Menjadi Guru Berkualitas

Oleh: Ferawati Mangalle

Guru Sekolah Cerdas Literasi SD Inpres Timika II, Mimika (Papua)

Dengan segala keterbatasan dan kekurangan, saya menginjakkan kaki di SD Inpres Timika II, Mimika (Papua) untuk mengabdi.

Berdiri mengajar di depan kelas merupakan kewajiban yang harus saya laksanakan. Padahal, saya sering bertanya-tanya pada diri saya sendiri, “Apakah saya bisa mengajar?”

Saya bukanlah orang pintar. Meski saya berasal dari keguruan, kemampuan saya pas-pasan, tidak seperti orang lain yang punya modal otak cerdas. Siapalah saya ini. Pertanyaan dan keraguan selalu membayangi saya. Saat pertama kali mengajar, sering kali saya tidak percaya diri karena melihat kecerdasan guru-guru lain.

Dalam mengajar, saya selalu menggunakan metode ceramah dan penugasan. Anak-anak sering bosan, lalu ribut karena pembelajaran yang tidak menyenangkan. Di lain pihak, kerongkongan saya sering sakit dan kering hanya karena berusaha menenangkan anak-anak.

Pembelajaran yang tidak terarah merupakan salah satu kendala saya dalam mengajar. Suatu kemustahilan bagi saya jika harus membuat Rencana Pelak-sanaan Pembelajaran (RPP) sendiri yang pada awalnya sama sekali tidak digunakan. Saya pun bingung dan selalu curhat pada teman-teman bahkan hingga keluarga. Mungkin mereka berpikir begini, “Ini orang selalu saja mengeluh setiap pulang mengajar”.

Tidak lama saya mengajar di sekolah ini, ada kabar bahwa sekolah akan ada pendampingan dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Jujur saja saya bahagia mendengarnya, dengan harapan mendapatkan jawaban dari kebingungan saya selama ini. Sampai waktunya tiba, pelatihan diberikan bagi guru-guru di sekolah saya. Secara pribadi saya jelas bangga bisa menjadi salah satu di antara peserta yang bisa duduk dalam bangku pelatihan tersebut.

Begitu banyak pelatihan yang diberikan, yang semua materinya tidak terlepas dari kebutuhan kami sebagai guru. Sekarang saya bangga dengan pelajaran yang saya terima selama ini meski mungkin bagi guru lain biasa-biasa saja. Saya sudah tidak pernah berpikir lagi siapakah saya. Yang selalu saya pegang kini adalah “jika mereka bisa, saya pun harus bisa!”

Sekarang saya punya modal masa depan untuk menjadi guru yang bisa dise-nangi oleh anak-anak didik sekaligus mampu mengajar secara terarah. Sebab, menghadapi anak-anak yang berasal dari latar belakang berbeda-beda merupakan hal sulit buat saya selama ini. Barulah setelah mendapatkan materi tentang manajemen kelas, saya merasa bahwa menjadi guru itu sangat menyenangkan.

Praktik manajemen kelas tidak hanya saya praktikkan di SD Inpres Timika II, tetapi juga di salah satu SMP tempat saya turut mengabdi. Saat itu saya disupervisi oleh pengawas Dinas Pendidikan. Kursi dan meja belajar yang seperti itu-itu terus saya ubah posisinya berbentuk huruf U agar saya mengusai kelas dan pembelajaran pun lebih nyaman.

Saya memulai kegiatan belajar mengajar dengan semangat, sama persis seperti di kelas SD. Anak-anak SMP ikut semangat dari awal sampai akhir. Pengawas pun ikut semangat meski jam mengajar saya bisa saja beliau gunakan untuk istirahat.

Setelah kegiatan mengajar selesai, saya dipanggil pengawas di kantor. Beliau langsung tersenyum dan menyalami saya, “Ibu, terima kasih sudah bisa mengajar dengan baik, saya tidak tahu harus mengoreksi yang mana karena Ibu mengajar dengan penuh semangat dan menyenangkan. Anak-anak sangat semangat”.

“Jarang sekali ada guru Matematika yang mengajar seperti itu!” Kata pak pengawas mengakhiri apresiasinya.

Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

“Saya memang guru Matematika, pak, tapi sejujurnya kemampuan saya pas-pasan,” jelas saya.

“Ibu, banyak guru yang punya kecerdasan tinggi, tapi anak-anak tidak mengerti jika diajar oleh mereka,” sergah bapak pengawas. “Asal Ibu percaya bahwa dengan kekurangan yang Ibu miliki adalah kelebihan bagi anak didik Ibu. Teruslah belajar dan tingkatkan lagi cara mengajar Ibu yang sudah bagus ini!”

Kembali saya mengucapkan banyak terima kasih.

Dalam hati saya berkata, saya yang hanyalah orang biasa-biasa saja dari SD Inpres Timika II ternyata dianggap bisa memberikan yang terbaik buat siswa SMP. Saya merasa tertantang untuk berbuat serupa di sekolah sendiri, SD Inpres Timika II.

Semua capaian ini tidak terlepas dari bimbingan Pendamping Sekolah. Sejak awal saya memang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka kehadiran Pendamping Sekolah. Untuk itu, sepantasnya saya mengucapkan beribu terima kasih kepada Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bisa lebih berkualitas dari sebelumnya.

Komentar

komentar