Menjalin Keakraban dengan Guru

Saya bingung ketika menghadapi mereka. Mereka yang bermacam-macam karakter. Sampai-sampai tak enak makan, tak enak tidur, hanya memikirkan bagaimana saya harus bersikap untuk esok hari?

Sebuah perjalanan terbilang singkat untuk saya, perempuan lulusan universitas negeri di Yogyakarta yang langsung bekerja dan ditempatkan di wilayah tambang: Kalimantan. Memang selama sebulan saya sudah dilatih di Bogor tentang semua materi me-nyangkut aktivitas yang akan dilakukan di daerah penempatan. Tetapi, teori tidak selamanya pas untuk diterapkan di sekolah yang karakter masalahnya ber-beda-beda. Menurut saya, ini yang paling susah. Haruskah saya menyerah? Tentu saja tidak!

Logat bahasa yang berbeda membuat saya agak susah berkomunikasi dengan para guru. Waktu tiga bu-lan pun tak cukup mengantarkan saya menjadi dekat dengan guru-guru. Sudah berjalan selama empat bulan pun saya masih canggung dengan logat bahasa itu. Itu baru masalah logat, be-lum lagi bagaimana cara menyikapi guru yang satu dengan guru yang lain.

Waktu berjalan selama empat bulan, saya mulai mengamati satu per satu guru. Mulai dari hobi, watak, gaya berbicara, gaya kerja, sampai hari ulang tahun mereka. Saya mulai mendekati satu per satu guru dengan berkomunikasi menggunakan ba-hasa Banjar ala Pendamping Sekolah. Memang agaknya harus pakai prinsip ‘sok kenal sok dekat’. Bertanya tentang keluarganya, putra-putrinya, masakan favorit-nya, sampai curhat tentang masalah keluarga. Satu titik terang, saya mulai bisa mengondisikan guru. Tidak lupa, guru suka dipuji. Banggakan kelebihannya, beri semangat dan motivasi.

Selanjutnya, dari beberapa guru saya menggunakan trik cukup jitu: belajar mendekati hati guru. Membangun care kepada guru. Misalnya, jika ada guru yang sakit, guru yang melahirkan, guru yang sedang tertimpa musibah, saya mengirimkan doa dan harapan lewat SMS atau telepon. Terdengar simpel memang, tetapi man-faat yang diperoleh luar biasa. Guru akan merasa diperhatikan, dan pada akhirnya mereka akan berbalik peduli dengan kita.

Ada salah seorang guru yang saya masih bingung harus menyikapinya. Se-mua orang harus ikut apa yang dia argumenkan. Masalah besar terjadi pada saya waktu itu. Saya tetap berusaha husnuzan. Saat saya tahu informasi dari beberapa guru, saya tidak lantas menghindari guru tersebut. Saya malah berusaha semak-simal mungkin menjadi asistennya. Membantu apa pun yang dia butuhkan. Siap siaga, setiap saat ada di sekolah. Alhamdulillah, berhasil. Tudingannya yang sempat mencuat kepada saya berangsur hilang.

Belajar beradaptasi memang gampang-gampang susah. Namun, jika kita pu-nya keyakinan kuat bahwa yang kita lakukan tidak menyalahi aturan bahkan untuk kebaikan, maka saya jamin Allah pasti akan bantu. Sesulit apa pun masalah itu, Allah selalu bersama hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa.

 

Fera Arista Wardani

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan)

Komentar

komentar