Karena Menjadi Guru adalah Tentang Panggilan Hati

Oleh: Aliyah Syarifa. Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia

Berbicara soal sekolah dan pendidikan, serasa tidak akan pernah ada habisnya. Banyak sudut pendidikan Indonesia yang bisa disoroti menjadi topik-topik diskusi yang tak ada basinya. Untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional kali ini, saya ingin menyoroti pelaku utama dalam dunia pendidikan yang selalu berperan di hadapan layar yaitu GURU. Sebuah nama dari profesi yang kata orang Jawa ialah singkatan dari kata “digugu lan ditiru”. Seorang panutan yang apapun perbuatan dan perkataannya patut untuk dicontoh.

Begitulah yang tertanam di pikiran saya dari kecil saat masih bersekolah, hingga membuat saya bercita-cita menjadi sosok tersebut ketika sudah dewasa.

Menjadi guru di zaman sekarang ini memang berbeda keadaannya dengan menjadi guru pada zaman dahulu ketika teknologi di Indonesia belumlah terlalu berkembang. Profesi seorang guru saat ini sudah cukup mendapat perhatian pemerintah terkait tunjangan kesejahteraan, seperti adanya tunjangan sertifikasi untuk para guru. Namun, apakah tunjangan tersebut sudah berbanding lurus dengan tingkat keprofesionalan profesi yang dilakoni oleh guru tersebut. Profesionalisme tidak hanya tentang guru tersebut mampu lulus dalam tes sertifikasi saja.

Keprofesionalan yang paling utama terletak pada bagaimana kondisi riil di lapangan saat melaksanakan tugas mengajar dan mendidik. Sudahkah guru tersebut mampu memberikan pelayanan prima meski dengan berbagai keterbatasan yang ada di sekolah.

Sudahkah menjadi seorang guru yang benar-benar mampu mendidik, menginspirasi serta memberi contoh pada anak-anak didiknya? Ataukah mungkin hanya sekadar menggugurkan kewajiban saja dengan masuk kelas, menyampaikan materi dan melengkapi administrasi.

Lalu bagaimana kondisi yang saat ini terjadi di dalam sistem pendidikan Indonesia? Ternyata!asih banyak guru yang terlihat asal menunaikan kewajiban profesinya dan belum benar-benar mampu menunjukkan profesionalismenya sebagai seorang guru. Pantaskah mengharapkan karakter mulia dari anak didik, jika kita sebagai guru belum mampu memberikan teladan tentang karakter mulia tersebut? Pantaskah mengharapkan anak-anak untuk disiplin, jika kita sebagai pendidik masih menawar-nawar untuk datang ke sekolah tepat waktu? Pantaskah menuntut siswa kita kreatif, jika kita masih berlindung dibalik keterbatasan kondisi untuk berinovasi dalam mengajar? Terkadang berbagai alasan sengaja dibuat untuk membenarkan kesalahan yang dilakukan.

Kondisi di atas memang tidak terjadi di semua sekolah di negeri ini. Karena tak dipungkiri, cukup banyak juga para pejuang pendidikan yang benar-benar mampu menjadi guru teladan karena kesungguhannya menjalani profesi. Meski berada pada lingkaran keterbatasan, namun tak menjadikan hal tersebut sebagai alasan untuk menyerah berjuang demi pendidikan. Lalu apa yang membedakan mereka dengan yang lainnya. Perbedaannya adalah tentang hati dan jiwa seorang pendidik. Mereka jalani profesi itu dengan kesungguhan hati. Jiwanya sebagai seorang guru tak akan pernah puas dengan hanya sekedar berdiri di depan kelas, berceramah menyampaikan materi yang harus dipahami siswa pada hari itu. Mereka mengerahkan segala potensi dalam dan luar dirinya untuk benar-benar mampu membentuk karakter pribadi anak bangsa yang mulia.

Menjadi guru bukanlah tentang apa yang kita hasilkan saat ini saja, siswa mendapat nilai-nilai yang bagus, lulus UN 100% dan menjadi juara di berbagai macam lomba. Akan tetapi menjadi guru adalah tentang apa dampak yang akan terjadi pada anak beberapa tahun mendatang dari apa yang kita tanam saat ini. Untuk itu, guru dituntut untuk lebih mengenali anak-anak didiknya, agar lebih mengetahui apa yang perlu ditanamkan pada mereka. Sehingga pada akhirnya apa yang ditanamkan guru dapat menjadi sesuatu yang terpatri di diri mereka membentuk sebuah karakter yang kuat. Menjadi guru tidaklah cukup mengerahkan ilmu yang diperoleh pada saat menempuh pendidikan saja.

Menjadi guru harus selalu belajar dan menerima pengetahuan yang terus dan selalu berkembang. Selalu melakukan evaluasi terhadap usaha yang telah dilakukannya dalam mendidik banyak anak. Begitulah semestinya seseorang yang menjadikan profesi guru sebagai panggilan hatinya untuk mendidik.
Mengutip kata-kata dari seorang penulis yang juga praktisi pendidikan, A Fuadi, bahwa guru yang baik itu bagai petani. Gurulah yang mencetak peradaban bangsa di masa mendatang. Ditangannyalah akan terlahir para generasi yang akan memimpin dunia. Melalui kegiatan mendidiknya, dia bisa menanamkan apapun pada anak-anak. Menjadi karakter yang mengakar kuat pada diri anak. Ketika para petani peradaban ini benar-benar sepenuh hati melaksanakan pendidikan di sekolah, memelihara bibit-bibit penerus bangsa dan terus menyiraminya dengan ilmu, maka mereka akan bangga dengan peradaban yang dipupuknya sejak lama. Karena guru adalah perantara sumber peradaban yang tidak hanya sekadar mengajarkan abjad pada anak.

Lalu bagaimana jika seorang guru yang menjadi petani peradaban ini tidak melakoni tanggung jawab itu dengan setulus hati dan penuh keihklasan? Peradaban seperti apa yang akan terbentuk nantinya? Karakter para generasi seperti apa yang akan melanjutkan kepemimpinan bangsa ini? Akankah bangsa yang kita bangga-banggakan ini mampu bergerak maju membawa perubahan? Saat guru tak menanamkan karakter yang luhur, sangat mungkin pada peradaban selanjutnya lahir para ilmuwan yang meski pintar tapi tak bermoral. Atau mungkin sebaliknya, orang yang bermoral tapi tak pandai apapun, karena guru tidak pernah menggali potensi yang dimiliki setiap siswanya.

Maka ditangan para gurulah sebenarnya nasib bangsa kita berada. Ketika profesi guru sudah menjadi panggilan hati untuk mendidik, tidak ada alasan untuk kita menjadikan keterbatasan atas ketidakmampuan kita dalam mendidik. Karena guru sejati dengan keluasan hati akan bersedia belajar dari pengalaman untuk perbaikan masa mendatang. Mari para guru di seluruh pelosok negeri hadirkan hati dan jiwa kita untuk menjadi pendidik sejati generasi masa depan bangsa. Menjadi petani peradaban yang menanam bibit-bibit generasi pembawa kemajuan dan perubahan.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2017.

Komentar

komentar