Menghidupkan Daya Cerdas Bermedia dengan Literasi Media

Oleh : Devi Saufa Yardha.

Media dalam Kehidupan

Jika kita mendengar kata literasi, maka secara umum yang akan terlintas dalam pemikiran kita adalah segala sesuatu yang meliputi aksara. Literasi umumnya lekat dengan aktivitas membaca, menulis, mencipta karya, dan budaya bertutur lisan. Namun kini kita hidup pada jaman yang telah mengalami suatu pergeseran global. Bentuk-bentuk interaksi dan komunikasi pun telah mengalami perubahan menuju era digital. Penggunaan teknologi media komunikasi dan informasi hari ini menjadi sebuah kebutuhan yang tak dapat terpisahkan dari diri kita.

 

Beberapa fungsi dari media bagi kehidupan kita yaitu memberi informasi (to inform), mendidik (to educate), menghibur (to entertaint), untuk menanamkan pengaruh/nilai-nilai (to influence), memberikan gambaran dan respon terhadap kondisi sosial (to social responsibility), dan penghubung antara berbagai hal yang terjadi di dunia (to linkage) .(Sudarman, 2008). Betapa media memiliki fungsi-fungsi strategis dan signifikan dalam kehidupan kita. Sejalan dengan perkembangan media yang semakin pesat, maka kemampuan untuk menyesuaikan diri kita sebagai pengguna sangat dibutuhkan. Salah satu cara yang dapat dilatih yaitu melalui Literasi Media.

 

Literasi Media. Apa itu? Mengapa Penting?

Literasi media adalah sekumpulan perspektif yang harus dimiliki oleh setiap orang yang secara aktif digunakan untuk memaknai pesan-pesan media. (Potter, 2008). Secara sederhana, literasi media merupakan proses dan upaya untuk membentuk khalayak/audiens/pengguna media agar memiliki pengetahuan, wawasan, kesadaran, serta refleksi terbaik dalam hal berinteraksi dengan media. Mengapa dalam menggunakan media diperlukan proses refleksi? Adakah yang perlu dikhawatirkan dari media? Jika melihat dari fungsi-fungsi media yg disebutkan diatas, semuanya nampak positif. Betapa baiknya media ada dalam kehidupan kita. Tetapi kita perlu mengenal lebih dekat lagi tentang media.

 

Bahwa media dan segala apa yang ada di dalamnya, merupakan sebuah rekonstruksi. Rekonstruksi merupakan penyusunan atau penggambaran kembali tentang suatu hal. Poinnya, segala apa yang ada di media itu bukan merupakan realita yang dapat dipercayai begitu saja. Bahkan sekalipun konten berita (news) yg mengedepankan aktualitas dan fakta. Meskipun gambaran peristiwa yang disajikan mungkin nyata dan benar, tetapi arah opini dan argumen yg disampaikan, ini dapat menjadi suatu bentuk rekonstruksi yang bisa membentuk opini publik (public opinion). Apalagi kalau berbicara konten media entertainment seperti sinetron, ftv, kartun, dalam konteks program-program tersebebut, proses rekonstruksi akan lebih jelas karena ada alur cerita yang disampaikan dan umumnya merupakan gambaran kehidupan yang dekat dan terasa nyata bagi penonton.

 

Warna yang diberikan oleh rekonstruksi media ini sangat beragam. Rekonstruksi realita yang dilakukan oleh media bisa bersifat persuasif, provokatif, inspiratif, edukatif, maupun untuk hal-hal yang bersifat sangat negatif yaitu menyerang dan menjatuhkan pihak-pihak tertentu. Baik secara sadar maupun tidak sadar, rekonstruksi yg dilakukan media ini secara berproses akan masuk dan berpengaruh ke pola pikir, nilai-nilai, cara pandang, dan bahkan perilaku kita sebagai penggunanya. Dalam tahap yang ekstrem, kita bisa menjadi orang yang didikte oleh media. Kita menjadi sangat ketergantungan dengan media (kecanduan/addiction), sangat percaya pada media, sampai akhirnya kita memiliki keyakinan baru yang dibentuk dari hasil menonton/melihat apa yang ada di media. Hal ini disebut dengan realisasi teori kultivasi media yang dikemukakan oleh Gerbner. Meskipun dalam konteks penelitian yang dilakukan oleh Gerbner adalah spesifik pada media masa televisi. Dapat dikatakan bahwa media (televisi) telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesan tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya. (McQuail,1996).

 

Apa yang dapat dilakukan sebagai pengguna media?

Menghadapi sifat media yang penuh rekonstruksi dan baik buruk benar salahnya belum semua dapat dipertanggungjawabkan, maka kita sebagai pengguna memiliki kewajiban untuk tahu, paham, sadar, dan yakin bahwa kita bukanlah pengguna yang pasif. Selalu ada kesempatan untuk menjadi pengguna yang aktif dan cerdas. Caranya? Dengan menerapkan literasi media, minimal dimulai dari diri kita sendiri. Literasi media meliputi beberapa hal yaitu :

(1) Seleksi terhadap jenis media yang digunakan – menyesuaikan manfaat yg ditawarkan oleh media dengan kebutuhan diri- bukan hanya mengikuti pola perkembangan tren. (2) Kontrol waktu/ intensitas dalam mengakses media. (3) Menganalisis konten media (tidak hanya menikmati dan menerima apa apa yang ditayangkan media, melibatkan pemikiran kritis dan standar moral, terutama pada tayangan untuk anak dan remaja, termasuk di dalamnya kegiatan berpikir kritis dan mengkritik isi media). (4) Mengetahui,memahami, dan mengantisipasi dampak positif maupun negatif yang mungkin muncul dari penggunaan media (5) Menemukan cara/hal/kegiatan yg dapat menjadi alternatif dalam menyeimbangkan penggunaan media (menghindari kecanduan bermedia dan untuk meminimalisir dampak bagi gangguan fisik dan psikologis yg terlalu lama terpapar media).

Literasi media berdasarkan hasil kesepakatan yang dibuat dalam Konferensi Tingkat Tinggi yang membahas tentang Penanggulangan Dampak Negatif Media Massa (21st Literacy Summit, 2002), yaitu mencakup pula serangkaian hal sebagai berikut :

  • Literasi teknologi. Kemampuan memanfaatkan media baru seperti internet dan perangkat digital.
  • Literasi informasi. Kemampuan mengumpulkan, menyaring, mengorganisasi, mengevaluasi, dan membentuk opini dari informasi-informasi yang saling dipertukarkan melalui media.
  • Kreativitas media. Kemampuan untuk mencipta dan mendistribusikan kreasi melalui penggunaan positif media.
  • Tanggungjawab dan kompetensi sosial. Kemampuan untuk memperhitungkan konsekuensi-konsekuensi dalam menggunakan media serta bertanggungjawab atas kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan media.

Literasi media merupakan suatu proses kegiatan yang membutuhkan latihan berkelanjutan dalam perjalanannya. Literasi media juga bersifat dinamis yang akan terus menyesuaikan dengan perkembangan media teknologi informasi komunikasi serta perkembangan dari lintas generasi yang menjadi penggunanya. Maka, menjadi pengguna media harus selalu melibatkan kesadaran dan kesungguhan yang penuh dalam memahami dan mendayagunakan segenap potensi untuk berpikir, menyerap, dan mengambil apa-apa yang disajikan dalam media. Mari menjadi pengguna media yang aktif dan cerdas dengan literasi media!

 

REFERENSI :

Komisi Penyiaran Indonesia. (2011). Panduan Sosialisasi Literasi Media Televisi. Komisi Penyiaran Indonesia Pusat. Diakses melalui http://www.kpi.go.id/download/Newsletter/Buku%20LM.pdf

McQuail, Dennis. (1996). Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Penerbit Erlangga.

Potter, W. James. (2008). Media Literacy 4th Edition. University of California, Santa Barbara. Sage Publications : Los Angeles.

Sudarman, Paryati. (2008). Menulis di Media Massa. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

Komentar

komentar