yaitu dengan cara memberikan beberapa kata kunci yang kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah cerita. Ini menarik. Bagaimana tidak? Di sini, dituntut untuk bermain kosakata sambil berimajinasi. Memilih dan memilah kosakata selain dari kosakata yang telah diberikan. Kasarnya, “dipaksa” untuk memikir kosakata apa yang pantas dan berkaitan dengan kosakata yang diberikan. Tinggal kemudian mau di bawa kemana cerita tersebut dan apa  pesan karakter yang akan disampaikan. Dari situ, akan bisa disimpulkan inti cerita yang kemudian bisa diambil tema atau judul dari ceritanya. Luar biasa bukan?

Tentunya, bagi para penulis yang sudah ahli dalam bidangnya seperti menulis di buku-buku, artikel di majalah dan media-media cetak yang telah mempunyai nama besar, ataupun penulis puisi, mereka itu penulis-penulis yang sudah memadukan tata bahasa dan imajinasi. Bahasa kerennya, cipta dan rasanya sudah teruji. Memadukan gramatikal, sintaksis, morfologi bahkan semaantik juga unsur-unsur penopang bahasa lainnya. Tapi bagi kita sebagai pemula, ini semua adalah bagian dari proses belajar. Kami sadar, untuk membuat sebuah cerita yang menarik, cukup sulit. Di butuhkan waktu dan kesempatan belajar yang ekstra. Namun pepatah mengatakan, You will have never known till you have tried. Atau pepatah setara dengan itu, seperti Jarrib walaa hidz takun ‘arifan cobalah dan perhatikanlah, niscaya kau jadi orang yang tahu, Pepatah yang pantas di angkat untuk menyemangati diri dalam aktivitas belajar secara umum, lebih spesifinya seperti menulis cerita ini.

Sebagai manusia yang memiliki cipta dan rasa, ada kepuasan tersendiri manakala menuangkan imajinasi ke dalam sebuah tulisan. Ini salah satu cara melatih otak kiri dan kanan. Memadukan tulisan dengan imajinasi, kreatifitas bahkan emosi. Untuk itu kegiatan menulis cerita seperti yang dilakukan KOMED ini adalah kegiatan positif yang perlu dikembangkan dan dijaga konsistensinya. Terus dipoles kemampuan menulis agar menghasilkan karya yang lebih baik dan menarik ke depannya. Berlatih dan terus berlatih seperti kata pepatah lagi, Practise makes perfect. Dengan demikian kita pun akan memperoleh pengalaman-pengalaman yang bisa dijadikan sebagai  pengalaman atau “guru” yang terbaik, experience is the best teacher. Wallahu’alam.

Komentar

komentar