Menjaga Kedisiplinan Sekolah

Sudah 13 tahun lamanya saya menjadi kepala sekolah, yakni dari tahun 2001 hingga 2014 ini. Pengalaman suka maupun duka tentunya banyak yang saya lalui.

Yang paling mengesankan adalah semenjak ditunjuk oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Timur untuk menjadi kepala SDN 264 Wawondula. Mengapa mengesankan? Karena SDN 264 merupakan sekolah negeri unggulan di Kecamatan Towuti. Sebuah penghargaan buat saya karena dipercaya untuk memimpin sekolah unggulan ini.

Sekolah kami memang selalu mendapat banyak juara dalam berbagai lomba, baik akademis maupun non-akademis. Hal inilah yang menjadi acuan oleh Pemda setempat untuk menunjuk sekolah kami sebagai sekolah unggulan. Di balik semua capaian ini, tentunya kami tidak boleh berbangga diri, namun harus lebih kerja keras lagi untuk menjadikan sekolah lebih berprestasi.

Sekolah kami juga sejak tiga tahun lalu mendapat pendampingan dari  Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Adanya pendampingan membawa suasana yang semakin hidup di sekolah kami. Selain itu, banyak bantuan yang kami dapatkan; mulai dari renovasi gedung sekolah, bantuan buku, lemari ceruk ilmu, alat musik, tong sampah, hingga yang akan paling kami ingat selamanya adalah ilmu pembelajaran. Guru-guru sudah dibekali dengan bebe-rapa kali pelatihan sehingga kami pun sudah semakin luar biasa dalam mengajar. Bahkan sudah ada guru yang tampil sebagai trainer dengan mengundang Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Luwu Timur dan beberapa sekolah lain se-Kecamatan Towuti.

Berbekal pengalaman dari Makmal Pendidikan pula saya terinspirasi dan termotivasi untuk membuat suasana sekolah lebih baik lagi ke depannya. Un-tuk menciptakan sekolah yang unggul kita memang harus memberi contoh terlebih dahulu kepada bawahan agar kelak nantinya semua komponen bisa berbaur dan bekerja sama tanpa ada jarak pemisah.

Setiap pagi sebelum bel berbunyi, yakni pukul 06.55, saya sudah harus disiplin berada di sekolah untuk memantau kebersihan. Selama ini guru-guru di sekolah kami tingkat kedisiplinannya di atas 70 persen, begitu pula dengan kedisiplinan siswa yang sudah sekitar 90 persen. Capaian ini tak luput dari kerja keras para guru dalam memotivasi dan mengajak para siswa untuk lebih disiplin lagi, tentunya dengan berbagai macam cara yang mereka lakukan.

Bagi guru piket, setiap pagi harus ada dua atau tiga guru yang berdiri di pintu gerbang untuk menyambut kehadiran siswa. “Tunduk Pungut” menjadi slogan se-kolah kami terkait kebersihan sekolah. Siswa diharapan untuk selalu berposisi menunduk untuk menemukan sampah. Apabila ada sampah di depannya, mereka diminta untuk memungutnya. Barulah setelah itu mereka boleh masuk ke kelas masing-masing.

Dalam hal ini saya mengontrol kebersihan sekolah setiap hari. Apabila masih terlihat kotor, dengan cepat saya membunyikan wireless kemudian mengambil mikrofon lalu menginformasikan kepada guru yang piket untuk mengajak kembali siswa memungut sampah sampai bersih. Selain itu, saya biasa mengambil kain pel untuk membersihkan lantai di teras ruang guru apabila masih terlihat kotor. Saya lakukan ini agar para siswa bisa mencontoh untuk selalu hidup bersih dan sehat.

Untuk tegaknya kedisiplinan jelas butuh kebersamaan di antara guru-guru. Un-tuk membangun kerja sama guru, setiap hari kami melakukan apel pagi. Saat apel inilah tak bosan-bosannya saya selalu mengajak guru untuk mengutamakan ke-disiplinan. Jika saya memantau masih ada meja guru yang kosong, maka dengan segera saya langsung menelepon yang bersangkutan untuk cepat-cepat menuju ke sekolah.

“Kasihan itu anaknya orang kalau kita tidak masuk mengajar satu hari saja tanpa ada alasan yang benar-benar bisa ditoleransi. Orangtua mereka menitipkan kepada kita tentunya dengan sejuta harapan agar anak mereka bisa menjadi anak yang pintar dan menjadi anak yang baik-baik”. Tiap pagi pesan ini tanpa bosan saya ulang di hadapan guru-guru. Semua ini demi tegaknya kedisiplinan dan majunya sekolah.

Untuk menjaga kebersamaan bahkan kekeluargaan guru, saya juga meng-adakan makan kapurung bersama. Setiap kami menyelesaikan pekerjaan atau tugas yang menguras banyak tenaga, saya pun mengajak ibu-ibu guru untuk membuat makanan khas Palopo ini, dengan tujuan untuk melepas penat lelah hari itu.

Sebagai penutup dalam tulisan ini, saya selaku Kepala SDN 264 Wawondula mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang memberikan banyak bantuan. Semua kebaikan yang diberikan rasanya tak dapat kami balas, kecuali dengan ucapan terima kasih dan doa kami. Semoga ke depannya makin maju dan berjaya dan lebih banyak lagi merangkul sekolah-sekolah lain yang ada Indonesia, khususnya bila memungkinkan di Kabupaten Luwu Timur.

 

Magdalena Bunga Salo

Kepala Sekolah Cerdas Literasi SDN 264 Wawondula, Luwu Timur (Sulawesi Selatan)

Komentar

komentar